otak bodoh mengganyang pikiranmu dalam situasi kritis di bawah alam sadar
bahaya mengancam jiwamu kelak
aku takkan menegurmu untuk kedua kalinya
karena aku ternyata bukan apapun denganmu
dan ternyata kau bukan apa-apa tanpa seorang aku
pikirkan itu
otak bodoh mengganyang pikiranmu dalam situasi kritis di bawah alam sadar
bahaya mengancam jiwamu kelak
aku takkan menegurmu untuk kedua kalinya
karena aku ternyata bukan apapun denganmu
dan ternyata kau bukan apa-apa tanpa seorang aku
pikirkan itu
Kali itu arusnya tenang, air mengalir dari hulunya di merapi dan berhilir di laut selatan. Batu-batu kali seukuran kebo bertumpukan disana-sini mengiring sepanjang sungai, seakan-akan beranak pinak. Lumut-lumut hijau menempel di kulit batu, indah tapi juga menjijikkan. Ikan-ikan dengan warna yang berkilauan melenggak-lenggok, meloncat-loncat dengan lihainya. Semua terlihat jelas jika kita melihatnya dari atas, seperti melihat ke dalam akuarium yang baru dikuras. Dari sana terdengar suara kecipak-kecipak air, diterjang tubuh-tubuh yang mungil. Sesekali tawa anak-anak kecil menggema memenuhi suasana hening.
Di pinggiran kali itu rimbunan bambu diterpa angin pagi yang semilir, daun-daunnya saling bergesekan menimbulkan suara mendesis. Seorang lelaki berusia tiga puluhan terduduk di tepian kali sambil membasuh sisa-sisa busa sabun di tubuh satu dari tiga anaknya. Tubuh lelaki kurus legam, menghitam di bakar sinar matahari. Titik-titik air yang bergulir di dadanya mengkilat diterpa cerah cahaya pagi. Dia berteriak mengingatkan salah satu anaknya agar tidak berenang terlalu tengah di sungai itu. Selesai dengan si ragil, di panggilnya si anak mbarep yang sedang asyik berenang dan bercanda dengan si nomor dua. Lalu di suruhnya duduk berjongkok.
Dia ambil se-sachet sampo murahan seharga lima ratus rupiah, yang dibeli dengan berhutang, di toko kelontong milik tetangga samping rumah. Ini tanggal tua pikirnya, jadi sah-sah saja untuk menambah panjang baris-baris catatan kecil yang berisi seluruh daftar hutang-nya. Tetangganya cukup baik untuk tidak mengeluarkan gerutuan di depan lelaki itu saat dia datang terbungkuk-bungkuk dan cengar-cengir, hendak menimbun hutang lagi di tokonya. Si tetangga mengerti bahwa dengan keadaan fisik dan ekonomi si lelaki, sangat tidak sopan jika menghardiknya perihal kebiasaannya (yang menurut si tetangga amat sangat tidak menyenangkan) berhutang. Selama ini si tetangga juga bermurah hati hanya menggunjingkan kebiasaan si lelaki itu dengan tetangga-tetangganya yang lain. Toh, akhirnya sampai juga gunjingan tak sedap itu di telinga si lelaki. Dia hanya nyengir. Dilanjutkannya mengusap-usap kepala si mbarep hingga penuh busa sampo, lalu dibasuhnya sampai bersih.
Disudahinya ritual mandi pagi itu. Ritual itu satu-satunya mandi yang mereka jalani selama satu hari. Karena saat sore menjelang, biasanya hujan turun dengan derasnya. Air sungai akan meluap diiringi arus yang tiba-tiba mengganas menggulung benda-benda tak berdaya yang menghalanginya. Disuruh putra-putranya membasuh diri satu-persatu, dengan handuk satu-satunya yang mereka miliki. Lalu dimasukkannya sabun yang sudah setipis lidah, dan sebatang kayu siwak, oleh-oleh pak haji dari Tanah Suci, ke dalam gayung berwarna biru tua.
Handuk itu penuh lubang yang menganga, hingga cukup bagi tangan kita untuk masuk dengan leluasa. Lubang itu juga yang menyebabkan handuk itu cepat basah digunakan putra-putra si lelaki. Hingga saat dia membasuh badan dengan handuk itu, seperti tidak ada artinya. Sekedar formalitas saja, agar melegakan anak-anaknya yang mulai khawatir melihat tubuh bapaknya dipenuhi bercak-bercak putih, panu, bermotifkan gugusan pulau yang menyebar dari ujung kiri ke ujung kanan tubuhnya. Dilipatnya handuk itu dan dia segera berambus dari sungai.
Tubuhnya terserok-serok menyusuri jalan setapak, dia berjalan hanya dibantu kaki dan tangan sebelah kanannya. Yang sebelah lagi, sudah lama hilang diterjang si kuda besi yang sedianya akan mengantarnya ke tanah rantau. Anak-anaknya hanya membantunya saat akan menaiki tangga, tidak berani mereka menolong lebih dari itu. Takut didamprat ayahnya, karena si ayah menganggap hal itu sebagai sebuah tanda ketidakmampuan.
Ya, lelaki itu percaya bahwa manusia adalah mahkluk yang takdirnya untuk berproses dan saling melengkapi. Berproses untuk dirinya sendiri sebagai mahkluk individual yang egoistik dan demi kebaikan dirinya. Saling melengkapi dengan manusia lainnya sebagai mahkluk sosial, dimana semua takkan menjadi mudah jika dia hanya hidup seorang diri. Contohnya adalah berhutang pada si tetangga yang menurutnya baik hati itu tadi.
Di pagi yang perlahan sudah merayap menjadi siang itu. Dia terserok-serok menghantar tubuhnya kembali ke rumah. Ditantangnya terik matahari yang menambah legam kulitnya sekaligus menyuburkan panu-panunya. Seperti kata sang biduan Vince Neill dan band-nya Motley Crue, I`m On My Way… I`m On My Way… Home Sweet Home….. Sejauh apapun manusia itu berjalan atau berproses, pada akhirnya rumah adalah pemberhentian terakhir mereka (atau minimal yang diidam-idamkan). Dan berharap semoga manusia lainnya sudi meneruskan proses itu.
*Tulisan ini bisa juga dilihat di arakabangan.wordpress.com
Prolog
Garden party held today,
Invites call the debts to play.
Social climbers polish ladders,
Wayward sons once again have fathers.
Edgy eggs and queing cumbers,
Rudely wakened from their slumber,
Time has come again for slaughter,
On the lawns by still ‘cam’ waters….
(“Garden Party”, performed & Composed by MARILLION)
Pesta sudah dimulai, Rie. Manusia-manusia di kampus mulai kebingungan mencari tempatnya, mencoba meraba-raba statusnya, dan mengira-ngira setinggi apa prestisenya. Orang-orang yang dulunya liar, pun kini sudah memiliki panutan. Kalau kamu pernah melihat film berjudul Killing Fields, mungkin nanti akan seperti itu keadaannya. Bedanya, yang akan kita lihat hanya pembantaian antar teman ataupun kawan.
Menyedihkan, saat mereka tinggal selangkah dari menemukan jati diri. Akhirnya tumbang setelah terawai oleh hipokrisi. Yang lebih memasygulkan lagi, para hipokrit itu bepumpun menjadi satu wadah. Kau tahu Rie, apa lagu yang akan mereka nyanyikan? Mereka yang menganggap dirinya bahadur itu?
I am your battle priest, show me allegiance. I am your battle priest, pledge to me defiance. Suffer my pretty warrior, suffer my fallen child. The time has come to conquer and, i`ll provide your end…. We march!!!* (“Market Square Heroes”, preformed & composed by MARILLION)
I. Ribang
Sudah lama, sejak terakhir aku bertemu kamu. Aku yakin, sedikit banyak alterasi terjadi pada dirimu. Kita manusia adalah penganut renaisans sejati bukan? Tidak ada yang bisa menyangkal itu kurasa. Apakah manusia akan mengingkari proses? Akan sangat munafik jika tidak bisa menerimanya.
Apa kabarmu kali ini? Apakah dirimu masih setia menata serpihan-serpihan teka-teki duniamu? Apa kau sadar, Rie, serpihan yang kau coba untuk rapikan itu akan selalu membidas. Ke atas dan ke bawah. Tak akan pernah berhenti berfluktuasi mengiringi jalannya sang waktu.
Kau mafhum akan kehadiran sang waktu bukan? Takutlah padanya, karena dia tidak akan menunggu manusia yang masih gemar hidup di masa lalu. Masa di mana tidak ada waktu. Masa yang sunyi, tak bernyawa, hanya dipenuhi bahana kesedihan pun tawa-tawa gembira. Masa lalu, Rie, akan selalu berakhir menjadi histeria, seindah apapun wujudnya, sesyahdu apapun melodinya.
Lalu apa guna manusia merindu? Apakah dengan merindu manusia akan menjadi munafik? Tidak Rie, itu hanya wujud afeksi manusia pada seseorang yang dikasihinya, dicintainya. Manusia yang sedang dirundung keinginan untuk membagi cintanya. Dan kurasa itu cukup untuk menjelaskan pada kompanyon-kompanyonku mengapa pelupuk mataku menghitam. Terlalu sering terjaga sehingga jarang terlelap.
When we touch, I just lost my self control. A sad sensation I can`t hide. To love Is easy, it ain`t easy to walk away. I keep the faith & there`s a reason why. No need to worry, no need to turn away, cause it don`t matter.. anyway….. I miss you in a heartbeat, I miss you right away, because it ain`t love if it don`t feel that way…. (“I miss you in a heartbeat”, performed & composed by Def Leppard)
II. Loyalitas & Komitmen
Dari dinding-dinding kamarku kadang terdengar suara-suara penuh tanya. Suara lolongan anjing pun terasa seperti requiem, menyambut kedatangan peri-peri malam. Semua menemani keterjagaanku, memandangi cakrawala hitam penuh gemintang dengan kirananya yang berbinar mungil.
Tapi saat aku bertanya pada mereka, untuk apa aku terlahirkan ke dunia ini? Mereka terdiam, tanpa suara. Tidak pun desisan nyamuk yang rutin mengganggu tidur, yang kurasa sudah jarang terjadi akhir-akhir ini. Bahkan aku tidak merasakan jemariku melepuh tersulut bara sigaret yang semakin memendek.
Dalam kesunyian aku merasa takut. Dalam keheningan aku merindu. Buaian-buaian manja. Sandungan-sandungan penuh kasih sayang. Dari mereka-mereka yang berada di lingkar terdalam hidupku. Mereka-mereka yang pantas kuhargai dan kusanjung. Yang bahkan aku rela menyerahkan nyawaku, demi melihat senyum kebahagiaan tersungging di wajah mereka masing-masing. Mereka-mereka yang dimana kuletakkan loyalitas dan komitmenku.
Dari Ayahku aku mendapatkan keteguhan hati dan sifat keras kepalaku. Hal itu yang membuatku mampu menentukan sikap. Pada Ibuku aku bisa bermanja-manja menikmati hangat kasih sayangnya yang tak terbatas. Darinya aku diwarisi rasa cinta. Demi adik-adikku aku sanggup belajar untuk mencintai dan menjaga keseimbangan keluargaku. Karena keluarga Rie, asal-muasal kasih sayang itu. Dan semua didapat tanpa pamrih.
Kompanyon-kompanyonku Rie, tanpa mereka mungkin aku tidak akan pernah belajar menerima kenyataan. Kata-kata mereka, caci-maki mereka, itulah penjelmaan kasih sayang mereka padaku. Hanya mereka yang berhak menampar mukaku. Tamparan yang akan menjagaku sebelum tenggelam terlalu dalam menuju keterpurukan. Kompanyon-kompanyonkulah penjaga sejati bagi diriku. Begitu juga diriku bagi mereka.
Dan yang terakhir, juga paling berharga dalam hidupku. Seseorang yang bersedia dengan ikhlas menyambut harapanku. Harapan untuk berbagi cinta denganku. Padanya aku akan memberikan separuh hatiku. Deminya aku akan mengakhiri semua pertanyaan-pertanyaanku. Karena aku yakin darinya aku menemukan jawaban-jawabanku. Sekadar dengan melihat ruku`nya, sujudnya aku merasa nyata. Kalaupun itu yang disebut cahaya, mungkin aku bisa mempercayainya. Dialah tujuan hidupku.
Kurasa sudah tidak perlu kujelaskan lebih lanjut lagi, pada siapa aku berharap akan kuberikan loyalitas dan komitmenku yang ketiga. Dengan bertingkah laku seperti ini padamu, kupikir sudah amat sangat jelas semua faal itu kutujukan padamu. Ya, hanya untuk kamu Rie.
III. Epilog
Pereka cipta bahkan tidak bisa menjelaskan semua afeksi yang kutujukan padamu. Komposisi-komposisi berliku yang membawaku pada kesadaran saat ini. Rona-rona nurani yang semakin cemerlang. Semua terjadi bagai lantunan staccato irama-irama kehidupan. Menusuk tepat di sentral detak-detak nadi yang menghidupi manusia.
Mungkin akan lebih bijak jika kau tidak mencoba untuk mengerti alasanku bertindak seperti ini. Aku ini bebal pada kenyataan yang kini sudah terhampar jelas di hadapanku. Perlukah kita membangun ikrar dalam keadaan ini? Semua ada di tanganmu Rie. Karena kaulah yang menyulut api ini.
I’m gonna play your game
I wanna play with fire
I want to breathe your air
Baby, gonna take you there
If you lay your cards on the table
I’ll lay my love on the line
Till you’re mine
I just happen to be a man
And you happen to be a woman
And we happen to be together
Try to stop this thing comin’
Stand up, kick love into motion
Take a little love and shake it all around, stand up
Stand up, kick love into motion
Take me in your arms and throw me to the ground
Down to the ground, baby come on
Stand up, stand up for love
You couldn’t get it much better
You never had it so good
Stand up together
And when you’re ready to
You’re gonna get what you should
Little by little
Like a fine wine
My love is like a motor
Runnin’ all the time
Step by step
Easy and slow
On the stairway to heaven
What a way to go
( “Stand Up (Kick Love Into Motion)” performed & Composed by Def Leppard )
9 – 12 – 2007
Rie, Aku tadi siang melancong ke pantai pelelangan ikan, bersama kawan – kawan. Ramai orang disana, berlalu – lalang, bersenda – gurau dan bercengkerama. Pasar ikan penuh sesak orang tawar- menawar mencari harga yang tepat. Sementara yang ditawar sudah terbujur kaku dengan mata melotot, dingin. Hanya bau amisnya yang tertinggal. Entah berapa kilo ikan yang kuhabiskan sore itu bersama para kompanyonku. Eh, lucu juga kalau kupikir, pak nelayan bersusah payah semalam suntuk begadang mencari ikan di laut lepas. Sementara angin selatan bertiup dengan keji-nya menembusi tubuh – tubuh rapuh dan legam itu. Kita hanya tinggal menikmati hasil tangkapan jala mereka sambil duduk dan bersenda – gurau. Kalau saja aku bisa ikut merasakan ikhtiar mereka di laut, mungkin nikmatnya akan menjadi berlipat – lipat tak terbayangkan. Seperti saat aku mengumpulkan keberanian untuk mengajakmu keluar hari sabtu kemarin. Hei, aku bisa bangun pagi hari itu…..
Setelah perutku ini kenyang penuh ikan aku mengimbit ke pinggir pantai. Aku rebahkan diriku di ujung dalam sampan nelayan yang asak dengan bau amis ikan dan keringat. Tahu tidak Rie, matahari sedang tersipu malu dibalik awan tebal yang menggulung di langit. Siang itu hanya tersisa angin laut yang dingin, walau tidak sedingin di waktu malam. Mataku terpejam, sementara imajiku mendendangkan lagu “Babe” dari STYX yang kau putar sore itu di kamarku. Seolah – olah lirik lagu itu mengangankan ada dirimu disini. Egoiskah kalau seandainya aku berharap dirimu seperti itu juga?… Kau masih ingat si Angga Rie?. Dia sedang berlarian bertelanjang kaki kesana kemari saat itu. Dia melompati sampan – sampan nelayan yang berjajar tidak begitu rapi dengan lincahnya. Kakinya meninggalkan jejak – jejak mungil di pasir pantai yang penuh bertebaran sampah dengan berbagai macam warna – warninya. Kuamati terus dirinya, senyumnya tidak pernah berhenti mengembang seperti langkah kecil kakinya yang seperti melaju tanpa akhir. Dia bebas Rie.
Aku keluar dari sampan itu, lalu berdiri diatas pasir yang lembut dan rapuh ditimpa tubuhku. Aku ratakan pasir yang bergelombang tak teratur di bawah kakiku. Setelah kurasa cukup, aku mengambil setangkai ranting kering dan kuruncingkan ujungnya. Lalu aku mengukir namamu di bagian atas, sedang dibawahnya kuukir namaku sendiri. Di tengah tulisan tadi kugambar hati. Sesimpul senyum mengembang di bibirku, aku merasa bagaikan seorang anak kecil yang baru mengalami afeksi untuk pertama kalinya. Aku sendiri bingung, apa aku ini masih kanak – kanak di dalam hatiku? Tapi bukankah kita semua anak dan budak dari kehidupan? Kita ini budak Rie, tapi budak yang merdeka. Budak yang bebas untuk menentukan hidup seperti apa yang akan kita masing – masing hambakan. Jangan sampai kita menjadi munafik yang hanya bisa menjiplak, ibarat seonggok tubuh tak berjiwa.
Langit sudah mulai agak gelap, lembayung perlahan – lahan mulai padam di ufuk barat. Sang mega meneteskan air sedikit – sedikit. Kami berlalu dari pesisir menuju lereng merapi. Holden merah tua itu melaju tersendat – sendat didera hujan. Airnya menetes setitik – setitik masuk ke dalam mobil. Aku mulai lukiskan lagi apa yang aku ukir tadi di pasir pantai, tapi kali ini di batinku. Karena aku yakin, entah air hujan atau ombak pasang pasti telah mengikis habis ukiran yang kubuat tadi. Dan aku tidak ingin itu menjadi pudar begitu saja. Sambil kucoba pelan – pelan membunuh hasrat untuk meminta imbalan, kalaupun bisa. Di luar hujan masih saja deras, orang – orang menepi, berlindung di bawah atap di pinggir jalan. Dari radio sayup – sayup mengalun lagu dari YES, kusulut sebatang sigaret lalu kuhisap dan kuhembus pelan, datar, biasa saja…….. (9.0.1.2.5)
If ever I needed someone,
You were there when I needed you.
You save me from falling,
Save me from falling.
I`m so in love with you…..
(Final Eyes, written by: Trevor Rabin, Tony Kaye, Jon Anderson & Chris Squire. Performed by:YES)
*Inspired by Pramoedya Ananta Toer Novel.
PS: #Tulisan ini cocok dinikmati sambil mendengarkan beberapa rekomendasi lagu dibawah ini :
1. YES – Final Eyes
2. Marillion – No One Can
3. Van Halen – Love Walks In
4. STYX – Babe
5. Slaughter – You Are The One
6. Skid Row – I Remember You
7. Warrant – I Saw Red
8. Bad English – When I See You Smile
9. Soendari Soekotjo – Nandang Wuyung
10. Dashboard Convensional – Vindicated
Pak Budi sedang flu. Tadi sore ia SMS padaku kalau batuk menyiksa tenggorokan.
Malam selalu akrab sebagai teman. Aku sengaja bikin janji dengannya kalau aku mau telpon sepulang ia kerja.
“Halo. Wis mulih rung?”
“Eeem… Aku isih dolan nggon kancaku. Wetan kampusmu.”
“Oo…”
“Yo mengko yo. Rodo mbengi.”
“Yoh.”
Tut tut tut tut…
Daerah sekujur badanku terasa langsung berhenti mengalir. Pak Budi katanya sedang sakit, malah bandel saja. Tapi memang seperti itulah ia, pak Budi.
Aku rindu menatap kulit gelap itu. Selepas hujan malam minggu itu, pak Budi seolah menjadi wujud yang patut aku buru. Pak Budi menjadi the most wanted.
Rombongan imajinasi bergerilya dalam mimpiku. Aku ingin mencintainya seperti flu yang dirasakannya. Aku tunggu pertemuan kita dalam sabtu ke dua puluh enam.
Senja cerah itu membakar sisi kiri kepala pak Budi. Silau membuatku malas menatap wajahnya. Sisa-sisa keringat kecil di sudut keningku menjadi saksi atas jalan-jalan seharian tadi. Pak Budi today off.
“Sesuai tujuan?”
“Manut wae aku.”
“Koq manut wae. Gah!”
“Aku neng ngendi wae gelem, angger karo kowe.”
“A…mboh.”
Pak Budi hari ini tampil beda dengan kaos coklatnya. Aku suka. Biasanya baju yang kemarin-kemarin saja. Aku harap kencanku besok dia pakai kaos yang lain lagi. Bosan sih liat yang itu-itu saja. Padahal aku selalu berusaha tampil cantik di depannya.
Belanja di swalayan grosir adalah tujuan kami. Beli jeruk oranye manis satu kilo, wafer murah dua bungkus, dua buku tulis, pensil dan pulpen. Aku heran melihat pak Budi. Tiap kita belanja, yang dia tuju adalah deretan perkakas rumah. Kumaklumi, sebentar lagi ia mau bangun rumah.
“Omah nggo kowe nduk,” katanya.
Kalau membayangkan fantasi masa depanku bersamanya, aku pikir itu adalah hal konyol. Tak habis pikir, aku. Bisa-bisanya aku ketemu pak Budi, sampai nasibku kayak begini. Tiba-tiba saja aku harus … Ah! Sebenarnya aku tak mau! Tapi apa mau dikata. Tinggal tunggu tanggal mainnya.
”Aku suka liat bibirmu”
“Kenapa?”
“Ora.”
“Ah yo sokor.”
Dan tiba-tiba senja cerah itu membakar sisi kiri kepala pak Budi. Silau membuatku malas menatap wajahnya. Sisa-sisa keringat kecil di sudut keningku menjadi saksi atas jalan-jalan seharian tadi. Pak Budi today off.
Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi kutolong ibu
Membersihkan tempat tidurku
Adzan subuh menggema merdu. Ibu membangunkanku dari tidur nyenyak delapan jam. Setelah shalat subuh kujalankan, aku tidur lagi. Jam enam pagi ibu membangunkanku bersiap ke sekolah. Di kamar, tergantung seragam dan dasi yang telah diseterika rapi. Sepatu hitam yang sudah disemir bagus dan kaos kaki putih sudah siap di sudut kamar. Setelah mandi, ibu membantu memakaikan aku seragam. Rambutku disisir rapi. Kadang aku heran, bisa-bisanya ibu memberikan pelayanan yahud.
Sejak kecilku diasuh oleh ayah ibu
Tak pernah dia mengeluh malam ku dijaga
Pesan dari ibu guru kuingat selalu
Doakanlah orangtua biar masuk surga
Waktu itu adalah siang terik. Aku masih setia bermain dengan Heri. Tetangga kampung belakang sekaligus teman sekelas. Aku tatap Heri yang sedang meneguk segelas susu. Aku bisa merasakan betapa nikmatnya susu itu, melihat cara Heri minum yang berselera.
“Enak, Her?” aku bertanya. Heri tak menjawab. Cuma matanya merem melek keenakan. Setelah tegukan terakhir, ia menjilati bibirnya.
“Hmm… Syedaaap…” kata Heri. Aku menelan ludah. Ingin sekali rasanya aku merasakan susu yang dinikmati Heri.
“Yuk, ah. Aku harus pulang. Mo’ mandi.” Heri berlari meninggalkanku. Anak itu masuk ke rumahnya. Aku menatap Heri hilang di rumah besar bercat putih itu. Lalu aku pulang. Ibu sudah menunggu di rumah.
Aku memperhatikan ibu yang sedang menguleni adonan untuk pisang goreng. Kelihatan capek. Tadi pagi ibu mencuci banyak sekali. Dan siangnya harus menyeterika. Habis sholat Ashar, ibu langsung membuat adonan itu.
“Kenapa, le? Kok tidak biasanya memperhatikan ibu seperti itu?” Tiba-tiba ibu bertanya. Aku tersipu-sipu.
“Bu, kalau aku minta sesuatu boleh nggak?” Akhirnya aku menjawab. Ibu menghentikan gerakan tangannya mencelupkan pisang ke adonan tepung. Ibu heran, tidak biasanya aku minta sesuatu. Walaupun baru berumur sembilan tahun, aku mengerti betapa susahnya kehidupan kami.
“Kamu mau minta apa?” Ibu bertanya setelah diam sejenak.
“Aku pingin minum susu seperti Heri.” Ibu menghela napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. Anak terakhir dari empat bersaudara minta dibelikan segelas susu seperti temannya. Sebuah permintaan yang wajar. Dan memang sudah seharusnya anak sebesar aku selalu minum susu tiap hari. Tapi apa dayanya?
“Bu, bisa kan aku mendapat segelas susu? Nanti aku akan lebih giat membantu ibu. Bisa ya, bu?” Aku berkata penuh harap. Ibu tidak tega untuk mengecewakanku. Anaknya tidak pernah minta macam-macam selama ini. Aku selalu menerima apa adanya. Sekarang begitu besar keinginanku sampai meminta kepada ibu. Akhirnya ibu cuma bisa mengangguk dalam diam. Mata wanita itu kini semakin berkabut melihat sinar kebahagiaan di mata anaknya.
“Terima kasih, bu. Sekarang aku mau siap-siap menjajakan gorengan ini. Nanti aku terus ngaji ke masjid, ya bu.”
Lusanya, aku bergegas mencari Heri untuk bermain dan memamerkan susu pemberian ibu.
“Lihat, Her. Sekarang aku juga bisa minum susu seperti kamu.” Dengan bangga aku perlihatkan segelas susu yang diberikan ibu barusan, kepada Heri. Lalu dengan gaya persis Heri, aku teguk susu itu dengan nikmat, Heri menatap dengan iri. Sepertinya susu yang kuminum lebih nikmat daripada susu yang biasa Heri minum.
“Enak?” Heri bertanya meyakinkanku. Aku mengangguk. Aku mengelap sisa-sisa susu di bibirku sebelum menjawab.
“H m m m m m . . . syeeeedaaaaaaap….”
Mulai saat itu aku menjadi anak paling bahagia di dunia. Aku lebih akrab dengan ibu, kadang juga dengan bapak. Tapi bapak sudah sepuh, aku jadi tidak berani minta macam-macam. Cuma sama ibu saja.
Heri sekarang masih saja sibuk mencariku walaupun kami sudah beda sekolah. Kami sudah SMA. Aku juga masih saja sibuk membantu ibu. Biaya sekolah tidak memberatkan ibu. Aku mendapat beasiswa, katanya aku pandai. Setahuku sih aku ya begini-begini saja. Tidak ada yang istimewa dariku. Ya lumayanlah, walaupun begitu aku harus selalu membantu keluarga. Kakak sulung laki-lakiku sudah bekerja, dua kakak perempuanku yang kembar juga sudah kerja, aku sebentar lagi menempuh ujian nasional dan harus lulus.
Kini kita telah dewasa
Hati ibu mesti dijaga
Jangan jadi anak durhaka
Kasihnya ibu membawa ke surga
Hari berganti bulan dan tahun berganti. Aku beranjak dewasa, ibu menuju masa-masa perak rambutnya. Sekarang aku sudah kerja. Tapi bukan berarti ibu tak punya arti. Saat pulang kantor, ia akan setia mendengar kisah suka dan dukaku. Emosinya akan terbawa bila mendengar kisahku. Kalau malam tiba, tepat sekitar sepertiga malam percikan air muka sujud dalam tahajud akan membasahi raganya. Aku yakin inilah obat kesuksesan kami selama ini.
Aku, Brigadir Budi Santosa. Dilahirkan dua puluh delapan tahun lalu, hidup dalam empat bersaudara. Tahun depan aku melaksanakan setengah dien dalam akhir 2009. Aku sering menyerahkan sejumlah gajiku untuk ibu. Sayup kudengar kisah kenangan kecil bersama Heri dari bibir tipisnya. Ibu tahu benar bahwa susu yang diberikan pada anaknya bukanlah susu biasa. Ibu cuma bisa berharap, anaknya tetap bahagia walau hanya dengan susu tajin.
Tiiit….
“Tante, kita lg otw ke Jogja nich, palingan bsk pagi mpe Jogja.
Kita tidur di kamar tengah aja. Oya, ni I’am ma de’ Nana lagi nonton Tom and Jerry jadinya pada diem deh…gak bikin ulah.” (Message sent from : Bunda I’am)
Ugh…hari ni ada tugas buatku yakni beresin kamar tengah buat keponakan tersayang.
Abis itu, pasti mama mulai kelabakan masak-masak buat nyambut tamu agung dari Jakarta. Hari yang melelahkan…
Dua keponakanku itu memang super duper hyperaktif. Tapi, mereka adalah cucu kesayangan dari dua kubu keluarga. (Ya iyalah… Mama-Papanya aja sama-sama anak pertama.).
Dua keponakanku itu namanya Ilham Danu Rizal (3,5) dan Najwa Ardanu Putri (1,5).
Note : I’am dan De’Nana pic.
Memang mereka lucu-lucu dan manis-manis (Cuman pada saat mereka tertidur). Jangan harap kamu bisa bernafas lega menjaga dua makhluk kecil itu seharian. Yang ada rasa stress melanda, pinggang tiba-tiba encok, sesak nafas mendadak dan strock akut.(hehee… berlebihan).
Ada aja yang mereka lakuin, entah berantakin rumah, ngejailin kucing tidur, ngerjain Akung, Uti ma Tantenya, mainan kran air. Wah… apa ajalah…
Mereka sebenarnya gak bandel, cuman sukanya jail dan gak bisa diem.(sama aja x…)
Trus, yang tambah bikin puyeng lagi, sejak adeknya I’am tambah gede, mereka terlihat makin klop aja…
Satu berantakin sini, yang satu ikut-ikutan. Begitu seterusnya.
Note : I’am sok playboy bang-get c…
***
Tahun ini, I’am masuk playgroup dan waktu liburan kemarin aku sempat pergi ke Jakarta.
Pagi itu, aku ikut mengantar I’am ke sekolah.
Setelah sampai dan I’am masuk kelas aku sedikit terdiam dan bertanya-tanya dalam hati
”Lhoh, koq dia berubah jadi anak penurut c?”
Akupun segera bertanya kepada kakakku.
”Lhoh, Nda… Itu gak salah?”, tanyaku kepada Mbak Nuri.
”Emberrrr… Emang gitu Tan kelakuan keponakanmu. I’am tuh bertingkah cuman di rumah. Selepas itu, yah dia jadi cowok penakut. Ngisin-isinikan?”, jawab Mbak Nuri.
”Hahahaha…. Dasar, jagoan kandang!”, sahutku.
***
“Nite’…”
Kecupanpun mendarat dikeningku.
Mendadak, kamar itu menjadi gelap gulita dan sunyi.
Tak lama berselang, suara tangisan Keisyapun santer terdengar.
Akupun segera menggendong dan menenangkannya kembali.
Kulihat, Panda mulai terlelap dan wajah-wajah kelelahan tampak diwajah endutnya.
Sejenak aku pandangi wajah lelahnya sambil berkata ”Luph U, Nda…”
***
Setelah selesai menunaikan sholat subuh berjama’ah, akupun memulai rutinitasku.
Pagi ini, aku buatkan Panda menu andalan, yakni nasi goreng + telur ceplok.hehee…dia mulai terbiasa dengan masakanku. Yang kadang terlalu manis, terlalu asin bahkan juga pernah tak ada rasanya sama sekali. Dibanding mertuaku yang jago memasak, tapi aku punya eksperimen tersendiri lho… Maksudnya, jurus-jurus masak gak jelas dan hasilnya tak layak makan.Hahaha…. Klo udah gitu keadaannya, barulah Panda mulai beraksi mengambil alih menjadi koki. Karena lama membujang, dia lebih pintar memasak dibanding aku.
Secangkir teh hangat dan sepiring nasi gorengpun sudah siap tersaji di ruang makan.
Sedangkan Panda masih asyik bermain dengan Keisya di kamar tidur.
”Panda, mandi dulu gih.”
”Iya, bentar. Lagi asyik ni.”, sahut Panda.
”Cepetttan!, Ni handuknya uda aku siapin.”
***
Kriiiing…. Kriiing….
”Assalamu’alaikum.”
”Walaikumsalam. Manda ke mana aja c? Angkat telponnya lama banget.”
”Yah, orang lagi nanggung. Kenapa?”
”Ouwh… Keisya mana?”
”Dia di kamar, lagi asyik nonton Cdnya White Lion dan Guns and Roses. Biarin ajalah, asal dia diem. Soalnya aku lagi beresin rumah ni.”
”Manda, diakan cewek. Gak baiklah, dia nonton musik keras kayak gitu. Kamu ni bisa nggak c ndidik anak? Dasar gak pecus! Pokoknya, Panda nggak mau denger Keisya nonton Cd itu lagi!”
”Yeee… Panda sendiri yang salah. Dari sejak aku hamil, Panda selalu dengerin lagu itu. Setelah brojol, dia juga udah gak asing lagi dengerin tuh musik. Koq malah nyalah-nyalahin Manda gitu c?”
”Dari sejak pacaran x… Yauda, matiin aja sekarang tuh Cd trus dibuang.”
”YAKIN? Itukan band favorit Panda dari jaman jebot. Hehee…”
”Apa c yang enggak demi Keisya.” tandasnya.
***
Dengan semangat akupun langsung membuang Cd itu. Setelah sekian lama berharap dan dengan ijin suami, akhirnya kesampaian juga aku membuang Cd itu.
Fiuuuhh… Akhirnya aku bisa bernafas lega.
Sekian tahun kupingku mulai akrab dengan dentuman suara keras yang sangat memekakkan gendang telingaku.
”Untung ada Keisya.”, sahut batinku.
***
Seminggu berlalu. Akupun semakin nyaman dengan suasana rumah tanggaku yang sudah terbina kurang lebih dua tahun lamanya tanpa alunan musik cadas sialan itu.
Panda sangat sayang denganku dan anak semata wayang kami, Keisya.
”Terima kasih Tuhan, atas semua karunia dan kenikmatan yang telah engkau limpahkan kepada keluarga kami.”
Doapun selalu terpanjat.
***
Sore itu adalah jadwal Keisya untuk ke dokter.
Panda pun sedang menyiapkan mobil keluar garasi.
Kamipun segera berangkat sore itu.
”Klik.”
”Jreeng..Jreeng..Jreeng…”
”Kuakui… Kumain hatiii… Ku main hati-kumain hatiii…Bla..bla..bla..”
”Panda, ni Cd baru.”
”Yap, lagunya Andra and The Back Bone.Hehee…”
“Keisya pun mulai mengangguk-angguk menikmati alunan musik itu.”
”Towenk… Aduh… Pandaaaa… Ampun de… Aku mendadak pusiiiiiiiiiing…….!”
”Kenapa gak Linkin Park, Limp Bizkit, Blink 182, atau apalah… Pokoknya musik yang lebih keras lagi….” Tambah ku lagi.
”Hahaha… Gampang, nanti kita beli semua! Okreh!”
”Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………. Ampyuuuuuuuuuuuuun…….!!!”, isakku.
Note: Uhm… Ini hanyalah imajinasiku untuk beberapa tahun ke depan. Itupun jika aku berjodoh dengan Mas Arul. Huffffff…!!!
- Mas Arul, kabar buruk deh klo anak kita kelak kayak Keisya… T.T
Bak gadis kasmaran, baju merah jambu dengan jepit disebagian rambutkuku, mulai ayunkan langkah lincahku. Tanpa arah jelas. Aku berlenggak lenggok bak model di atas catwalk.. ke kiri…ke kanan, sambil berdendang. Sepatu putih bening, lepek menemani kaki mungilku. Aku terus ayunkan langkahku. Masih tanpa arah. “tarata tiraata..tarata tirata” suaraku mulai terdengar lirih.
“Capek…”ucapku pada diriku sendiri
Aku rebahkan tubuh lungkaiku pada kursi malas di sebuah taman. Hembusan angin menyapa tubuhku dengan lembut. Aku terbius hembusanya. Dan..dan..dalam hitungan ke 3…aku tertidur. Pulas.
Saat mataku terbuka. Aku kaget. Bukan lagi baju merah jambu yang melekat dalam tubuh mungilku. Aku berada dekat sekali dengan tungku masak kotor dan bau. Dimana aku..?? sayup terdengar “cinderela…cinderela,kemari” aku bingung. “siapa yang memanggil? Ditujukan pada siapa? Akukah..ohh, bukan aku bukan cinderela. Aku cindy,bukan cinderella”..”cinderella..” suara itu terdengar lagi. Aku mendekat.aahh..nampak wanita tua dengan kedua gadis dengan postur tubuh yang berbeda. Kurus dan gendut. Bersolek. Wangi. Bergaun indah. Siapa mereka?? Si kurus menunjukkan tangan kearahku. “hey…kamu kesini. Siapkan sepatu dan tas buluku.cepett” datar dan tanpa senyum. Aku masih tetap terdiam. Masih berpikir. Dimana aku. Siapa mereka?..”hey..ceeeeepppaaattt” teriaknya lagi. Aku kaget, gagu dan bergegas mencari barang yang dimaksud. Belum juga aku selesai. Suara itu muncul lagi “cinderella, ambilkan topi hitamku…ceeeeppaat”teriaknya. Ohh…perlahan aku mulai tersadar. Aku ingat. Ini lakon bak dongeng cinderella favoritku. Ohh…aku menjadi cinderella. Benarkah ini ? tawa kecil menghiasi wajah manisku “hi..hi..hi”. sejak tersadar aku mulai berlakon bak cinderella dalam dongeng. Aku ingat. Teriakan tadi adalah ibu dan saudara tiriku. Marlita dan febiola. Mereka akan pergi ke istana sebelah. Yah..sayembara dari istana, pangeran mencari pendamping hidupnya. Ohhh..so sweet ! teriakku dalam hati. Tak canggung lagi aku memenuhi semua permintaan mereka. Selesai. Bergegas aku berganti pakaian. Tapi…”stop” suara tegas menghalangiku. “cinderella, kamu jaga rumah”. Aku mulai merengek-rengek pada ibu dan kedua saudara tiriku. Gagal. Aku tetap tinggal di rumah. Dengan debu dan tungku usang. Perlahan bayangan mereka hilang dari tatapanku. “hik..hik..hikk” suara tangisku mulai membanjiri pipi halusku. Masih tetap menangis. Tiba-tiba…”CLING”cahaya putih menempa wajah manisku. Muncul sosok makhluk kecil, mungil membawa tongkat. Menghampiriku. Ku buka mataku dan peri. Kukucek berulang-ulang mataku. Dan iya..itu peri. Tanpa ba bi bu..tongkat si peri di hempaskan ke tubuhkan..”abrakadabra..tongkatku ubahlah gadis manis ini…ubahlah”…”dag..dig..dug..” semakin kencang, debaran jantungku. “akan jadi seperti apa aku ?” …CLINGGG..semua berubah. Bajuku. Sepatuku. Rambutku. “Ohh…benarkah ini aku? “. Peri itu mengubahku. Terimakasih peri. Aku beranjak dari tempatku, berlari (tanpa kereta aku mendatngi pesta. Abis ga ada seekor tikus atau kadal disekitarku ketika aku diubah, jadi…jalan deh) dan “pukul 12 kamu akan berubah seperti semula. Ingat itu” teriak si peri..”iyaaaaaaa” masih berlari. Nafasku masih terengah-engah tak beraturan. “pangeran..oh pangeran” teriakku dalam hati. Sampai. Mataku masih berkeliaran mencari pangeran imapian. Masih mencari. Tampak ibu dan kedua saudara tiriku. Tanpa mengenaliku. Aku terus ayunkan langkah mungilku. Dan…itu dia. Pangeran impianku. Mendekat. Dan jual mahal. Pangeran mengajakku berdansa..ohh…romantisnya. alunan musik lembut menemani dansaku. Terlihat dari kejauhan ibu dan kedua saudara tiriku, penasaran sambil ngomel-ngomel kecil seolah menghujatku. Teng…teng..teng…,denting jam raksasa seolah iri pada kebersamaanku…masih tetap tak acuh, aku abaikan jam itu..dan terus..teng..teng..teng..teng…”aachhhh..” bergegas aku tinggalkan pangeran impianku. Terbata-bata dan tak peduli. Aku kencangkan kakiku untuk terus berlari…berlari hanya itu yang mengisi kepalaku. Dan…”aduhh..” kakiku keseleo pada tangga keempat..”aduhhh..”berhenti sejenak. Denting jam semakin kencang ditelingaku..teng..teng…teng…pangeran mengejarku..”ahh…tidakk” ku angkat tubuhku. Masih tetap berlari. Semakin menjauh “ohhh…sepatuku…sepatuku…sepatuku..”.
##
Terjatuh aku dari kursi malas “bruuk…”dan kutemukan diriku tanpa balutan busana indah itu. “Di mana bajuku, peri…peri..peri..”dan sepatuku…oh..sepatuku…sepatuku hilang.di mana sepatuku..di mana…tampak seekor anjing kampung dengan tawa jeleknya, dari belakang mengejekku. Dan….sepatuku. anjing jelek kembalikan sepatuku, sepatu kacaku…anjing jelekkkkk. Terdiam. Masih memandangi jejak anjing jelek itu..”sepatuku, sepatu kacaku hilang..” suara tangisku pun tak bisa dibendung lagi…”hikzs…hikzs…hikzs, kembalikan sepatuku,sepatu kacaku…” masih menangis.
“haha..haha…haha….haa..” cowok disamping tertawa terbahak melihat kejadian itu. Seolah mengejek. Dan…mimpiku tentang cinderella, seolah menjadi nyata..pangeran itu datang. Menertawakanku.