Dieng Plateu menurut legenda masyarakat setempat, Dieng berasal dari bahasa jawa, yaitu “dhi” yang berarti gunung dan “hyang” dari kata para hyang yang bermakna dewa-dewi. Jadi “Dieng berarti gunung tempat bersemayam dewa-dewi”kata seoarng penduduk, Wonosobo. Legenda tersebut bias saja benar karena didukung oleh beberapa candi-candi peninggalan agama Hindhu, seperti candi Semar, candiArjuna, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra.kelompok candi tersebut dibuat pada pertengahan abad ke-8, selainitu masih ada juga dua candi yang terpisah beberapa kilometer dari candi-candi yang lain yaitu candi Gatotkaca dan candi Bima.
Dataran tinggi Dieng yang letaknya tepat diperbatasan antara kabupaten Wonosobo dan kabupaten Banjarnegara, namun wilayah dataran tinggi terbesar milik kabupaten Banjaarnegara, dan merupakan datran paling tinggi di Jawa yang terletak pada ketinggian 2.093 meter di atas permukaan air laut dengan suhu rata-rata 150 derajat C. Daya tarik wisata yang dapat ditonjolkan selain kumpulan candi-candi yaitu Telaga Warna, dan Pengilon, Kawah Sikidang, Goa Semar, Mata Air Sungai Serayu, Proses Budidaya Jamur Merang dll.
Luas dataran tinggi Diang 619,846 hektar, dikelilingi gugusan Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Perahu, Gunung Rogojembangan, serta Gunung Bismo. Keindahan Dieng benar-benar memukau siapa saja yang mengunjunginya, percaya atau tidak para pengunjung yang berangkat ke Dieng melalui arah Wonosobo dapat menyaksikan dua kali matahari terbit, julukan yang diberikan untuk matahari terbit dieng yaitu Golden Sunrise dengan warna keemasan yang dapat dilihat sebelum kita memasuki Desa Dieng , dan Silver Sunrise dengan warna sinar matahari putih perak dapat disaksikan bila kita berada diantara kompleks candi hindhu.
Satu lagi objek wisata yang dapat dinikmati didataran tinggi Dieng yaitu Dieng Plateau Theater, letaknya di lereng bukit si kendil, dari sinilah kita bisa menikmati keindahan Telaga Warna dan Telaga Pengilon tidak hanya itu saja tampak pula deretan pemandangan seperti gunung perahu, pengonan, sipandu dan Gunung Gajah Mungkur. Di Dieng Plateau Theater (DPT) kita dapat menyaksikan berbagai filam documenter, budaya, dan ilmu pengetahuan missal film tragedy Kawah Sinila yang merenggut korban jiwa 149 pada tahun 1979. dengan tiket masuk seharga Rp 3000,- per orang kita sudah dapat menikmati film tersebut, namun film dapat diputar bila terdapat minimal 10 orang.
Bila kita menyempatkan diri untuk berkeliling Dieng kita pasti akan menemukan berbagai makanan khas yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan untuk orang yang kita sayangi ataupun keluarga di rumah diantaranya kacang dieng, carica, kentang, asparagus, jamur dieng, dan ramuan purwaceng yang berkasiat sebagai penghangat badan.
Keseimbangan alam yang tidak normal mempengaruhi gunung-gunung yang ada di dataran tinggi Dieng, entah sudah tercatat berapa kali gunung Dieng mengalami gempa dan mengeluarkan gas beracun bahkan gas yang dikeluarkan merupakan konsentrasi jenis karbondioksida yang sudah over scale (di atas ambang batas). Terkait dengan hal itu untuk sementara kawasan gunung Dieng ditutup. Hal tersebut sebenarnya pernah terjadi pada tahun 1997 gunung Dieng mengeluarkan gas beracun yang berasal dari Kawah Sitimbang yang retak akibat gampa menewaskan 149 warga yang terkenal dengan peristiwa sinila.
Dieng Plateau yang terkenal dengan keindahannya kini hampir punah karena mengalami degradasi lingkungan yang sangat parah dan harus diselamatkan dari kerusakan yang lebih parah. Hutan lindung di datran tinggi Dieng nyaris tidak ada yang tersisa bahkan talah mengalami penggundulan yang tidak terkendali, lebih dari 900 hektar kawasan hutan lindung di Wonosobo telah dibabat habisoleh sekumpulan orang yang tidak bertanggung jawabdan lebih mementinghkan kepentingan pribadi.
Dieng yang berpanorama indah, pegunungan tempat berdirinya candi-candi indah, serta tempat melepas kepenatan kini berubah menjadi panorama yang kurang dapat dinikmati dan berubah menjadi pegunungan yang gundul, tidak hanya itu saja para oknum yang tidak bertanggung jawab juga melakukan penjarahan candi-candi, pelaku dari penjarahan tersebutpun sampai sekarang belum diketahui, entah seperti apa sekarang Dieng
Penyebab kerusakan dan degradasi lingkungan ternyata bukan hanya dari oknum yang tidak bertanggung jawab saja melainkan penduduk sekitar yang bermukim di dataran tinggi Dieng pun ikut andil, para penduduk yang kurang paham ilmu pertanahan memanfaatkan hutan lindung tidak sebagaimana fungsinya, para penduduk merubah fungsi hutan lindung menjadi lahan kentang yang benar-benar mengabaikan kelestarian alam, hal tersebut berdampak pada tingkat erosi yang semakin tinggi dan berpengaruh pula pada daerah aliran sungai (DAS) Merawu dan Serayu yang merupakan sungai terbesar di daerah Wonosobo, perlahan-lahan menunjukkan degradasi lingkungan yang dikawatirkan dapat menyebabkan bencana alam tanah longsor dan banjir, yang diakibatkan karena pendangkalan sungai. Pada musim hujan sering kali dilanda banjir air hujan bercampur tanah berubah menjadi Lumpur berwarna coklat pekat.
Kawasan wisata unggulan Jawa Tengah setelah candi borobudur ini harus segera mendapat penanganan agar tidak terhindar dari kerusakan yang lebih parah lagi. Upaya-upaya penyelamatan Dieng akan menjadi gerakan yang akan melibatkan banyak pihak, entah itu dari masyarakat sekitar maupaun pemerintah daerah setempat. Gerakan penyelamatan Dieng menjadi kesepakatan semua pihak yang peduli akan kelestariannya, bahkan Deputi Mentri Lingkungan Hidup Sudarsono, Direktur Utama Perum Perhutani Transtoto H, Bupati Wonosobo Kholik Arif dan Kepala Perhutani Jateng Haryono Kusumo, petani daerah sekitar serta anggota lembaga masyarakat dan LSM pun ikut andil dalam upaya penyelamatan Dieng (kompas, 08 Juni 2006).
Upaya-upaya penyelamatan yang dilakukan antara lain dilakukannya sosialisasi kepada penduduk dan petani Dieng yang selama ini mengeploitasi pegunungan Dieng untuk budidaya tanaman kentang yang produksinya semakin menurun serta menyebabkan tingkat erosi semakin tinggi, sebaiknya mengganti dengan tanaman kopi, carica, dan teh, merehab kembali fungsi hutan lindung sebagaimana mestinya, namun tetap menggunakan program pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM) yang disesuaikan dengan kultur, kebutuhan dan keinginan masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek ekologi, fungsi hutan, ekonomi dan kesejahteraan rakyat (kompas,8 Juni 2006).
Dieng dengan segala keindahan dan keunikannya hendaknya tetap dipertahankan dan dijaga kelestariannya, karena bagaimanapun juga Dieng merupakan salah satu devisa untuk menarik wisatawan domestic maupun mancanegara, bagi pemerintah daerah setempat hendaknya lebih mempertegas sangsi bagi oknum-oknum yang memanfaatkan hutan atau lahan terlalu berlebihan dan memperketat penjagaan serta mencanangkan bimbingan pembelajaran bagi petani dan penduduk sekitar yang pengetahuannya kurang mengenai cara bercocok tanam atau hal-hal yang berhubungan dengan pertanian dengan mengundang pakar atau mahasiswa yang bergerak di bidang tersebut. Pengembalian fungsi hutan lindumg sebagaiman mestinya akan mencegah bencana dan hal itu bukannya akan menguntungkan banyak pihak baik penduduk sekitar maupun pemerintah daerah.