imajinasi dari gambar
Kubuka mataku perlahan. Kudapati tubuhku tak utuh. Sejenak memutar otak. Kuingat saat itu sekitar pukul 12 siang sepulangku mengais rejeki di jalan. Seperti biasa aku pulang kerumah sederhanaku di tepi jalur rel kereta api. Dengan langkah gontai aku lalui setapak demi setapak balokan rel kereta api. Dan dengan senyum mengembang, menjinjing sebungkus kresek hitam berisi sekilo beras dan empat butir telur ayam, aku pulang. Tanpa aku sadari dari arah belakang…tut..tut..tut kereta api kecepatan kencang menyerempet bagian kanan tubuhku dan…sekarang aku? Oh..Tuhan apa yang terjadi padaku ? aku Sukiman 42 tahun, istri Ratna dan ketiga buah hati kami Sapto, Satriyo, dan Edi. Ketiga buah hatinya tidak bersekolah secara formal. Tak punya pekerjaan tetap, hanya sebagai pemulung dan pekerja kasar. Kami sekeluarga merantau ke Jakarta, berusaha meningkatkan taraf hidup. Dari sebuah kampung kecil di Jawa Tengah. Hampir tiga tahun, menjalani kehidupan serba susah. Tak pernah terbesit untuk kembali lagi ke kampung halaman, habis tak ada biaya pulang. Melewati 3 kali lebaran tanpa mudik. Tanpa sungkem pada orang tua, terlihat durhaka, namun apa dikata. Inilah kehidupan. Menyebut dunia kejam itu tak sesuai, karena bukan dunia yang kejam. Sekarang dengan kondisi seperti ini, masih bisakah aku mencukupi kebutuhan keluarga kecilkku? Ucapnya dalam hati. Sukiman, kini bukan Sukiman yang dulu secara lahiriah. Namun semangat hidupnya masih sama, bahkan lebih.
Kemiskinan merajai bangsaku. Entah sejak kapan itu mulai terlihat. Namun, jelas terlihat perbedaannya. Sejak lengsernya rezim orde baru. Bangsa ini berubah. Kejahatan tak sungkan-sungkan diperlihatkan, pemerkosaan, penjarahan, dan paling parah kebutuhan pokok pun ikut melonjak. Pemimpin mulai berganti, bahkan belum usai jabatan. Belum sempat pula mengenal mentri-mentri yang berdasi rapi dan wangi masyarakat sudah lupa. Safari apa lagi yang akan dipertunjukkan untuk bangsa ini. Entahlah! Bagi masyarakat seperti Sukiman dan sejuta rekan-rekan yang senasib dengannya. Masa bodoh dengan kursi pemerintahan siapa yang akan mengelola. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana aku dan keluargaku bisa makan ? dan mengenyam pendidikan jika bisa. ”bapak aku lapar, aku ingin makan?” menyedihkan bukan. Hanya untuk makan saja harus memelas, mengganti air mata dengan nasi. Sukiman dan keluarganya juga rekan-rekan yang senasib dengannya, tinggal dirumah kardus tepi rel kereta api tepatnya di KA Gambir. Rumah penuh AC alami, tanpa pondasi kukuh, tanpa kamar mandi dan kasur empuk, itulah istana Sukiman. Jenuh di rumah, seolah seperti rekreasi di tepi pantai, Sukiman dan keluarga menggelar koran bekas dan tikar plastik, ditemani hembusan angin. Tertawa, bercanda, seolah tanpa beban mereka lakukan. Rekrekrekkkkrekrekk..rel kereta api bergetar. Imajinasi yang bagus bagi keluarga kecil ini mulai mereka mainkan. Potret kehidupan macam apa, untuk bangsa yang besar ini. Dalam buku saku UUD`45 pasal 34 tertulis ”fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” . kata ”dipelihara” hampir sama dengan dijaga, diibaratkan barang atau benda yang dijaga /dipelihara pasti akan lebih baik dan terlihat menarik bukan? Tapi, kenyataannya, untuk mendapat kartu askes saja masih susah. Pernah terlontar kalimat ”orang miskin, tidak boleh sakit”. Dimana pemerintah saat ini ? penambahan jumlah fakir miskin tak terelakkan. Apa tidak capek menghitung penambahan jumlah fakir miskin yang semakin banyak dari tahun ketahun. Tanpa ada realisasi yang jelas.. Sebagai negara yang sedang berkembang. Tidak terpikirkankah oleh pemerintah dan jajarannya untuk lebih sering melihat ke ”bawah”. Bukan menunduk. Memutar memori saat hiruk pikuk pemilihan presiden, gubernur, bupati dan lain-lain. Hujan janji-janji hampir membanjiri sudut kota Jakarta bahkan sampai ke pelosok terpencil.Sukiman adalah satu dari banyaknya potret kehidupan yang tragis. Tak mengeluh, rasanya tidak mungkin. Lapangan kerja makin sempit, seperti celana manusia berdasi, wangi dan hanya bisa berdiskusi tanpa realisasi yang kesempitan karena lemak berlebih ditubuhnya. Lemak rakyat. Lemak rakyat. Dan mungkin lemak Sukiman juga.
Pagi ini seperti biasa, Sukiman mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Karena tak punya kamar mandi. Sukiman bolak-balik mengusumg dua ember air, hanya dua meter dari istana kardusnya. Dengan kondisi tak seperti dulu lagi. Kebutuhan rumah terpenuhi. Tinggal memandikan ketiga anaknya. Jernih? Tidak, cuma banyu kali (air sungai). Entah berapa banyak kuman yang menempel ditubuhnya. tak peduli. Aku hanya ingin mandi. Hanya ingin terlihat lebih bersih, sebelum kembali lagi kotor oleh peluh keringat bauku. Ketidaksempurnaan bukan halangan untuk tetap bertahan hidup dengan menjadi seorang pemulung. Harapan untuk membahagiaan keluarga kecilnya terus diusahakan Sukiman. Terik matahari siang itu, membuatnya menghentikan sejenak pekerjaannya. Demonstrasi dan orasi mahasiswa menjadi hiburan disela istirahatnya. ”turunkan harga bahan pokok, turunkan SBY-JK”, ”janjimu hanya omong kosong, turunkan SBY-Kalla, turunkan” ”lihatlah kelaparan, penderitaan rakyat di mana-mana”. Teriak mahasiswa yang nampak gagah dengan jas kebanggaannya. Terus berteriak disepanjang jalan raya (bundaran HI sebagai tempat favorit untuk berdemo), dengan berjubel tulisan eceman diatas kertas putih, di samping demo teriakan, nampak sebagaian mahasiswa berorasi seorang kumuh dan kotor dijerat lehernya dengan lilitan kertas-kertas tagihan pajak, listrik, serta kertas tagihan lainnya yang dianggap sangat membebani rakyat, dengan memegang perut yang dibuat buncit Seolah meminta belas kasihan. Ironis sekali. Masih terus berdemo, entah sampai kapan demo akan berlanjut. Bagi Sukiman,tidak ada arti penting dari demo mahasiswa, toh pemerintah tetap cuek bebek, bila merespon itu juga untuk membubarkan demo. Sebagai pemulung hal itu memberi keuntungan. ”anak,istriku makan hari ini” batin Sukiman.
Ibu kota mulai sesak. Bukan hanya karena banyaknya bangunan yang mulai didirikan. Melainkan urbanisasi yang semakin tak terkontrol. Semakin menambah deretan fakir miskin yang akan ”dipelihara” negara. Hanya dipelihara. Di istana kardusnya, anak, istri Sukiman menunggu, dengan harap sang bapak, pahlawan mereka pulang dengan oleh-oleh ditangannya. Dan harapan mereka terkabul.