Judul Buku : Kiai Bejo, Kiai Untumg, Kiai Hoki
Penulis : Emha Ainun Najib
Penerbit : Buku Kompas
Ketika saya menulis tentanag sesuatu yang makro dan supranatural, saya dijewr ”kenapa kamu tidak memperharitikan orang kecil?”. dan ketika saya mengusahakan segala sesuatu yang mengangkut nasib rakyat kecil saya ditabok: ”Islam tidak mengajarkan mbalelo, Islam menganjurkan silaturahmi dan musyawarah!”
Ketika saya tidak memusingkan soal honor, saya disindir ”kamu tidak rasional!”. dan ketika saya cuek kepada uang dan nafkah, saya dilempar ’kulu wasyarabuu”. Sesekali saya berpikir mencari rejeki, saya di-tonyo : ”kamu menuhankan uang dan harta benda!”
Serangkaian kalimat isngkat yang sedikit menggambarkan tentang metamorfosis Cak Nun, saya anggap sebagai proses dalam perjalanannya mencari jati diri,
Selintas melihat cover buku ini, bukan tidak mungkin orang akan mengatakan perlu waktu banyak untuk mengerti dan menerjemahkan kalimat demi kalimat dalam buku ini. Buku dengan ketebalan 258 ini memuat sekumpulan essay yang ditulis Emha Ainun Najib yang akrab dipanggil Cak Nun. Siapa yang tidak kenal budayawan ini yang juga aktif dalam beberapa kegiatannya bersama Kiai Kanjeng yang sudah melalang buana bukan hanya di Indonesia malainkan menjalar ke luar negeri.
Saya sempat bingung ketika pertama kali dosen saya menyodorkan buku ini awalnya untuk dibaca, tidak lama harus diresensi. Ketertarikan membaca buku ini belum 100% muncul dalam benak saya, namun lembar demi lembar saya baca, asyik juga ternyata buku ini. Ketertarikan itu muncul ketika saya sampai pada halaman 12 yang membahas pantat (maaf bukannya porno).
Sempat dunia entertainment kita dihebohkan dengan kehadiran goyangan ngebor Inul Daratista, tentang goyangan yang kontroversial itu membawa ulasan singkat dalam buku ini, Cak Nun menggambarkan pantat inul adalah wajah kita semua, bukan mengacu bahwa wajah kita adalah pantat, melainkan mengacu pada derajat dan martabat seseorang. Inul menjadi pajangan infotainment dan mendapati embel-embel penyanyi ’terkaya” saat itu. Benar juga akhirnya bahwa pantat bisa menjadi keberuntungan bagi seorang Inul Darastita. .
Ketenaran Inul menggugah Pak Haji untuk angkat bicara dan bertindak bak hakim yang memvonis goyangan Inul pembawa virus pornoaksi. Padahal batasan pornoaksi sendiri belum jelas. Cak Nun dengan pintar mengulas kasus Inul dan Rhoma Irama, dengan banyak perspektif dan tidak menggurui. Dari goyangan ngebor beralih pada tokoh pintar dan populer Sri Sultan Hamengkubuwono X yang dipertanyakan akan menjadi satrio piningit, entah piningit untuk Bangsa Indonesia atau hanya Daerah Istimewa Yogyakarta dan tokoh Nahdatul Ulama (NU) yang emmpunyai ikon ’gitu saja kok repot ”,sasaran empuknya mengacu pada Abdulrahman Wahid (Gus Dur). Masih gemar Cak Nun membicarakan figur-figur yang sering nongol di TV. Gus Dur yang notebene, cucu pendiri NU Khai Hasyim Asy`ari, menilik sejarahnya auman Gus Dur tidak sekencang mbah nya. Lucu juga, bahasan Gus Dur memaksa saya untuk menunggingkan senyuman, bagimana tidak Cak Nun secara pintar dan gambang menceritakan asal muasal Gus Dur melalui perbandingan dirinya dan kakeknya.
Dari berlembar-lembar halaman yang sudah terbaca bahasan mengenai essay Kiai Bejo, Kiai Untung, dan Kiai Hoki, merupakan bahasa yang saya sukai, terutama dalam kalimat ”Orang mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Sebuah pemeo membuat rumus : orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang bejo”. Uraian kalimat itu seolah nyata terjadi di masyarakat luas. Bahwa siapa yang berkuasa akan menindas yang lemah, yang lemah akan tetap lemah bila tak berusaha, sedang manusia yang beruntung adalah manusia diatas yang berkuasa, yang lemah, dan yang pandai.
Atas nama cinta Cak Nun membuat buku ini, melalui buku ini pula sebagai budayawan sekaligus pekerja sosial, sebuah harapan yang dibingkai dalam kado cinta untuk sesama manusia. Harapan Cak Nun atas kado cinta ini akan menghapus aroma-aroma kebencian, prasangka dan fitnah yang saya rasa sedang meraja waktu itu dan memberikan pencerahan, menguatkan silaturahmi, menumbuhkan emapati masyarakat serta adanya peneguhan rasa nasionalisme.
Bagi saya sendiri untuk budayawan seperti Cak Nun patut diacungi jempol, bagaimana tidak? Dengan membawa keserhanaan dan apa adanya, Cak Nun mampu menghasilkan tulisan yang lumayan untuk dijadikan referensi dalam memperkaya bahasa. Kultur budaya yang agamis dan sosialis membawa seorang Cak Nun, lebih kritis dalam menghadirkan fenomena sosial yang layak untuk diketahui masyarakat luas. Dengan gaya penulisan yang sederhana (bahasa sehari-hari) dan tidak terlalu muluk-muluk. Meskipun banyak kalimat sulit untuk dipahami maksudnya. Ketika saya berbincang dengan seorang teman, saya menanyakan kok bukunya Cak Nun sulit dipahami, rada bingung ?, teman saya menjawab, orang Cak Nun ki waton muni (asal bicara), sedikit sependapat. Mungkin karena saya belum pintar untuk mengerti dan memahami maksud kalimat-kalimat Cak Nun.
(belajar bikin resensi….ga gampang yo)
Tags: Kado Cinta Cak Nun