SEDIKIT BERBAGI CERITA TENTANG KAWAN BAIK

By bilikaksara

Siapa yang tak pengen  punya teman atau sahabat baik yang selalu menyayangi kita. Ya..sudah lama aku dan bapakku berkawan baik. Entah sejak kapan pertemanan aku dan bapakku terjalin. Banyak waktu kita habiskan bersama, sebelum akhirnya aku berdomisili di Jogya untuk menyelesaikan S1 ku. Bapak memang jarang telpon aku, tapi entah mengapa aku selalu merasa dekat dengan beliau. Bapakku sekarang mulai beruban, dengan yuswo, 49 tahun, hampir seperempat abad sebagai penghuni bumi,  namun bapakku masih ganteng dengan lesung pipit di kedua pipinya. Bapakku orang yang suka bercanda, bakat becandaku aku dapat dari bapakku. Dalam situasi apapun, bapakku selalu bisa menempatkan posisinya. Ketika aku mulai melipat wajahku, bapak selalu menggodaku. Saat penyakit cengengku muncul, bapak yang menghiburku. Banyak hal yang aku ceritakan pada bapakku, apapun itu, dan alhamdulillah bapak menyukai pria yang sekarang mendampingiku. Hal yang selalu bapak lakukan,adalah menyambutku saat beliau tahu aku akan pulang rumah. Bapak selalu menunggu aku di depan pintu dengan wajah gelisah, lengak-lengok halaman rumah. Nah saat batang hidungku terlihat, senyum khas bapak mengembang. Manis sekali. Terharu juga dengan tingkah bapak yang seperti itu. Ahh…ya Allah terima kasih, Engkau berikan aku orang tua yang begitu sempurna dimataku. Terima kasih.

Hal lain yang sering kami lakukan adalah bergosip ria ala keluarga Hadi Sutrisno, ya..siapapun jadi korban gosip kita. Bapakku juga seorang pendongeng. Wah… pokoknya butuh berjam-jam untuk mendengar dongeng bapak. Dan yang aku suka yang ngebosenin, abis kadang diselingi becanda sama bapak saat mendongeng. Bapakku, orang yang tak bisa marah, jangankan marah membunuh nyamuk saja selama 23 tahun aku bersamanya belum pernah melihatnya. Sesuatu yang tak bisa hilang dari ingatanku adalah, saat itu aku masih kecil bapak selalu mengendongku, saat aku akan tidur, dan beliau tak pernah melepaskanku dari gendongan sebelum dewa mimpi menyapaku. Dan itu beliau lakukan sampai aku masuk sekolah dasar. Bayangin aja, aku yang uda segede tengker masih digendong, tak lupa bapak selalu membuatkan susu atau teh anget dalam botol edotku. Jujur aja aku mulai berhenti pake botol edot saat masuk SMP. Bahkan air mata bapak menetes, ketika beliau mengetahui anak kesayangnnya mulai beranjak dewasa dengan merasakan ”datang bulan” untuk pertama kalinya. Ohh…rasanya tak iklas melihat air mata itu menetes.

Selain Tuhan, bapakku lah tempakku menumpahkan keluh kesah, apapun yang aku rasakan aku ceritakan pada bapak. Aku sering mengadu pada bapak, tentang apapun. Sejak di Jogja, aku dan bapakku semakin dekat. Meski bapak jarang telepon aku, tapi bapak seolah selalu menyapaku. Beliau selalu bilang, ”dee dadi wong kumudu due roso eling, opo wae sek mbok lakoni patokane eling karo syukur”.

Ritual rutin,yang sering kami lakukan adalah ritual mencabut uban. Ya..kegiatan itu yang sering kami lakukan, kadang aku balelo kalo bapak mulai memegang rikmanya sambil sesekali melirikku ”yur..” sambil menunjuk ke arah mustokonya abis bapak suka tak melihat sikon, pas lagi enak-enaknya tidur bapak langsung minta dicabuti ubannya ”nek disemir wae piye yo?” aku orang yang paling menolak keras kalo bapak minta semir rambut, makanya begitu bapak minta dicabut ubannya, aku langsung ambil pingset dan dengan sabar satu persatu aku buang rambut putih yang mulai menjalar luas di mustoko bapak. Rikma bapak keriting ikal, dan aku suka sekali mengkucirnya, ”seperti bunga matahari” ujarku.

Bapakku selalu berusaha menempatkan posisinya, kapan beliau harus menjadi bapak,teman, dan orang lain. Aku dan bapak kadang tak akur, paling lama kita musuhan tiga menit, pasti bapak dulu yang menyapaku. Aku dan bapak sering eyel-eyelan untuk masalah yang sepele, misal masalah iklan, film, atau musik di teve, soal motor siapa yang paling jago, aku pegang Yamaha sedang bapak Sogun, masing-masing kita saling adu kekuatan, pernah juga kita panco. Bapakku perokok, hihihi…aku sering jailin bapak dengan membuang rokoknya, abis beliau seperti sepur, pal..pull..pal..pul susah banget buat nguranginya. Kadang bapakku menjadi pujangga, denagn mernagkai kata demi kata, dan ga enaknya aku dan Pau, harus mencari stiker abjad untuk merangkaikan kalimat bapak yang beliau anggap bagus dan layak untuk dipublikasikan. Tak jarang juga beliau berhayal, kadang menjadi polisi, presiden,arsitek, dalang, bahkan penjahat atau koruptor..aku dan saudaraku selalu tertawa saat bapak mulai berhayal. Hal lain yang sering aku lakuakn pada bapakku adalah mengelus perutnya, kami biasa menyebutnya plendhus, abis gede banget. Bapakku pengen banget naik haji bareng ibu. Doaku, aku pengen keinginan bapak naik haji bisa terkabul dan aku juga pengen saat aku memutuskan untuk hidup baru bapak masih ada menjadi wali nikahku, dengan baju jawa dan peci hitam dimustokonya, pasti ganteng bangeeeeeet bapakku.  Yah…itulah sedikit cerita tentang kawan baik, itulah bapakku, pria sederhana, setia dan sangat mencintai keluarganya.

 

 

Tags: ,

Leave a Reply