Archive for March, 2008

March 30, 2008

 

KREATIF = GILA ?

Kata-kata kreatif tidak asing di telinga bahkan sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika ingin melakukan sesuatu atau merencanakan sesuatu. Dalam kenyataannya kreatif memang sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi untuk mengungkapkan ide-idenya dengan baik, sehingga tercipta sebuah karya kreatif. Kreatif membutuhkan suatu kesabaran dan tim yang tangguh agar terciptanya suatu karya. Dalam sebuah perencanaan atau hal apapun membutuhkan ide yang kreatif. Perencanaan yang memang diharuskan muncul kreatifitas pada sekelompok orang atau individu yang ada di dalamnya. Adanya kreatif dalam sebuah perencanaan membuat suatu acara/program lebih menarik dan diminati oleh audiens.

Misalkan dalam pembuatan sebuah acara, pembawa acara dituntut untuk bisa menguasai materi yang akan dibahas lain halnya dengan pembawa acara yang kurang cerdas serta tidak bisa membangun suasana dan berinteraktif dengan audiens, acara tersebut akan memiliki kekurangan. Sebuah program acara akan lebih terbantu oleh ide-ide kreatif dari sebuah tim di balik layar. Tanpa adanya ide kreatif dalam suatu program acara maka akan sangat membosankan dan tidak menarik untuk dilihat bahkan ditinggalkan oleh audiens. Rating acara menurun bahkan kemungkinan akan ditarik dari peredarannya. Tugas tim-tim kreatif inilah yang harus bekerja lebih keras untuk membuat program acara lebih menarik dan lain dari program yang sudah ada. Contohnya pada progam acara Empat Mata, Ceriwis, memiliki tim kreatif yang bagus maka acara tersebut memiliki rating yang tinggi bahkan digemari oleh seluruh lapisan masyarakat dan masih bertahan sampai sekarang.

Kreatif tidak hanya ide atau gagasan tapi juga berbentuk suatu kegiatan yang akan dilakukan oleh sebuah tim atau orang yang akan menuangkan ide dalam suatu kegiatan tersebut. Kadang ide itu muncul tanpa diduga dan direncanakan tapi juga membutuhkan pemikiran yang panjang hingga memakan banyak waktu. Sehingga muncul ide-ide yang segar bahkan tidak masuk akal bahkan bisa dibilang ide yang sangat gila. Apakah kreatif = gila? Mungkin saja ya karena kreatif itu dituntut untuk lebih mempunyai daya imajinasi yang tinggi bahkan harus mengorbankan sesuatu demi kelancaran program acara atau dalam sebuah kegiatan. Apa saja yang terlintas di kepala secara tidak terduga akan langsung dituangkan dalam suatu karya. Biasanya ide-ide itu jauh dari kenyataan dan kadang mustahil untuk diwujudkan bahkan seperti mimpi tapi juga bisa menjadi sangat luar biasa. Ide-ide gila yang dibutuhkan oleh tim kreatif harus memiliki motivasi yang tinggi guna memajukan suatu program acara atau kegiatan. Ide yang kreatif muncul ketika perencanaan dengan konsep yang sedemikian rupa dibuat oleh tim yang solid dan memiliki pemikiran yang maju. Di media massa membutuhkan tim kreatif untuk membuat suatu program acara agar lebih bervariatif. Di media persaingan semakin ketat jika tim kreatif tidak memiliki ide atau kreatifitas dari tim didalamnya maka akan tertinggal dan tidak diminati lagi oleh audiensnya. Orang-orang berjiwa muda disinyalir memiliki ide-ide yang lebih kreatif bahkan gila.

 

Alhamdulillah, Abis Sahur Aku Bisa Ngetik Lagi

March 25, 2008

Sekitar jam ini.

 

Alhamdulillah, abis sahur aku bisa ngetik lagi di jam ini. Masih dikasih kesempatan bagus buat puasa lagi. Berita bagus ini aku dapet dari do’a tiap hari. Kalo tiap sahur kayak gini ya lumayan juga buat cicil-cicil. Tapi buat yang ini nggak pake bunga kok. Cuma pake jujur. Hasilnya nanti bakal mujur. He… Lebaran juga belum tentu aku balik kampung. Aku nggak punya kampung. Aku cuman punya bingung. Dan lagi-lagi : he…

Imsak hai! Tarawih halo! Jemput bintang sekarang, mumpung masih minum angin malam. Jangan ntar-ntar. Takutnya nanti mereka gelagapan. Sebelumnya matikan dulu jam weker sahurmu. Jangan baru bunyi, malah kamu baru ke sini. Bau ramadhan nggigit angkasaku, dan juga-mu. Sebenernya : tak maksud aku bilang gitu. Karena sebenernya lagi : aku cuma gak tau. Apa mulutku musti gagu buat bilang kayak gitu?

Ah! Nggak jelas.

 

Kemarin pagi, aku ketemu dengan sebatang pulau.

Nampaknya dia sudah gendut dari yang

kulihat dulu.

Dari selaput kirinya meleleh seujung daratan.

Terjal tapi aman.

Sesampai pertemuanku itu,

kebetulan penobatan kepala suku berjalan

sentausa.

Dari udaranya, mereka punya logika

yang bagus buat mecahin perkara,

menghitung matematika bukan pakai hasta,

tapi pakai lupa.

Lama-lama moralku percaya dengan

loncatan kaki hatiku sendiri

aku pelan-pelan meninggalkan pulau logika itu.

Jujur asal jujur,

pingin aku tiruin lantas aku pamerin.

Sepertinya udah siap diedarkan,

dan tinggal dibikin judulnya.

Mungkin otak.

 

Sup Ayam

March 25, 2008

 

Sekitar jam ini.

 

Sup ayam kayak gini pantesnya di makan habis-habisan. Sambil dibolak-balik kubisnya, lubang-berlubang bekas gigitan ular besar. Bau-bau capekku masih beredar di kamar. Sepulangku dari suatu saat kemarin, adalah ketika kita mbaca buku asmara bab satu. Memang ketika itu masih bagian pendahuluan, yang mata-semata cuman hasil poto kopian. Dan sebagai hasil jiplakan.

Pak guru sebagai dosenku mengatakan, tinggal di klip aja pinggirnya, terus ya kita bawa pulang. Nah! Adalah ini yang udah di depanku : ragu. Katanya dia udah lama main-main di poto kopian itu. Capek kelihatan dari giginya. Maut mungkin bentar lagi akan menonjoknya. Seperti kata pak guru sebagai dosenku tadi, tinggal di simpan aja, terus disusun agenda buat pembakaran di kampus belakang, malam ntar.

 

Satu klik berbunyi di sini mouse

dan klik berbunyi tolong mouse,

masuk,

dan silakan.

Hal-hal ghoib menghitungku,

menyeringai tampak acuh.

Di kepala kutanam jutaan imajinasi,

yang kupikir nanti akan berhasil.

Sebalik kertas, berlembar tinta,

telah kutelan pahitnya.

Gejolak kian panas,

bersuhu kurang lebih memenuhi

materi sang matahari.

 

 

Aku Lagi di Jalan Dewasa

March 25, 2008

 

Sekitar jam ini.

 

Aku lagi di jalan dewasa. Blok cowok. Nomer ganteng. Rumah jatuh cinta. Ha…ha… Lagi, dua kali aku nulis : Aku lagi di jalan dewasa. Wajib kayaknya kalo jatuh cinta.

Dua taun suatu Adam tiba di hatiku. Di samping hatimu aku belajar. Menjadi rindu dari suatu waktu. Tiba pada waktu aku bertemu kamu. Di dua puluh tujuh malam Desember yang lalu. Sebukit indah durjana cinta : aku dan kamu saling mencinta. Cinta berkala, dan berkata apa aja. Tak perlu kata “La Yaw!”, apalagi “Anjing”. Dari jalan dewasa ini aku ingin nulis suatu cinta. Dari dia, Anda, dan mereka. Meski kayaknya aku cuma ngelangut aja.

Ha… ha…

 

Meninjau petang beruraikan kumal.

Lebak otak yang dangkal mabukkan gurauan.

Serasa lumpuh mengurai jalan, dan

pagi datang berjubelan.

Yang gemintang pijarkan silam.

Aku seperti mau mati saja.

Seketika itu sperma kau tandang ke

jantung hati yang lain,

muncratkan gilaku.

Sayang,

telunjukku akan menegur ingatmu,

dan tatkala aku berlari, sepi merintih.

Mungkin goyah yang tak sendu,

Rela menghempasmu dalam hangat biru.

 

 

 

Bukan Untuk Catatan dari Sebuah Awal

March 25, 2008

 

BUKAN UNTUK CATATAN DARI SEBUAH AWAL

 

Sekitar jam ini.

 

Gimana kalo aku mulai? Sedangkan aku kali ini lagi mo dewasa. Aku malu harus ngetik lembar-berlembar gurauan basi di atas kertas bermata A4. Apa wajib? Ada hukumnya? Kalo boleh ditimbang-timbang, dan dipikirin matang-matang, aneh juga. Ngapain susah payah diketik alat. Toh otak udah pintar jadi alat. Memori paling kuat. Dan tercepat.

Coba aja kali lain aku nyodorin otakku ke Penerbit Enggak Mau. Hasilnya tak. Coba aja lagi aku sodorin otakku ke Penerbit Ragu. Hasilnya masih pikir-pikir dulu. Coba aja lagi otak kutawarkan ke Penerbit Malu. Hasilnya gengsi, dan nanti dulu. Coba terus otakku menerus. Ke Penerbit Mau baru aku di buru.

Ah! Aku pause dulu aja. Aku takut terkenal, dan dilihat banyak orang. Tapi kayaknya aku seperti mo mati sendiri. Aku belajar jujur aja baru sekarang. Itupun mungkin lho. Baru mungkin.

Buat halaman malam ini, kayaknya ini dulu ya. Aku udah ngantuk. Besok aku mo kuliah pagi. Dan pagi sekali.

 

Sudut pandangku melunjak, ingin tuturkan segala tentangmu.

Aku dengan segala kekuranganku, akan terus berlagu, tanpa hiraukan dayung pilu.

Pengecut tak cukup hanya pengecut.

Begitu munafik, dan pikirannya yang dangkal, membikinku paham akan

berputarnya roda kepedihan.

Nyawa-nyawaku untung masih terkantongi.

Di separuh sisi otakku, aku karena masih pingin wisuda,

aku karena masih pingin nikah.

Cinta mengajariku untuk sulit mengatakannya.

Tapi, cinta jugalah yang mengajariku untuk melukis hidupnya.

Tangisku kian menjamur tunggumu.

Esok seakan obras malam, yang terasa hanyalah malam muda saja.

Sayang,

Dengarkan langkah swaraku mengiring semburat pelangi hatimu.

Tan Han Un dan Cerita Bapaknya

March 25, 2008

 

TAN HAN UN DAN CERITA BAPAKNYA

 

Tan Han Un. Dipanggilnya Tan. Kehilangan karakter sejati tentang Bapak. Bapak dengan segala definisi sudah hilang. Hilang semua acara tentang sejatinya Bapak. Sudah hilang.

Tan Han Un dan Bapak. Bapak tidak sama dengan Bapak yang lain. Yang lain Bapak pasti beda dengan Bapak yang satu ini. Yang satu ini adalah Bapak yang memang lain. Memang lain, tapi dulu Tan anggap Bapak itu baik. Bapak itu baik, tapi sekarang Bapak sudah tidak baik. Tidak baik karena Bapak sekarang menjadi monster yang tidak baik. Tidak baik sekali dan Bapak sekarang sulit Tan pahami. Tan pahami segala sebab. Sebab, bapak sudah lain. Sudah lain karena Bapak bukan sesuatu yang punya kebapakan lagi. Lagi-lagi Bapak sekarang sudah pintar menjelma menjadi air mata keseharian, air mata. Air mata Tan.

Tan Han Un sedang dengan Bapak. Bapak sekarang menjadi air mata yang asin. Asin sekali dan Tan sekarang bingung. Bingung karena Bapak sudah kehilangan jabatan. Jabatan dari posisi beliau, sampai posisi kowe.

Tan Han Un masih dengan Bapak. Bapak sudah menjadi air mata yang asin. Bapak sudah menjadi air mata yang asin. Bapak sudah menjadi air mata yang asin. Bapak sudah menjadi air mata yang asin. Bapak sudah menjadi air mata yang asin! Sekali. Tan tak sanggup menjilat ketika sendirinya menangis. Padahal, Tan hobi sekali menjilat air mata. Katanya, enak rasanya. Rasanya, kebanyakan garam. Pantas kalau Tan bilang sekarang asin. Pakai sekali. Yang menambahkannya cuma Bapak. Bapak yang bisa. Yang bisa dan yang pandai nambah garam.

Tan Han Un masih bersama Bapak. Bapak koki yang luar biasa. Luar biasa dan Bapak sekarang menjadi tulisan panjang. Tulisan panjang yang tentu saja panjangnya bukan kepalang. Sebab, Bapak pintar bikin memori atau kenangan. Kenangan yang jelek dan tidak bagus. Tidak bagus tapi tidak apa-apa.

Tan Han Un bersama Bapak. Bapak sudah mulai pandai menanam akar mental pada anak-anaknya. Bapak sebenarnya terlalu baik. Bapak sebenarnya terlalu baik. Bapak sebenarnya terlalu baik lho.

Tan Han Un sampai bingung milih bapak. Bapak adalah bukan Bapak. Adalah bukan Bapak Bapak. Bukan Bapak adalah Bapak. Bapak bukan Bapak adalah. Bapak adalah bukan Bapak.

Tan Han Un dan Bapaknya. Bapaknya lagi-lagi masih memasang gambar-gambar di pojok jalan menuju malioboro. Malioboro adalah kebosanan Tan. Tapi dia ternyata adalah bapak yang butuh pelit ketika tender melukisnya datang. Dan Tan ternyata lupa kalau pekerjaan itu butuh pelit. Butuh medhit. Kalau tidak begitu, tidak akan selesai nanti.

Tan Han Un dan Bapak. Bapak itu masih berjualan tangan di pojokan sana. Bapak cuma bisa nitih sepeda untuk melempar gumpalan nasi ke perut anak-anaknya. Bapak yang satu ini adalah begitu-begitu saja. Bapak ini bukan seperti bapak yang sudah-sudah. Bapak ini sedang galak. Sedang tidak bisa diganggu dan ditunggu.

Tan Han Un dan cerita Bapaknya. Tan sudah capek cerita. Tan mulai tidur pagi jam satu. Tan sudah selesai bercerita tentang malam yang tua. Suatu jarak merah antara malam tua dan selamat pagi dunia.

Tan Han oh Tan Han. Kaki malam kurang lebih sudah menginjak jam satu pagi. Tan selalu menghamburkan segala semoga dan percaya. Tan cuma sekedar lumpuh karena patriarkhal.

Tan Han Un. Bernyanyi dalam gurauan kecil sebelum tidur. Di sana Tan punya doa. Doa biar kemarin senang. Senang tanpa memulas blush on terlalu tebal. Tapi Tan terlalu sibuk memikirkan one experience dalam hidupnya. Kapan?

Sama KREATIF dengan GILA

March 16, 2008

Kreatifitas akan lebih muncul kalau ada trigger-nya. Jatuh cinta dan patah hati juga merupakan trigger kreatifitas. Kreatif adalah mampu memoles sesuatu yang pada mulanya terlihat biasa, menjadi luar biasa. Kreatif memang subjektif. Namun, sebuah sumber yang bisa memancarkan ide, sebenarnya lebih berfungsi sebagai media inspirasi, dan mungkin bukan kreatif yang sebenarnya. Adapun orang-orang yang bisa berimajinasi, merekalah yang kreatif, yang bisa menghasilkan gagasan-gagasan baru. Namun jika presenter dengan materi sederhana tersebut juga mengemas presentasinya sampai menghasilkan ide-ide baru yang belum pernah ada sebelumnya, maka dia kreatif, bahkan inovatif.

Kegilaan lebih dekat dengan inovatif, yang mirip dari sisi nyleneh-nya, tanpa menjanjikan manfaat apapun dari ide-idenya. Kadang dibutuhkan sebuah kreatifitas untuk membuat sebuah konsep. Tapi, tidak. Untuk membangun dan membuat sebuah konsep dibutuhkan suatu orang gila untuk membuatnya.

 

Kebolehan seseorang, yang menggunakan kemahiran dalam dirinya untuk diluncurkan di atas kertas dengan cara menulis atau melukis, sama dengan kreatif. Kreatif boleh dikaitkan dengan bagaimana berfikir. Jika seseorang itu dapat mengeluarkan ide yang ‘wow’, dan tak pernah terpikir oleh orang lain, maka idenya itu adalah ide kreatif. Kreatif takkan ada selagi tak muncul inspirasi.

 

Kreatif lahir dari kemahiran. Kemahiran terwujud kalau kita sering melakukannya. Biarpun berulang kali gagal, kita bangun kembali dengan semangat yang kokoh, berbekal ilmu baru untuk dipakai dan memperoleh kejayaan. Jatuh bangun itulah yang membuat kita mahir dalam suatu masalah. Tetapi inspirasi juga memainkan peranan penting untuk memotivasikan diri. Tanpa inspirasi manusia tak mampu membuat sesuatu.

 

Kreatif tidak cukup untuk menggambarkan ide. Tapi butuh rencana, pemikiran, dan pelaksanaan yang berani untuk melakukan. Jadi, yang dibutuhkan di sini adalah orang yang siap menjadi gila. Untuk mendapatkan sebuah ide, harus siap gila, menjadi orang gila dengan pemikiran yang sedikit brilliant.

 

Kreatif dan gila mempunyai rumus berupa pola-tulis-kontrol. Ketiga proses ini jadi satu dan mencapai klimaks pada kontrol. Boleh kreatif, boleh gila, tapi ingat kontrol. Tidak melanggar aturan umum dan kewajaran harus diikuti, agar tak menimbulkan rasa tidak suka orang lain. (Tan/05-18)