Sore itu seperti biasa, aku ma pau lagi pengen banget jalan-jalan. Tanpa tujuan jelas, akhirnya nyampe juga di stasiun lempuyangan. Saat itu kita berdua masih lengket ma blekky. Supra fit hitam, yang jadi jagoan kita waktu itu. Grek..grek..grek…kereta api melaju kencang, hembusan angin sepoi-sepoi membuat aku, pau dan beberapa orang merasa betah berada di sana. Terkesan biasa, kotor dan kumuh namun menyenangkan itulah sedikit gambaran stasiun lempuyangan. Entah mengapa pemandangan tersebut membuat aku tertarik untuk mengulasnya, suasana ramah dan cuaca yang mendukung menambah keasyikan untuk menghabiskan waktu sore di stasiun lempuyangan.
”Pau, ga nyangka yo, tempat ginian isa juga buat rekreasi.”
”iyo ndut.”
Sepanjang pengllihatan, bukan hanya suasananya yang menyenangkan, namun terlihat pula keakraban dari tiap individu, tidak hanya anak-anak yang berlarian di sepanjang rel kereta api yang sudah vakum alias tidak digunakan lagi. Nampak pula muda-mudi bahkan orang tua pun merasa betah berada di situ.
”aneh juga yo pau, magnet opo sek narik orang ke sini.”
Sesaat aku amati, kepulan asap sate ayam mbok-mbok gendhong, menyeruak ke atas dan aromanya hemm..syedap. Tapi sayang, aku uda ga makan ayam lagi. Bukan hanya aroma daging ayam yang mulai mneghitam, banyak juga penjaja makanan kecil berjejer-jejer di sepanjang jalan. Senyum ramah si embok sate, tawa riang anak-anak, yang saling berebut daging hitam itu, membuat mataku betah untuk berlama-lama menatapnya. Ahhh.. nyaman banget.
. ”arep ra ndut ?”. Seperti ga mau kalah, pau ikutan antri sate dan nasi bungkus yang dijajakan
”nyam..nyam..nyam lahap sekali makhluk ini memasukkan daging itu ke mulutnya ?” ujarku dalam hati. Pengen juga ikut andil. Tapi sayang aku sudah terlanjur kenyang. Hanya mentos yang masih setia melumer dimulutku.
Kalu dicermati lebih jeli, stasiun lempuyangan sebenarnya tempat yang biasa saja, ga ada yang menonjol. Paling kenceng juga, kereta apinya. Yaialah mba, namaya juga satasiun. Tidak ada alasan yang special mengapa banyak orang menghabiskan waktu disana. Hanya untuk membuang penat, kebanyakan orang memberi alasan itu mengapa mereka ada di stasiun lempuyangan, ada juga yang menanti atau mengantar sanak saudara yang bepergian memanfaatkan jasa kereta api, daripada lewat pintu masuk mereka harus membayar, mereka memilih menunggu di luar.
Hiburan murah dan menyenangkan. Terlintas sejenak, ”mengapa pemerintah daerah tidak memanfaatkan lahan kosong di sekitar stasiun untuk kawasan bermain yang sederhana namun mendidik ? ” pikirku. Aneh kali ya, kalau ada taman bermain di sini.
Stasiun lempuyangan tempat yang menyenangkan untuk aku dan pau, bahkan mungkin untuk kebanyakan orang yang penat dengan aktivitasnya, untuk melepas lelah dan mencari inspirasi, namun dengan lingkungan yang terkesan kumuh seperti ini, tidak adakah yang peduli akan hal itu? Coba saja kalau kesadaran menjaga kebersihan itu tinggi, emm pastilah tempat rekreasi murah ini akan lebih asri atau malah lebih ramai ? . Haruskah sampah berserakan tanpa ada yang menghiraukannya ? tidak seharusnya hal itu dibiarkan. Memfungsikan DKP dan sadar kebersihan mungkin itu solusi untuk tetap menjaga tempat tersebut agar tetap menjadi favorit untuk melepas kepenatan.
Hampir magrib. Aku ma pau buru-buru beranjak. Masih ingin tinggal sebenarnya, tapi, ada hal lain yang mesti kita lakukan. Ahhh…sore yang menyenangkan dengan lokasi yang menyenangkan pula.
Saat itu lagi nyari inspirasi buat tugas SI..
Tags: lempuyangan, senja
August 5, 2008 at 4:41 am |
nice story..
btw kalo boleh aku mw minta ijin utk merangkum tulisannya sebagai data penelitianku…
mohon kesediaannya untuk membalas ke email saya ya mbak.. karena mungkin akan butuh beberapa bantuan lagi, tapi saya ga nemu contact mbaknya..
makasih..