Archive for May, 2008

Senja di Lempuyangan

May 29, 2008

Sore itu seperti biasa, aku ma pau lagi pengen banget jalan-jalan. Tanpa tujuan jelas, akhirnya nyampe juga di stasiun lempuyangan. Saat itu kita berdua masih lengket ma blekky. Supra fit hitam, yang jadi jagoan kita waktu itu. Grek..grek..grek…kereta api melaju kencang, hembusan angin sepoi-sepoi membuat aku, pau dan beberapa orang merasa betah berada di sana. Terkesan biasa, kotor dan kumuh namun menyenangkan itulah sedikit gambaran stasiun lempuyangan. Entah mengapa pemandangan tersebut membuat aku tertarik untuk mengulasnya, suasana ramah dan cuaca yang mendukung menambah keasyikan untuk menghabiskan waktu sore di stasiun lempuyangan.

 

”Pau, ga nyangka yo, tempat ginian isa juga buat rekreasi.”

”iyo ndut.”

Sepanjang pengllihatan, bukan hanya suasananya  yang menyenangkan, namun terlihat pula keakraban dari tiap individu, tidak hanya anak-anak yang berlarian di sepanjang rel kereta api yang sudah  vakum alias tidak digunakan lagi. Nampak pula muda-mudi bahkan orang tua pun merasa betah berada di situ.

 

”aneh juga yo pau, magnet opo sek narik orang ke sini.”

Sesaat aku amati, kepulan asap sate ayam mbok-mbok gendhong, menyeruak ke atas dan aromanya  hemm..syedap. Tapi sayang, aku uda ga makan ayam lagi. Bukan hanya aroma daging ayam yang mulai mneghitam, banyak juga penjaja makanan kecil berjejer-jejer di sepanjang jalan. Senyum ramah si embok sate, tawa riang anak-anak, yang saling berebut daging hitam itu, membuat mataku betah untuk berlama-lama menatapnya. Ahhh.. nyaman banget.

. ”arep ra ndut ?”. Seperti ga  mau kalah, pau ikutan antri sate dan nasi bungkus yang dijajakan

nyam..nyam..nyam lahap sekali makhluk ini memasukkan daging itu ke mulutnya ?” ujarku dalam hati. Pengen juga ikut andil. Tapi sayang aku sudah terlanjur kenyang. Hanya mentos yang masih setia melumer dimulutku.

Kalu dicermati lebih jeli, stasiun lempuyangan sebenarnya tempat yang biasa saja, ga ada yang menonjol. Paling kenceng juga, kereta apinya. Yaialah mba, namaya juga satasiun. Tidak ada alasan yang special mengapa banyak orang menghabiskan waktu disana. Hanya untuk membuang penat, kebanyakan orang memberi alasan itu mengapa mereka ada di stasiun lempuyangan, ada juga yang menanti atau mengantar sanak saudara yang bepergian memanfaatkan jasa kereta api, daripada lewat pintu masuk mereka harus membayar, mereka memilih menunggu di luar.

 

Hiburan murah dan menyenangkan. Terlintas sejenak, ”mengapa pemerintah daerah tidak memanfaatkan lahan kosong di sekitar stasiun untuk kawasan bermain yang sederhana namun mendidik ? ” pikirku. Aneh kali ya, kalau ada  taman bermain di sini.

Stasiun lempuyangan tempat yang menyenangkan untuk aku dan pau, bahkan mungkin untuk kebanyakan orang yang penat dengan aktivitasnya, untuk melepas lelah dan mencari inspirasi, namun dengan lingkungan yang terkesan kumuh seperti ini, tidak adakah yang peduli akan hal itu?  Coba saja kalau kesadaran menjaga kebersihan itu tinggi, emm pastilah tempat rekreasi murah ini akan lebih asri atau malah lebih ramai ? . Haruskah sampah berserakan tanpa ada yang menghiraukannya ? tidak seharusnya hal itu dibiarkan.  Memfungsikan DKP dan sadar kebersihan mungkin itu solusi untuk tetap menjaga tempat tersebut agar tetap menjadi favorit untuk melepas kepenatan.

Hampir magrib. Aku ma pau buru-buru beranjak. Masih ingin tinggal sebenarnya, tapi, ada hal lain yang mesti kita lakukan. Ahhh…sore yang menyenangkan dengan lokasi yang menyenangkan pula.

 

 Saat itu lagi nyari inspirasi buat tugas SI..

 

 

SEDIKIT BERBAGI CERITA TENTANG KAWAN BAIK

May 26, 2008

Siapa yang tak pengen  punya teman atau sahabat baik yang selalu menyayangi kita. Ya..sudah lama aku dan bapakku berkawan baik. Entah sejak kapan pertemanan aku dan bapakku terjalin. Banyak waktu kita habiskan bersama, sebelum akhirnya aku berdomisili di Jogya untuk menyelesaikan S1 ku. Bapak memang jarang telpon aku, tapi entah mengapa aku selalu merasa dekat dengan beliau. Bapakku sekarang mulai beruban, dengan yuswo, 49 tahun, hampir seperempat abad sebagai penghuni bumi,  namun bapakku masih ganteng dengan lesung pipit di kedua pipinya. Bapakku orang yang suka bercanda, bakat becandaku aku dapat dari bapakku. Dalam situasi apapun, bapakku selalu bisa menempatkan posisinya. Ketika aku mulai melipat wajahku, bapak selalu menggodaku. Saat penyakit cengengku muncul, bapak yang menghiburku. Banyak hal yang aku ceritakan pada bapakku, apapun itu, dan alhamdulillah bapak menyukai pria yang sekarang mendampingiku. Hal yang selalu bapak lakukan,adalah menyambutku saat beliau tahu aku akan pulang rumah. Bapak selalu menunggu aku di depan pintu dengan wajah gelisah, lengak-lengok halaman rumah. Nah saat batang hidungku terlihat, senyum khas bapak mengembang. Manis sekali. Terharu juga dengan tingkah bapak yang seperti itu. Ahh…ya Allah terima kasih, Engkau berikan aku orang tua yang begitu sempurna dimataku. Terima kasih.

Hal lain yang sering kami lakukan adalah bergosip ria ala keluarga Hadi Sutrisno, ya..siapapun jadi korban gosip kita. Bapakku juga seorang pendongeng. Wah… pokoknya butuh berjam-jam untuk mendengar dongeng bapak. Dan yang aku suka yang ngebosenin, abis kadang diselingi becanda sama bapak saat mendongeng. Bapakku, orang yang tak bisa marah, jangankan marah membunuh nyamuk saja selama 23 tahun aku bersamanya belum pernah melihatnya. Sesuatu yang tak bisa hilang dari ingatanku adalah, saat itu aku masih kecil bapak selalu mengendongku, saat aku akan tidur, dan beliau tak pernah melepaskanku dari gendongan sebelum dewa mimpi menyapaku. Dan itu beliau lakukan sampai aku masuk sekolah dasar. Bayangin aja, aku yang uda segede tengker masih digendong, tak lupa bapak selalu membuatkan susu atau teh anget dalam botol edotku. Jujur aja aku mulai berhenti pake botol edot saat masuk SMP. Bahkan air mata bapak menetes, ketika beliau mengetahui anak kesayangnnya mulai beranjak dewasa dengan merasakan ”datang bulan” untuk pertama kalinya. Ohh…rasanya tak iklas melihat air mata itu menetes.

Selain Tuhan, bapakku lah tempakku menumpahkan keluh kesah, apapun yang aku rasakan aku ceritakan pada bapak. Aku sering mengadu pada bapak, tentang apapun. Sejak di Jogja, aku dan bapakku semakin dekat. Meski bapak jarang telepon aku, tapi bapak seolah selalu menyapaku. Beliau selalu bilang, ”dee dadi wong kumudu due roso eling, opo wae sek mbok lakoni patokane eling karo syukur”.

Ritual rutin,yang sering kami lakukan adalah ritual mencabut uban. Ya..kegiatan itu yang sering kami lakukan, kadang aku balelo kalo bapak mulai memegang rikmanya sambil sesekali melirikku ”yur..” sambil menunjuk ke arah mustokonya abis bapak suka tak melihat sikon, pas lagi enak-enaknya tidur bapak langsung minta dicabuti ubannya ”nek disemir wae piye yo?” aku orang yang paling menolak keras kalo bapak minta semir rambut, makanya begitu bapak minta dicabut ubannya, aku langsung ambil pingset dan dengan sabar satu persatu aku buang rambut putih yang mulai menjalar luas di mustoko bapak. Rikma bapak keriting ikal, dan aku suka sekali mengkucirnya, ”seperti bunga matahari” ujarku.

Bapakku selalu berusaha menempatkan posisinya, kapan beliau harus menjadi bapak,teman, dan orang lain. Aku dan bapak kadang tak akur, paling lama kita musuhan tiga menit, pasti bapak dulu yang menyapaku. Aku dan bapak sering eyel-eyelan untuk masalah yang sepele, misal masalah iklan, film, atau musik di teve, soal motor siapa yang paling jago, aku pegang Yamaha sedang bapak Sogun, masing-masing kita saling adu kekuatan, pernah juga kita panco. Bapakku perokok, hihihi…aku sering jailin bapak dengan membuang rokoknya, abis beliau seperti sepur, pal..pull..pal..pul susah banget buat nguranginya. Kadang bapakku menjadi pujangga, denagn mernagkai kata demi kata, dan ga enaknya aku dan Pau, harus mencari stiker abjad untuk merangkaikan kalimat bapak yang beliau anggap bagus dan layak untuk dipublikasikan. Tak jarang juga beliau berhayal, kadang menjadi polisi, presiden,arsitek, dalang, bahkan penjahat atau koruptor..aku dan saudaraku selalu tertawa saat bapak mulai berhayal. Hal lain yang sering aku lakuakn pada bapakku adalah mengelus perutnya, kami biasa menyebutnya plendhus, abis gede banget. Bapakku pengen banget naik haji bareng ibu. Doaku, aku pengen keinginan bapak naik haji bisa terkabul dan aku juga pengen saat aku memutuskan untuk hidup baru bapak masih ada menjadi wali nikahku, dengan baju jawa dan peci hitam dimustokonya, pasti ganteng bangeeeeeet bapakku.  Yah…itulah sedikit cerita tentang kawan baik, itulah bapakku, pria sederhana, setia dan sangat mencintai keluarganya.

 

 

Kado Cinta Seorang Cak Nun

May 22, 2008

 

Judul Buku       : Kiai Bejo, Kiai Untumg, Kiai Hoki     

Penulis : Emha Ainun Najib

Penerbit            : Buku Kompas

 

Ketika saya menulis tentanag sesuatu yang makro dan supranatural, saya dijewr ”kenapa kamu tidak memperharitikan orang kecil?”. dan ketika saya mengusahakan segala sesuatu yang mengangkut nasib rakyat kecil saya ditabok: ”Islam tidak mengajarkan mbalelo, Islam menganjurkan silaturahmi dan musyawarah!”

Ketika saya tidak memusingkan soal honor, saya disindir ”kamu tidak rasional!”. dan ketika saya cuek kepada uang dan nafkah, saya dilempar ’kulu wasyarabuu”. Sesekali saya berpikir mencari rejeki, saya di-tonyo : ”kamu menuhankan uang dan harta benda!”

Serangkaian kalimat isngkat yang sedikit menggambarkan tentang metamorfosis Cak Nun, saya anggap sebagai proses dalam perjalanannya mencari jati diri,

Selintas melihat cover buku ini, bukan tidak mungkin orang akan mengatakan  perlu waktu banyak untuk mengerti dan menerjemahkan kalimat demi kalimat dalam buku ini. Buku dengan ketebalan 258 ini memuat sekumpulan essay yang ditulis Emha Ainun Najib yang akrab dipanggil Cak Nun. Siapa yang tidak kenal budayawan ini yang juga aktif dalam beberapa kegiatannya bersama Kiai Kanjeng yang sudah melalang buana bukan hanya di Indonesia malainkan menjalar ke luar negeri.

Saya sempat bingung ketika pertama kali dosen saya menyodorkan buku ini awalnya untuk dibaca, tidak lama harus diresensi. Ketertarikan membaca buku ini belum 100% muncul dalam benak saya, namun lembar demi lembar saya baca, asyik juga ternyata buku ini. Ketertarikan itu muncul ketika saya sampai pada halaman 12 yang membahas pantat (maaf bukannya porno).

Sempat dunia entertainment kita dihebohkan dengan kehadiran goyangan ngebor Inul Daratista, tentang goyangan yang kontroversial itu membawa ulasan singkat dalam buku ini, Cak Nun menggambarkan pantat inul adalah wajah kita semua, bukan mengacu bahwa wajah kita adalah pantat, melainkan mengacu pada derajat dan martabat seseorang. Inul menjadi pajangan infotainment dan mendapati embel-embel penyanyi ’terkaya” saat itu. Benar juga akhirnya bahwa pantat bisa menjadi keberuntungan bagi seorang Inul Darastita. . 

Ketenaran Inul menggugah Pak Haji untuk angkat bicara dan bertindak bak hakim yang memvonis goyangan Inul pembawa virus pornoaksi. Padahal batasan pornoaksi sendiri belum jelas. Cak Nun dengan pintar mengulas kasus Inul dan Rhoma Irama, dengan banyak perspektif dan tidak menggurui. Dari goyangan ngebor beralih pada tokoh pintar dan populer Sri Sultan Hamengkubuwono X yang dipertanyakan akan menjadi satrio piningit, entah piningit untuk Bangsa Indonesia atau hanya Daerah Istimewa Yogyakarta dan tokoh Nahdatul Ulama (NU) yang emmpunyai ikon ’gitu saja kok repot ”,sasaran empuknya mengacu pada Abdulrahman Wahid (Gus Dur). Masih gemar Cak Nun membicarakan figur-figur yang sering nongol di TV. Gus Dur yang notebene, cucu pendiri NU Khai Hasyim Asy`ari, menilik sejarahnya auman Gus Dur tidak sekencang mbah nya. Lucu juga, bahasan Gus Dur memaksa saya untuk menunggingkan senyuman, bagimana tidak Cak Nun secara pintar dan gambang menceritakan asal muasal Gus Dur melalui perbandingan dirinya dan kakeknya.

Dari berlembar-lembar halaman yang sudah terbaca bahasan mengenai essay Kiai Bejo, Kiai Untung, dan Kiai Hoki, merupakan bahasa yang saya sukai, terutama dalam kalimat ”Orang mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Sebuah pemeo membuat rumus : orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang bejo”.  Uraian kalimat itu seolah nyata terjadi di masyarakat luas. Bahwa siapa yang berkuasa akan menindas yang lemah, yang lemah akan tetap lemah bila tak berusaha, sedang manusia yang beruntung adalah manusia diatas yang berkuasa, yang lemah, dan yang pandai.

Atas nama cinta Cak Nun membuat buku ini, melalui buku ini pula sebagai budayawan sekaligus pekerja sosial, sebuah harapan yang dibingkai dalam kado cinta untuk sesama manusia. Harapan Cak Nun atas kado cinta ini akan menghapus aroma-aroma kebencian, prasangka dan fitnah yang saya rasa sedang meraja waktu itu dan memberikan pencerahan, menguatkan silaturahmi, menumbuhkan emapati masyarakat serta adanya peneguhan rasa nasionalisme.

Bagi saya sendiri untuk budayawan seperti Cak Nun patut diacungi jempol, bagaimana tidak? Dengan membawa keserhanaan dan apa adanya, Cak Nun mampu menghasilkan tulisan yang lumayan untuk dijadikan referensi dalam memperkaya bahasa. Kultur budaya yang agamis dan sosialis membawa seorang Cak Nun, lebih kritis dalam menghadirkan fenomena sosial yang  layak untuk diketahui masyarakat luas. Dengan gaya penulisan yang sederhana (bahasa sehari-hari) dan tidak terlalu muluk-muluk.  Meskipun banyak kalimat sulit untuk dipahami maksudnya. Ketika saya berbincang dengan seorang teman, saya menanyakan kok bukunya Cak Nun sulit dipahami, rada bingung ?, teman saya menjawab, orang Cak Nun ki waton muni (asal bicara), sedikit sependapat. Mungkin karena saya belum pintar untuk mengerti dan memahami maksud kalimat-kalimat Cak Nun.

 

 (belajar bikin resensi….ga gampang yo)

 

 

Dieng Plateau

May 22, 2008

              Dieng Plateu menurut legenda masyarakat setempat, Dieng berasal dari bahasa jawa, yaitu “dhi” yang berarti gunung dan “hyang” dari kata para hyang yang bermakna dewa-dewi. Jadi “Dieng berarti gunung tempat bersemayam dewa-dewi”kata seoarng penduduk, Wonosobo. Legenda tersebut bias saja benar karena didukung oleh beberapa candi-candi peninggalan agama Hindhu, seperti candi Semar, candiArjuna, Srikandi, Puntadewa, dan  Sembadra.kelompok candi tersebut dibuat pada pertengahan abad ke-8, selainitu masih ada juga  dua candi yang terpisah beberapa kilometer dari candi-candi yang lain yaitu candi Gatotkaca dan candi Bima.

         Dataran tinggi Dieng yang letaknya tepat diperbatasan antara kabupaten Wonosobo dan kabupaten Banjarnegara, namun wilayah  dataran tinggi terbesar milik kabupaten Banjaarnegara, dan merupakan datran paling tinggi di Jawa yang terletak pada ketinggian 2.093 meter di atas permukaan air laut dengan suhu rata-rata 150 derajat C. Daya tarik wisata yang dapat ditonjolkan selain kumpulan candi-candi yaitu Telaga Warna, dan Pengilon, Kawah Sikidang, Goa Semar, Mata Air Sungai Serayu, Proses Budidaya Jamur Merang dll.

        Luas dataran tinggi Diang 619,846 hektar, dikelilingi gugusan Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Perahu, Gunung Rogojembangan, serta Gunung Bismo. Keindahan Dieng benar-benar memukau siapa saja yang mengunjunginya, percaya atau tidak para pengunjung yang berangkat ke  Dieng melalui arah Wonosobo dapat menyaksikan dua kali matahari terbit, julukan yang diberikan untuk matahari terbit dieng yaitu Golden Sunrise dengan warna keemasan yang dapat dilihat sebelum kita memasuki Desa Dieng , dan Silver Sunrise dengan warna sinar matahari putih perak dapat disaksikan bila kita berada diantara kompleks candi hindhu.

           Satu lagi objek wisata yang dapat dinikmati didataran tinggi Dieng yaitu Dieng Plateau Theater, letaknya di lereng bukit si kendil, dari sinilah kita bisa menikmati keindahan Telaga Warna dan Telaga Pengilon tidak hanya itu saja tampak pula deretan pemandangan seperti gunung perahu, pengonan, sipandu dan Gunung Gajah Mungkur. Di Dieng Plateau Theater (DPT) kita dapat menyaksikan berbagai filam documenter, budaya, dan ilmu pengetahuan  missal film tragedy Kawah Sinila yang merenggut korban jiwa 149 pada tahun 1979. dengan tiket masuk seharga Rp 3000,- per orang kita sudah dapat menikmati film tersebut, namun film dapat diputar bila terdapat minimal 10 orang.

          Bila kita menyempatkan diri untuk berkeliling Dieng kita pasti akan menemukan berbagai makanan khas yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan untuk orang yang kita sayangi ataupun keluarga di rumah diantaranya kacang dieng, carica, kentang, asparagus, jamur dieng, dan ramuan purwaceng yang berkasiat sebagai penghangat badan.

            Keseimbangan alam yang tidak normal mempengaruhi gunung-gunung yang ada di dataran tinggi Dieng, entah sudah tercatat berapa kali gunung Dieng mengalami gempa dan mengeluarkan gas beracun bahkan gas yang dikeluarkan merupakan konsentrasi jenis karbondioksida yang sudah over scale (di atas ambang batas). Terkait dengan hal itu untuk sementara kawasan gunung  Dieng ditutup. Hal tersebut sebenarnya pernah terjadi pada tahun 1997 gunung Dieng mengeluarkan gas beracun yang berasal dari Kawah Sitimbang  yang retak akibat gampa  menewaskan 149 warga yang terkenal dengan peristiwa sinila.   

            Dieng Plateau yang terkenal dengan keindahannya kini hampir punah karena mengalami degradasi lingkungan yang sangat parah dan harus diselamatkan dari kerusakan yang lebih parah. Hutan lindung di datran tinggi Dieng nyaris tidak ada yang tersisa bahkan talah mengalami penggundulan yang tidak terkendali, lebih dari 900 hektar kawasan hutan lindung di Wonosobo telah dibabat habisoleh sekumpulan orang yang tidak bertanggung jawabdan lebih mementinghkan kepentingan pribadi.

            Dieng yang berpanorama indah, pegunungan tempat berdirinya candi-candi indah, serta tempat melepas kepenatan kini berubah menjadi panorama yang kurang dapat dinikmati dan berubah menjadi pegunungan yang gundul, tidak hanya itu saja para oknum yang tidak bertanggung jawab juga melakukan penjarahan candi-candi, pelaku dari penjarahan tersebutpun sampai sekarang belum diketahui, entah seperti apa sekarang Dieng

           Penyebab kerusakan dan degradasi lingkungan ternyata bukan hanya dari oknum yang tidak bertanggung jawab saja melainkan penduduk sekitar yang bermukim di dataran tinggi Dieng pun ikut andil, para penduduk yang kurang paham ilmu pertanahan memanfaatkan hutan lindung tidak sebagaimana fungsinya, para penduduk merubah fungsi hutan lindung menjadi lahan kentang yang benar-benar mengabaikan kelestarian alam, hal tersebut berdampak pada tingkat erosi yang semakin tinggi dan berpengaruh pula pada daerah aliran sungai (DAS) Merawu dan Serayu yang merupakan sungai terbesar di daerah Wonosobo, perlahan-lahan menunjukkan degradasi lingkungan yang dikawatirkan dapat menyebabkan bencana alam tanah longsor dan banjir, yang diakibatkan karena pendangkalan sungai. Pada musim hujan sering kali dilanda banjir air hujan bercampur tanah berubah menjadi Lumpur berwarna coklat pekat.

             Kawasan wisata unggulan Jawa Tengah setelah candi borobudur  ini harus segera mendapat penanganan agar tidak terhindar dari kerusakan yang lebih parah lagi. Upaya-upaya penyelamatan Dieng akan menjadi gerakan yang akan melibatkan banyak pihak, entah itu dari masyarakat sekitar maupaun pemerintah daerah setempat. Gerakan penyelamatan Dieng menjadi kesepakatan semua pihak yang peduli akan kelestariannya, bahkan Deputi Mentri Lingkungan Hidup Sudarsono, Direktur Utama Perum Perhutani Transtoto H, Bupati Wonosobo Kholik Arif dan Kepala Perhutani Jateng Haryono Kusumo, petani daerah sekitar serta anggota lembaga masyarakat dan LSM pun ikut andil dalam upaya penyelamatan Dieng (kompas, 08 Juni 2006).

             Upaya-upaya penyelamatan yang dilakukan antara lain dilakukannya sosialisasi kepada penduduk dan petani Dieng yang selama ini mengeploitasi pegunungan Dieng untuk budidaya tanaman kentang yang produksinya semakin menurun serta menyebabkan tingkat erosi semakin tinggi, sebaiknya mengganti dengan tanaman kopi, carica, dan teh, merehab kembali fungsi hutan lindung sebagaimana mestinya, namun tetap menggunakan program pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM) yang disesuaikan dengan kultur, kebutuhan dan keinginan masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek ekologi, fungsi hutan, ekonomi dan kesejahteraan rakyat (kompas,8 Juni 2006).

              Dieng dengan segala keindahan dan keunikannya hendaknya tetap dipertahankan dan dijaga kelestariannya, karena bagaimanapun juga Dieng merupakan salah satu devisa  untuk menarik wisatawan domestic maupun mancanegara, bagi pemerintah daerah setempat hendaknya lebih mempertegas sangsi bagi oknum-oknum yang memanfaatkan hutan atau lahan terlalu berlebihan dan memperketat penjagaan serta mencanangkan bimbingan pembelajaran bagi petani dan penduduk sekitar yang pengetahuannya kurang mengenai cara bercocok tanam atau hal-hal yang berhubungan dengan pertanian dengan mengundang pakar atau mahasiswa yang bergerak di bidang tersebut. Pengembalian fungsi hutan lindumg sebagaiman mestinya akan mencegah bencana dan hal itu bukannya akan menguntungkan banyak pihak baik penduduk sekitar maupun pemerintah daerah. 

 

Seperti Membaca Indonesia by Tan Han Un

May 20, 2008

 Judul : Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu

Penulis : P. Swantoro

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan II : Agustus 2002

Tebal : 436 halaman

 

Menyimak isi buku ini, seolah membaca banyak buku penting yang tak akan bisa ditemukan di toko-toko buku. Sebab, buku-buku yang diceritakan termasuk dalam kategori buku-buku tua nan langka.

Buku ini berisi bermacam-macam cerita yang tak berhubungan satu dengan yang lain. Ada cerita tentang lambang-lambang kotapraja Hindia-Belanda, kisah bagaimana Poerwadarminta membuat Kamus Umum Bahasa Indonesia, penggambaran keris dalam budaya sang “Mpu”, dan koreksi istilah “Tanam Paksa” menjadi “Sistem Budidaya Tanaman” atas terjemahan yang tepat untuk “Cultuurstelsel”.

Pokoknya semua kisah sambung menyambung menjadi satu kesatuan kisah yang menarik untuk diikuti. Dengan hanya membaca satu buku layaknya kita membaca lebih dari 200 buku. Buku-buku tampil menjadi pribadi yang hidup, bagaimana buku lahir, berkembang, bergerak dan menggerakkan sang pencerita dalam kegiatan-kegiatannya sehari-hari. Di balik semua itu, masih tersembunyi sekitar 3000 buku lainmilik Swantoroyang tak cukup diceritakan dalam satu buku ini.

Swantoro seolah mampu mengganti buku-buku pelajaran sejarah yang susah dimengerti anak sekolah. Kalau saja buku-buku pelajaran itu musnah, maka buku bagus ini bisa jadi penggganti. Menggantikan sebagai buku, sekaligus pemandu untuk membaca Indonesia.

Metamorfose Pertemanan Aku dengan Kangkung… (1)

May 11, 2008

Makasi`07 (malam keakraban komunikasi) masih membau dalam kampus komunikasi ”tercinta”. Bahkan ceritanya masih belum usai. Biasalah. Masih berkesan. Tapi entah kesan yang bagaimana. Bukan makasi yang akan aku bahas dalam episode ini.
Awal pertemanan ini dari gelagat sok kenalku pada manusia adam postur tubuh tinggi, kurus, berkacamata dan pemalu, katanya.
Didepan ruang galeri. Duduk sambil ngobrol ringan dengan teman sekelasku alyne. Mataku tertuju pada sosok tinggi itu dan…
”eh, kowe sopo jenengmu. Cah mbanjar kan? ” kalimat pertamaku pada cowok itu.
Mendekat sambil menunjuk dirinya. ”aku”. Percakapan berlanjut.
”emm,,kowe meh mudik ra? Nek yo bareng yo.”
Ragu-ragu berusaha mengingat ”iyo, aku meh mudik”
”nek balik mbanjar, ngewati wonosobo kan. Nah,,,aku meh bareng. Tapi tenang aku gwo motor dewe kok” tersenyum.
”yo..” masih bingung. “nomermu piro?”
“085210634001..aku pake as, bareng yo”.. percakapan usai. Dan tidak berharap ada dialog panjang lagi. Dia pulang begitupun aku. Seminggu berlalu…
Kangkung, mahasiswa komunikasi`06. ambil jurusan broadcast, katanya. Satu tingkat dibawahku. Dan…
Thing..thingg..thing..thing.. ponsel bututku berbunyi. Ah…nomor baru. Kubuka dan kalimat panjang menghabiskan space sms ponselku. Cowok itu menghubungiku. Ba..bi..bu percakapan singkat lewat ponsel berakhir dengan kalimat ”makasih yo”….
##
Selang seminggu, terhitung sejak dialog singkat melalui ponsel itu. Aku dan kangkung mulai merangkai pertemanan. Hanya teman,tapi bukan teman dekat. Ahh..entah lah mengartikannya. Bingung.
.Emm, tak tau sejak kapan dan bagaimana proses komunikasi berlangsung. Kita berteman dan entah kapan pula aku mulai memanggil dia dengan sebutan kangkung. Tanpa alasan jelas. Tanpa konfirmasi dengan yang empunya nama. Tanpa bubur merah putih dan ugorampe lainnya. Aku panggil dia kangkung. Sampai sekarang…aku suka nama itu. Yah…mungkin karena seringnya masak sayur kangkung.
##
Aku sampai di wonosobo, tanpa kangkung. Rencana mudik bareng.batal. masa itu adalah masa manusia kembali terlahir suci. Setelah satu bulan bulan puasa. Dan… Thing..thingg..thing..thing..ponselku kembali berbunyi.bukan nomor asing lagi. Nomor yang aku kenal. Kangkung. Untuk urusan klub nya ”klik 18” dia menyempatkan diri maen ke wonosobo. Wajah lesu, tampak cape. Bersandar pada bangunan kecil berwarna bir tepatnya ditepi jalan raya. Wajah itu tak asing lagi. Kangkung. Yah…itulah dia. Masih dengan suzuki, motor andalannya.

Yure

May 11, 2008

Ketika hati mulai berbicara…
Yure awal kata indah untuk memulai mendongeng… aku suka kata ini “yure”,kedua orang tuaku juga menyukainya, bahkan mungkin orang-orang disekelilingku juga menyukai nama yure, sebagaimana aku lebih menyukainya, karena ku selalu menganggap ini adalah anugrah Tuhan.
Yure. Yure bukan lagi gadis kecil yang suka berlari-larian dengan teman sebayanya. Yure mulai beranjak. Yure sekarang adalah gadis dalam tahap kedewasaan. Entah jalur kedewasaan yang mana yang sedang dilaluinya. Yure, bagian dari sekumpulan manusia yang sedang belajar. Ya..belajar! belajar apapun.
Waktu seakan enggan bermain-main dengan diriku, kedewasaan ini membawaku pada dunia dimana manusia akan dibuat bingung olehnya. Cinta, cerita yang belum ditemukan ujung pangkalnya. Aku mulai mengenal cinta dan mengakrabkan diri dengan cinta. Aku jatuh cinta bukan hanya pada kekasihnya, namun juga pada Tuhannya. Entah apa ini. Ya..aku jatuh cinta dan dimanjakan oleh cinta. Mesti sesekali terbuang dan diabaikan cinta. Pernah aku terluka karena cinta dan sakitnya masih aku rasakan. Sakit sekali. Sakit. Tapi sudahlah itu cerita lalu masih membekas, namun enggan untuk kusimpan dalam otak kecilku. Cinta pertamaku menuai luka dalam goresan cerita cintaku. Lukaku disembuhkan oleh waktu. Aku bersahabat dengan waktu dan waktu pula yang mengajariku untuk lebih bijak lagi dalam bersikap. Jika saja waktu adalah sebuah bentuk, ingin sekali aku menyalaminya dan berterima kasih padanya.
Tuhan lebih sayang padaku. Dalam kedewasaan ini, kau dihadiahi seseorang yang mengisi hatiku. Seseorang yang menjadi jamu mujarab dalam lukaku. Entah dari mana datangnya makhluk adam ini. Selalu ingin tersenyum, saat teringat awal pertemuanku dengan dia. Kekasihku. Aku menyukai dia dengan segala yang dia punya.
Cerita cinta ini mewarnai duniaku, hampir empat tahun. Bukan waktu yang singkat untuk berjalan dalam cerita ini. Benar-benar lain. Aku jatuh cinta setiap hari, dan itu benar. Bak pujangga cinta sepenggal kalimat yang selalu aku kirimkan untuk kekasihku “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu….”. sebenarnya untuk mencintainya, terlalu dini untuk diungkapkan.
Aku jatuh cinta dan aku memuja cinta. Mustahil rasanya hubungan tanpa ada bumbu sedapnya. Lagi-lagi aku membawa kedewasaan, kedewasaan ini mambuatku sedikit lebih bijak ketika masalah menggoreskan runcingnya dalam hubunganku.
Jika diartikan teman kamu yang paling bisa mengerti,
Jika diartikan sahabat kamu yang paling bisa berbagi,
Jika diartikan saudara kamu yang paling dekat,
Jika diartikan kekasih, kamulah yang bisa menjadi teman, sahabat, dan saudara.
Cerita cinta ini aku mulai dengan kata Bismilahirrohmanirrohim. Membuatku lebih yakin akan keberadaan dia disisiku. Layaknya gadis kecil yang berharap akan mendapat hadiah ketika dia mendapat nilai bagus dalam rapornya. Aku juga begitu aku menaruh harapan akan kebardaan dia saat ini dan saat-saat selanjutnya. Aku tak ingin shudzon pada Tuhanku. Aku hanya meminta dalam doa untuk waktu lebih aku bersama kekasihku. Itu saja.

Sepenggal Cerita…

May 11, 2008

Teringat sepenggal berita tentang gizi buruk yang melanda sebagian wilayah Indonesia tercinta. Kasihan..makhluk kecil, mungil belum terlihat dosanya, harus menanggung perut kosong dalam waktu yang lama. Salah siapa? Mengapa ini bisa terjadi? Sudah miskin sekalikah Indonesia ku? Tatapan sayu, sang makhluk kecil, seolah memelas meminta keadilan. Bahkan tikus-tikus liar berdasi, berpaling dan membutakan diri. Mencari perlindungan diri dengan mencari kesalahan manusia lain. Lirik indah om iwan fals pun bukan lagi tamparan bagi mereka. Bahkan mendengar saja “ogah”. Romansa realita menyedihkan memenuhi buku. Bahkan bukan hanya satu buku yang sudah dihabiskan. Manusia ini bukan hakim atau jaksa penuntut yang bercakap mencari salah-benar. Wajah makhluk kecil itu datang lagi. Menari dan memelas dalam pikiran kacau manusia ini. “aku ingin sehat, menemani dunia lebih lama, kasihanilah aku ?”. manusia ini penyuka anak-anak. Namun tidak punya sesuatu untuk dihadiahkan pada kesukaannya. Ahhh…bakteri apa itu dalam susu favoritku. Mengapa kamu ada? Siapa yang menemukanmu? Susu coklat nikmat, menyerupai lumpur lapindo yang enggan beranjak dari Sidoarjo. Kesetiaan banjir di Jakarta. Dan kesetiakawanan lahar dingin merapi di Yogyakarta…terdiam sejenak mengingat safari bencana di bumi Indonesia tercinta. Oohh…..Makhluk kecil itu belum juga berhenti menangis, wahai….raja uang yang bersembunyi liat ada makhluk penghuni bumi membutuhkan hadirmu untuk mengisi perut kosong mereka…

Obrolan Semut..

May 11, 2008

Suara lirih terdengar di seberang sana nampak sekumpulan semut bercakap-cakap.. satu semut berucap “oh..itu si tuan duit, kemana saja tuan, tidakkah kau liat pemandangan haru itu?”..senyum simpul terlihat di wajah tuan duit”oh..maap, terlalu asyik saya jalan-jalan hingga lupa kantong saku rumahku di sebelah mana, apakah di kantong berbau wangi ataukah dikantong bacin..?” aku bingung ujar tuan duit. Aku merasa tempatku di kantong bacin, tapi si kantong wangi enggan membebaskanku. Taukah kamu wahai semut, aku sedih dengan keadaan fans ku, aku ingin merubah diriku menjadi sepotong roti, susu, beras, atau apalah yang dibutuhkan fans ku. Tapi, atasanku menolak untuk melakukan itu, malahan aku diajak jalan-jalan ke luar negeri,, berfoya-foya dan memenuhi rumah atasanku dengan kemegahan.

Aku sedang Belajar Membuat Puisi

May 7, 2008

Aku sedang belajar membuat puisi. Puisi tanpa tema bahkan mungkin tanpa rasa. Otakku buntu untuk merangkai perkata menjadi kalimat yang layak baca… dimana bisa aku temukan kata-kata indah untuk aku rangakaikan? aku bertanya pada seorang kawan

“harus jatuh cinta dulu yach buat puisi bagus atau mesti terpuruk dulu ?”

“hihihi…ga lah, tulis aja apa yang kamu rasain, terserah ajah.”

Jawaban melegakan ,namun hambar. Masih tetap berpikir.ahh…!! aku tetap memaksa jemariku untuk terus memncet huruf dalam keyboar usangku. Aku mulai menulis dengan kata “kepedihan”…

Kepedihanku karena diriku sendiri

Tawaku juga untuk diriku…

Rangkaian kecil, mulai tersusun. Kupejamkan mata untuk menemukan kata lain untuk kelanjutan puisi buatanku. Aku sedang belajar membuat puisi, meneukan rasa dalam diriku dan merangkainya dalam kata…kemudian aku lanjutankan dengan kata “siapa aku”

Siapa aku…

Hingga kadang aku tak mengenali diriku sendiri…

Menatap dalam sebongkah cermin pun aku tak sanggup…

Dalam keresahan aku berpikir..

Bahkan dalam kemalanganku aku menangis

Aku gadis malang…tanpa kawan

Gadis malang tak bisa tersenyum, bahkan untuk kemenanganku sendiri…

Ku ayunkan langkah lungkai ku untuk mencari kebenaran diriku..

Namun,..

Kemana lagi akan aku ayunkan langkah lungkaiku…??

Akhirnya jadi juga puisiku..ahh, aku pengen bisa berpuisi. Untuk diriku sendiri. Ya..untuk diriku sendiri….

 

 

tatapan mata tak dikenal pagi ini menyapaku lagi

siapa dia

 

……

?????

wajah asing hadir dalam lamunanku

 

menatapku,,,,,,

dan seolah ingin berkata padaku, namun..

siapa dia

 

?????