Archive for June, 2008

A/B UNTUK TEKNIK REPORTASE & INTERVIEW

June 12, 2008

“Udah siap ma reportase kalian” ucap dosen TRI. Uh…serempak lima makhluk jurnalistik mengatakan ”ya..” dengan atau tanpa ekspresi yang jelas. Pembagian tugas yang cukup affair menurutku saat itu, soalnya tema masing-masing reportase sepenuhnya. Mutlak pilihan kita. Emm…reportase ini, aku memilih isu tentang kepindahan Pasar Ngasem.  Gak tau juga mengapa milih tema ini. Padahal jujur deh, samar-samar aja denger isu kepindahan pasar ini.

Seperti biasa, dan insyaallah akan seperti ini. Reportase kali ini, tetep aku ga sendirian, pau selalu ada. Istilahnya dia sebagai suntikan agar aku ga cepet-cepet nyerah. Majur juga suntikan itu. Setiap kali aku mengeluh dan ogah nglanjutin reportase ini. ”ayolah ndut, mosok ngene wae nyerah. Engko tak tumbaske empek-empek wes.”. kontan, aku sumringah lagi, yah…meski agak berat nglanjutin nya.

Reportaseku aku mulai dengan membuat daftar apa aja yang bakal aku lakuin (deskripsi lokasi, daftar narasumber, draf pertanyaan, dlll) plus jatwalnya. Obeservasi lapangan. Uhh…pertama kali masuk pasar ngasem, wuihh…kotor banget. Sempat juga nangring dalam otakku ”ga ada petugas kebersihan po?” bayangin aja kotoran dimana-mana, baunya itu.eemmm…parahnya lagi aku sempat gemetaran, abis orang-orang di sana aneh tatapan matanya. Dibilang ramah engga, ga dibilang ramah tapi ada juga yang rada lunak. Oiya, pas aku observasi, cuaca lagi ga mendukung banget. Ujan! Udah gitu sepi lagi.

Sepulang dari berkeliling pasar, sedikit ambil hati petugas parkir, awalnya si ngobrol ngalor-ngidul yah..itung-itung buat intro sebelum masuk ke inti masalah. Benernya bukan tukang porkir yang aku cari, tapi dinas pengelola pasar. Berhubung pak dinas petugas pasar udah pulang, akhirnya tukang parkirpun jadi. Ga banyak juga yang aku dapet. Paling cuman bener tidaknya isu kepindahan itu, alasan kepindahan dan beberapa info kecil yang bisa dijaiin rujukan. Rada nyesel juga, napa ga dateng lebih awal.

##

Jatah laporan reportase minggu ini, udah dateng lagi. Selasa. Ketemu mas Zaki, sharing hasil lapangan. Dikasih sedikit masukan. Teng..teng..sehari setelah itu aku kembali lagi ke pasar. Alhamdulliah ketemu juga sama bapak dinas pasarnya. Tapi lupa, namanya. Yah..sedikit informasi yang aku dapet. Kata bapaknya sie, bukan wewenang beliau. Dilemparlah aku ke pasar beringharjo. Udah ada rekomendasi , Pak Totok. Narasumber lain yang katanya bisa ngejawab permasalahan yang sedang aku telusuri. Deadline reportase tinggal dua minggu lagi. Sempat santai-santai aku, abis susah nyari Pak Totoknya. Lagi rapat lah, belum datanglah. Aku ma pau kayak bola yang dilempar kesana kemari, kesana kemari. Marah juga aku. Tanpa ba..bi..bu..langsung aja nylonong ke kantor. Eh…Pak Totoknya libur.  

##

Jam menunjukkan pikul 10. masih dikos dengan wajah kebingungan aku mencari recorder-ku. Alhasil hampir setengah jam aku bergulat dengan isi dalam kamarku. Saat itu juga aku teringat, recorder-ku dibawa seorang teman. Wuehh…lagi-lagi alhamdulillah, tak ada record handicame pun jadi.

##

02 Januari 2008

Cukup lama aku ma pau nunggu Pak Totok. Udah gitu ditanya bukan cuma satu satpam, mungkin satpamnya curiga kalee ya. ”wah..mbak, Pak Totoknya hari ini ga masuk kantor” ucap salah satu petugas pasar beringharjo. Lemes. Marah. Kesel. Buyar semua daftar pertanyaan yang uda aku susun. Finally, tanpa catetan, tanpa draf pertanyaan, aku wawancara Pak Djumadi, beliau staf dinas pasar beringharjo. Ternyata beliau yang ditunjuk buat gantiin Pak Totok. Masih keringetan. Akhirnya aku lontarkan beberapa pertanyaan yang masih lengket di otak kecilku. Wawancara tak terstrukutur. Tanpa ngalor-ngidul. Bapaknya sedikit hati-hati ngobrolnya. Tapi…setelah pertanyaan terakhir. Beliau bertanya padaku ”aslinya mana mbak ?” aku jawab ”wonosobo” eh…duerrrr. tau kita tetanggaan (ternyata bapaknya asli banjaregara, ngapak gitu..) Percakapan kita ngalir dan..akhirnya aku dapet apa yang aku butuhin, tanpa harus bertnaya panjang leber ehhh si bapak udah cerita sendiri. Alhamdulillah…

##

Deadline pengumpulan tugas dateng juga..ujiannya presentasi apa yang uda di dapet di lapangan. Setelah celoteh laporan selese. Ahh.. nilai A/B aku kantongi untuk tugas ini. Alhamdulillah. Pyuhh…selain asyik reportase ternyata ga susah amat. Asal ada niat ternyata kemudahan datang juga.    

kok cuman A/B…alhamdulillah sie )

 

 

 

 

WAJAH CANTIK ITU ADALAH IBUKU

June 12, 2008

Tawa itu muncul lagi setelah sekian lama tertutupi gumpalan awan tanpa arah…ibuku sayang, aku selalu menyebutnya begitu, meski kadang terbesit juga ungkapan sayang ini punya arti atau tidak. Ibuku, adalah wanita tegar. Ibuku, Wanita yang selalu berusaha ingin maju. Ibuku, wanita penyayang meski bukan tipe yang gampang mengungkapkan rasa sayangnya pada keluarga dengan ucapan. Aku dan ibuku, bukanlah sahabat karib, namun kami dekat, dekat sekali. Ibuku, wanita berusia 46 tahun. Cantik, pintar dan idealis. Wajah cantik itu mulai tergores dengan kerutan-kerutan kecil, sayang ibuku bukan tipe wanita pesolek. Namun, masih saja tetap cantik dan muda dengan usia 46 tahun. Wanita tegar ini, masih saja tetap tersenyum. Namun Nampak tawar. Setawar teh kental tanpa gula. Ibuku sayang, apa yang menggangu pikiranmu ? akukah..? atau…?

 

Cantik sekali wajah itu…cantik, bukan sehari dua hari aku berada di dekatnya,

Wajah cantik dihiasi senyum yang selalu mengembang

Wajah cantik itulah yang selalu menjadi pacuanku untuk meraih asa.

Ibu, aku memanggil wajah cantik itu

Tidak sekali aku membuatmu mengkerutkan dahi, tidak sekali pula aku membingungkanmu dengan permasalahanku

Tapi kau selalu sabar menenangkan ku

Namun, wajah cantik itu sekarang murung…

apa dan siapa yang membuatmu murung?

 

Ibuku kini semakin sempurna, entah sejak kapan aku lebih suka memandang ibuku yang sekarang. Ibuku tak pernah marah lagi, meski sebenarnya kemarahannya untuk kebaikan buah hatinya. Ibuku, motivasi dan inspiriasiku. Kalimat manis yang selalu aku terima dari lathi ibu ” doa ibu selalu bersama kamu ”

 

Curhatan Hamba yang Tak Berbantal Iman

June 8, 2008

 

Andai saja hidup itu semanis coklat dan se yummy ice cream

Pasti gak bakal ada kata sedih tercipta.

Semua berjalan sesuai dengan keinginan kita…

 

Tapi, apa malah gak repot juga? Ah… gak enak ding…

Solanya klo hidup berjalan sesuai dengan keinginan kita, berarti ngapain juga kita hidup?pasti bakal gak bermakan dan gak berusaha dong kita?

Klo makan sayur gak ada bumbu penyedapnya juga ga enakkan?

Begitu juga dengan hidup. Masalah itukan adalah bumbu penyedapnya kehidupan.

Klo gak ada masalah, trus kapan kita  mempelajari kehidupan, merasakan kenikmatan jika kita bisa mencapai keinginan kita dengan beragam masalah, memikirkan bagaimana kita keluar dari masalah itu mpe mengambil hikmah dari masalah yang pernah kita hadapi.

 

Hmmm… masalah, ternyata juga adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada umatnya, artinya orang yang dikasih permasalahan hidup berarti dia diperhatiin ma Tuhan biar si manusianya tambah deket atau malah sebaliknya dan yang pasti Tuhan juga udah ngatur dan menimbang-nimbang klo si manusia itu bisa mengatasinya…

 

Btw, tapi saya gak mau bersahabat dengan masalah… Bikin pusing tau’!

Cukup mengenal saja…

 

 

Terkadang pernah terpikir gak se? Klo Tuhan terlalu jahat ma kita? Ngasih masalah gak ngira-ira?

Maksudte gini, katane tiap kali Tuhan memberikan masalah kepada umatnya gak akan melebihi kemampuan kita?

Iya, itu bener, di Al Qur’anpun sudah dijelaskan …

Tapi pernah juga kan kita menggugat atau mengeluh, curhat ma Tuhan sambil merengek-rengek agar ditolong untuk keluar dari permasalahan…

Tuhan juga kadang gak adil juga qo…

Aku juga tau, pikiran kayak gitu juga berdosa. Tapi aku yakin, setiap orang pernah atau suatu saat juga bakal berpikiran kayak gitu jgkan. Hayo?

 

Kita bisa aja ngedapetin barang apapun yang kita pengen. Walaupun tidak harus pada saat itu juga kita bisa memilikinya, tapi pada akhirnya kita juga bisa ngedapetinnya entah dengan cara apapun… bisa ngirit-irit nyisihin duit bulanan bwt beli sesuatu, minta duit ma ortu atau ya kerja bwt dapet duit…

Tapi, klo urusannya uda nyangkut ma yang bikin hidup bakal beda lagi ceritanya…

Bakal lebih keras lagi tantangannya bo’… Bahkan sering gak kesampaian… Ya gak? Terkadang aku juga sering ilfil dibuat-Nya…

 

Yah, tapi seilfil-ilfilna aku, juga aku percaya kok. Pasti Tuhan bakal akan selalu kasih yang terbaik untuk kita, walo terkadang kita ngerasa itu bukan yang terbaik untuk kita.

Iya enggak?

 

Surat Untuk Rie 4

June 7, 2008

Takdir. Kau sering mensenandungkan kata-kata itu bukan, Rie? Apa menurutmu makna takdir itu? Apa pula artinya bagi dirimu? Apakah dirimu mengimani takdir itu, Rie? Dan pernahkah kamu ingkari takdir itu? Semakin usang diri kita menata serpihan-serpihan bahtera hidup. Hanya untuk apa? Apakah hanya sekedar untuk tunduk pada takdir? Sesuatu yang bahkan setiap orang memiliki takrif berbeda-beda tentangnya.

Hidup itu misterius kan, Rie? Manusia akan menangisi, menertawakan, menyenangi, membenci bahtera hidup mereka. Apa yang akan mereka lakukan terhadap itu? Apakah menyerah begitu saja, yang kalau diibaratkan hidup ini hanya seperti mengantri pada sebuah loket di stasiun dengan tujuan entah kemana. Apa mereka akan terus mengais-ais makna melalui hikayat-hikayat kehidupan yang sudah usang. Atau bahkan memilih untuk mengakhiri hidup lebih awal karena kecewa dengan ketidak sempurnaan bahtera hidupnya?

Apakah dirimu merasa diriku terlalu banyak tanya, Rie? Atau dirimu merasa lebih nyaman kuberi pertanyaan semacam ini, daripada kuajukan satu pertanyaan yang mungkin akan membuatmu semakin menjauh dariku? Ironis, karena aku akan selalu bertanya dan bertanya kepada dirimu. Jangan bosan dulu, Rie, sebelum kuhidangkan pertanyaan puncak itu. Terserah nantinya akan kau muntahkan, kau ludahi, kau caci. Tapi simpan dulu semua itu untuk nanti.

Untuk sementara biar kujaga dulu api yang sudah sekarat ini agar tak padam diterpa angin-angin jahanam. Dan kubenahi pondasi perapiannya yang sudah hampir rubuh. Jangan pernah bertanya kenapa aku tidak bosan-bosannya melakukan semua ini. Ini sudah bagian dari takdirku, Rie. Ya, aku percaya bahwa takdir manusia adalah untuk berproses. Dan akan kuruntuhkan semua aral yang melintangi perjalananku. Itu juga berarti ketidak beranianku untuk menyajikan pertanyaan puncak itu di hadapanmu. Sudikah dirimu berbagi hati denganku?

Surat Untuk Rie 5

June 7, 2008

Mungkin agak berbeda apa yang akan kututurkan padamu kali ini, Rie. Bukan, sama sekali bukan tentang perasaanku padamu. Kukira kau sudah dapat mengerti, sampai saat ini masih tak bisa kuubah perasaan itu. Kali ini akan kuceritakan bibit dari sebuah kebahagiaan yang sedang kupupuk saat ini, Rie. Tenang saja, tak akan kuselipkan barang sedikitpun ratapan picisan dalam suratku kali ini. Semua hanya tentang kebahagiaan.

· Benih
Semua berawal dari seonggok janin, kata para dokter itu. Ya, dari segumpal daging yang masih merah dan sedang berproses di dalam rahim seorang perempuan. Konon, janin itu masih belum bernyawa. Si empunya rahim yang terus membagi nyawanya hingga janin mencapai usia empat bulan. Barulah kehidupan menganugerahinya dengan nyawa.
Runtuh sudah semua keyakinanku tentang sebuah ketidakyakinanku selama ini, Rie. Marah, tentu saja sebuah hal yang pertama kulakukan saat mendengar kabar ini. Sudah sempat ku ungkal pisau dapur yang hampir berkarat itu. Ya, akan kubuat si penebar sperma itu mampus. Akan kuusir dia dari kehidupan ini. Kubuat mampus dia, Rie. Itu sumpahku.
Tapi rupanya semua menjadi berbeda, saat aku mendengar tangisan pertamanya. Nafas pertama yang dia hembuskan, mendesis mengaliri urat-urat nadi. Meredakan semua dendam ataupun amarah. Sekujur tubuh ini rasanya beku, tak mampu berkata-kata. Rasanya baru sekali ini diriku mengalami perasaan yang tak mampu kugambarkan ini. Seluruh arak ternikmat di dunia ini pun, tak akan mampu memberikan sensasi seindah yang sedang kualami ini.
Hanya dari isak tangis yang terus di teriakkan si jabang bayi, Rie, benih kebahagiaan dalam diriku tumbuh. Perlahan-lahan mulai mengakar dan mengikat hatiku. Untuk terus berlari dari pertanyaan-pertanyaan yang mengejarku, pun kuhentikan. Karena jawaban yang kucari selama ini, sudah hampir semua kutemukan.

I always depart but I never arrive,
never a moment passes by
when I feel I’m not treading water In a sea of drifting souls.
No way out, there’s no escape,
running blind and running scared
and the cctv cameras track my movements In the maze,
(Circle Line, performed by:FISH, Composed by:FISH)

· Afeksi
Semua orang di dunia ini pada dasarnya akan ketakutan jika merenungkan kematian. Itu aku yakin. Gelap malam yang rasanya terus akan seperti itu sampai akhir zaman, menemani terawangku dalam dunia imaji. Tentang kematian, tentang kehidupan, tentang siapa itu tuhan. Hah, tak kusangka dewa-dewi malam rupanya berbaik hati memberi sedikit pelita.
Kecil memang pelita itu. Tak cukup untuk menerangi keabadian malam, kurasa. Tapi bagiku mampu menghapus sedikit keraguan dalam hidup yang tak berarah ini. Semoga saja juru mudi jiwa, dapat sedikit tersadar melihat titik gemerlap di ufuk gelap. Berpendar, menguraikan segaris cahaya dan menusuk ke dalam hati.
Tak kusangka di akhir luapan amarah, nafsu liar dan bahkan keinginan membunuh, aku bersujud pada penasbihan penghuni baru dunia ini. Kucucurkan titik-titik air mata kebahagiaan, senyum suka-cita, pun hati yang menjadi tentram. Tak ragu, kurasa aku telah jatuh hati.
Hatiku, Rie, sebagian kecil sudah kupersiapkan untuk kubagi dengan dirinya. Dia bukan darah-dagingku, tapi aku berharap dari dirinya aku mampu membagi tigaperempat bagian hatiku untuk anak-anakku kelak. Tapi saat ini afeksi terbesar hatiku akan kucurahkan untuk si jabang bayi. Ya, dia adalah Prasada Ananta Ma`alouf, dia putraku.


Then you showed me the way, and I will follow,
To the end of my days, and you know I will follow
The thirteenth star.
(13TH STAR, Performed by: Fish, Lyrics Composed by: Fish)

Paket Komplit dari Sebuah Jalinan

June 2, 2008

 

 

Siang itu, jadwal Candra untuk menemaniku ke klinik skincare di seputaran Jln.Suroto (Kotabaru) trus makan siang bareng deh.

 

Selama kurang lebih satu setengah tahun Candra  mengisi hari-hariku dengan serentetan kisah-kisah lucu. Aku bisa dengan puas memuntahkan semua keluh kesah yang ingin aku critain begitupun dia. Sampai-sampai aku hafal bener tabiat-tabiat dia yang super nyeleneh plus nyebai. Kebiasaan dia sewaktu kita jalan bareng  pasti kentut di mobil sembarangan, ngomentari cewek-cewek sekelilingnya yang ada di tempat makan itu, ngomong jorok dan berkeluh seputar pekerjaannya. Kebiasaan lain yang paling sering ia lakukan, dia hobi banget yang namanya tidur sembarangan. Di mana aja, klo dia ngerasa ngantuk yaudah pasti dia bakal tidur di situ. Konyolnya lagi, pernah waktu dia lagi nyetir seper berapa detik dia tertidur, makanya jika udah kayak gitu ceritanya, satu langkah yang pasti dia lakuin adalah nyubitin pipinya sendiri atau jailin aku. Kadang aku juga harus bawel nelponin dia pagi-pagi buat bangunin buat sholat shubuh dan berangkat kuliah pagi. Maklumlah, semenjak pindah kerja, tiap hari dia harus siaran dari jam enam sore sampe jam 12 malam. Enggak melulu siaran tapi, merangkap jadi operator juga. Maka tak heran jika siangnya pasti bawaannya ngantuk dan gak bisa bangun pagi. Satu lagi kebiasaan yang tak kalah malu-maluin yakni sewaktu makan di warung makan prasmanan dengan mengambil  porsi cukup banyak dan jika aku sudah meliriknya, dengan lantang dia lansung jawab.

“Maklum, buat menghidupi badan jangkungku.” sambil nyengir.

Di samping makan dengan porsi bignya, satu menu yang tak terlewatkan dari piringnya adalah all about kentang, lebih spesifik lagi kentang balado.

 

Eniwei, tugas pertamanya untuk mengantarku ke klinik  sudah selesai dan sewaktu kita mau cari tempat makan tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Ternyata, kita harus ke Jogja TV untuk urusan pekerjaannya. Yah, itu sudah menjadi hal biasa bahkan sebuah rutinitas tiap kali kita pergi pasti ada-ada aja pekerjaan yang harus dia selesaikan terlebih dahulu.

Sebelum ke Jogja TV, kita mampir makan dulu ke rumah makan milik temannya di Paguyuban Dimas Diajeng.

Jam sudah menunjuk pukul setengah dua belas siang. Berarti kita harus cepat- cepat ke Jogja TV karena masih ada kuliah jam satu siang.    

 

Di dalam si “Merah” akupun   disibukan  mencari-cari channel radio.

“Itu aja, dengerin Y****A,” pintanya.

“Ya eyalaaah…pasti kamu bilang gitu. Sebelum kamu pindah ke radio itu, juga aku suruh dengerin radio S**R FM mulu, mpe bosen aku dengerin,” sahutku.

“Hwehehe…emang iya ya?” sambil cengar-cengir.

“Iiiiihhh… baru nyadar lagi! Dasarrrr!!!” jawabku.

 

Sesaat kemudian, dia langsung gede-in volume radio.

Sang announcer muter lagu milik  Sheila On 7 yang berjudul Kita.

 

Spontan, mata kitapun saling berpandangan  sambil cengar-cengir gak jelas.

Sontak tertawa lepas sambil teriak teriak nyanyiin lagu itu di dalam si ”Merah”.

Selama perjalanan, kita malah keasyikan  flashback yang udah kita laluin bersama selama kurang lebih satu setengah tahun yang lalu.

***

 

Semua berawal dari buku Radio yang ia pinjamkan untukku hingga berlanjut sampai sekarang.

Waktu itu, aku lagi pusing nyari pinjaman buku tentang radio untuk tugas mata kuliah Dasar-Dasar Broadcasting yang harus di kumpulkan keesokan pagi. Padahal, aku sama sekali lom buat dan gak ada bahan satupun. Sewaktu anak-anak lagi pada kumpul di halaman depan kampus sambil sibuk bicarain tugas karena suruh buat paper sebanyak lima lembar. Untuk ukuran mahasiswa angkatan baru, tugas makalah lima lembar itu sangatlah  banyak.

 

”Hwaaaa Candraaa… aku lom ada bahan sama sekali. Trus piye ki Can?” isakku dengan nada khasku.

”Aku dah slese, ni dia tugasnya.” jawab Candra sambil menyodorkan paper miliknya.

”Klo kamu mau, aku bawa soft filenya juga kok. Tinggal kamu tambah-tambahin aja, asal gak terlalu sama aja kayak punyaku. Atau, aku punya banyak buku-buku radio. Kamu mau?” tambah Candra.

”Mana? Kamu bawa bukunya gak? Klo copy paste aku takut ketauan ah…,” kataku.

”Yaudah, kamu tunggu di sini, paling 10 menitan. Aku ambilin di kos. Cuman bentar kok. Ya?” pinta Candra.

”Gak usah aja. Biar aku searching ntar. Lagian kos mu kan Km.8.”

”Halah, gpp. Cuman bentar. Udah, kamu tunggu sini, jangan kemana-mana.”sambil lari ke arah parkiran dan langsung pergi.

***

… beberapa menit berlalu, aku pikir dia gak balik-balik. Tak lama kemudian, aku liat juga Candra  di parkiran.

”Fiuhh… Lega aku liat dia lagi.” keluhku.

Dia menenteng  beberapa buku sambil berlari ke arahku.

”Tadaaa… ni dia bukunya. Udah, sekarang kamu cepet-cepet pulang sana trus ngerjain tugas. Aku tinggal yah, soalnya aku siaran jam 11.”

”Makasih banyak yah Can.” kataku.

”Iya, ah udah dulu ya. Aku buru-buru ni.” sambil lari lagi ke arah parkiran.

Buku udah di tangan, dan akupun segera bergegas pulang untuk buat tugas itu.

Sejak itu, kita sering hangout bareng atau cuman sekadar ngobrol di sela-sela kuliah.

***

Tepatnya di bulan Juni 2007, kampus ada event yang namanya Communication Field Trip yakni acara kunjungan ke beberapa stasiun televisi + radio dan media cetak di Jakarta. Seusai acara itu, aku masih tinggal di Jakarta dan Candrapun juga gak langsung balik ke Jogja.

”Des, kontak-kontak yah. Ntar kita jalan-jalan lagi.”

” Yup.” jawabku, sambil berlalu  karena aku uda dijemput kakak.

***

Tiiit….

“Naek busway yuk?” (send massage from : Candra Hp)

***

“Mbak, catetin rute busway dunk!” kataku.

“Hah! Kamu mau naek busway? Emang mau ke mana? Kita jalan-jalannya nunggu Mas Danni sepulang kantor aja.” kakakku menjawab sambil muka bingung.

”Enggak. Aku mau naek busway ma Candra. Cowok yang kemaren itu loh…” tandasku.

Oalah… Yauwis… Bentar tak catetin.” sambil ambil pulpen dan secarik kertas.

***

Untuk kali pertama, Candra aku kenalin ke mbakku dan Candra juga mulai akrab dengan ke dua ponakanku.

Siang itu matahari masih hangat-hangat kuku mengenai kulitku. ”Bukan awal yang buruk.” pikirku.

Kami bergegas memulai petualangan untuk hari ini menyusuri kota Jakarta dengan menggunakan busway.

***

Matahari makin panas dan seperti biasa, asap-asap kendaraan mulai membubung tinggi menghiasi kota megapolitan itu.

Dengan udara yang sepanas itu ditambah kebisingan-kebisingan suara kendaraan bermotor, keluh kesah Candra lom juga aku dengar keluar dari mulutnya. Muka dia masih terlihat biasa saja sambil ngoceh sana-sini.  Satu hal yang bisa aku garis bawahi omongan dia sepanjang perjalanan dari Jatiasih sampai berhenti di deket hypermarket Giant.

”Wah, aku seneng banget deh Des…akhirnya kita bisa jalan-jalan naik Busway. Maklumlah, di Jogja mana ada Busway.” sambil tertawa lepas.

***

Dengan penuh pengorbanan karena kita harus naik angkot kemudian diteruskan naik bus dan berjalan lumayan jauh menuju halte akhirnya, kita merasakan Busway juga.

Menit pertama, Candra masih menikmati perjalanan sambil sesekali jeprat-jepret menggunakan kamera ponselnya.  Dan… Ooouw….. beberapa menit kemudian, dia terlelap tidur dengan muka cape’nya.

Jadi intinya, selama perjalanan muterin Jakarta naek Busway cuman ditinggal tidur ma Candra. Sampai dipemberhentian terakhirpun Candra masih juga terlelap tidur.

”Can, bangun. Kita udah mpe blok M ni.” sambil membangunkannya.

”Heh. Blok M? Hehe…Maap, abis busnya enak buat tidur. Trus kita kemana?”

”Kita turunlah, ini pemberhentian terakhir. Ntar kita beli tiket lagi buat pulang.” kataku.

***

Biar berkesan, kitapun turun dari halte (apa yah, aku lupa?) trus naek angkot karena kita mau jalan-jalan ke Dufan. Sewaktu rangkaian acara jalan-jalan dengan anak-anak kampus, kita lom gitu puas. Akhirnya kita jalan-jalan menikmati sejuknya  pantai Ancol.

Setelah puas, kami pulang sekitar pukul tiga sore. Sesampainya di rumah, dengan muka masam, kaki pegel, badan encok plus harus ngobrol ­ngalor ngidul ma mbakku tapi menyenangkan juga seharian naek Busway.

***

”Des, kapan kita naek Trans Jogja?” ucap Candra.

”Naek aja sendiri… makasih deh. Palingan ntar kamu tinggal tidur lagi.” sindirku.

 ” Disaat kita bersama…

   Diwaktu kita tertawa, menangis, merenung oleh cinta

 

   Kau coba hapuskan rasa…

   Rasa dimana kau melayang jauh dari jiwaku, juga mimpiku

   Biarlah, biarlah hariku dan harimu

   Terbelenggu satu oleh ucapan manismu…

Des, ni jadi soundtrack kita yah. Hmmm….”sambil senyum simpul.

***

Itulah kita…

Sebuah jalinan yang gak ada seni nya sama sekali, namun begitu berarti…

Keluh kesahmu adalah melodi kehidupanku

dan arti hadirmu dikehidupanku adalah slide album yang terus kau toreh.

XL #2 (Extra Longgar)

June 2, 2008

”Uhm…Yah, not bad !”, ujarku.

 

Masih kulihat beberapa toko berjajar di sepanjang jalan. Seenggaknya aku masih bisa bernafas lega kalau-kalau aku butuh sesuatu tak jadi masalah. Semoga saja dugaanku salah yang selalu berpikiran  buruk tentang kota itu. Badanku sudah terlalu lelah untuk menikmati perjalanan dari bandara ke hotel karena tenagaku sudah terkuras menunggu berjam-jam di bandara tadi pagi.

Mataku mulai meredup dan  tak berapa lama kemudian sudah sampai di hotel Arum, tempat kami menginap selama berada di Banjarmasin.

Tak jauh dari tempat aku menginap juga  ada kantor pos dan beberapa toko.

***

Setelah selesai sholat Isya’ bareng, mataku tiba-tiba menjadi gelap, sehelai kain menutup mataku dan  diiringi dengan uluran tangan yang selalu menuntunku untuk berjalan.

Mobil terus melaju, akupun selalu ribut bertanya mau di bawa ke mana aku ini? Dan dia  hanya menyuruhku untuk diam.

Dekapan tangannya membuatku tenang. Tak berapa lama kemudian telepon genggamnya berbunyi. Akupun tak tau apa maksud perkataannya karena memakai sandi-sandi nggak jelas.

***

Tangannya kembali menggenggam tanganku dan melangkah keluar dari mobil.

Kudengar ucapan selamat datang yang tak tau dari mana arah suara itu.

Kaki ku terus melangkah, kurasakan papan-papan kayu berjejer seperti ular yang sedang merayap.

Regangan kain penutup mataku mulai melemah dan aku mulai bisa melihat seberkas cahaya …

Kulihat cahaya lilin berjejer seperti pasukan tentara yang sedang berbaris, menerangi setiap sudut di gubuk itu…

Tirai putih berhiaskan melati dan suara gemercik air menambah kehangatan…

Tak kudengar sepatah katapun keluar dari mulutnya…

 

Saat itu, suasana hatiku malah menjadi kacau dan bener-bener gak menyangka. Orang yang selama ini kukenal sesosok orang super aneh, suka nyalah-nyalahin orang, dan anti yang namanya romantis bisa mendadak romantis.

Imajinasiku mulai bermunculan saat itu. Pasti ini bakal menjadi malam yang b ener-bener tak bisa kulupakan dan  habis ini dia pasti akan mencium keningku sambil berkata ”aku sayang kamu”, mirip pelem-pelem di tipi…

 

 

Tak lama kemudian…

 

”Heh, qo malah bengong?, ngapain cengar-cengir gak jelas gitu?” kata Mas Arul.

 

Gubraaak….

Lamunanku buyar seketika…

 

”Woiii… Buruan di makan ikan bakarnya … Udah laper niii… Diambilin napa? Dasar bego!,” ujarnya.

”Hahaha…kenapa juga aku bikin acara surprise-surprise segala ya?jadi kelaperan deh…,” lanjutnya.

 

Gubraaaaak!!!! Seperti disambar petir…

Padahal aku udah berimajinasi yang indah-indah…Huh, sebel!

“Sabaaaar… sabaaar ngadepin orang kayak dia…

Huuuh…., apa dia tadi salah makan obat yah?hee…” dalam hatiku.

 

Uhm… selama pacaran, baru kali ini dia sok manis dan sok care di depan aku, eh ternyata buntut-buntutnya juga sama aja.. Nasib-nasib. Keluhku.

 

XL #1(Extra Longgar)

June 2, 2008

“Tik..tik..tik…”, satu jam berlalu.

”Tik..tik..tik… ”, dua jam berlalu.

Hingga…

”Tik..tik..tik…”, enam jam berlalu.

 

Sudah terlalu lama aku menunggu keberangkatan dari Jakarta menuju Banjarmasin dan bagian informasi tak juga membacakan jadwal keberangkatan yang tertera dilembar tiketku. Sedangkan Masku tak bosan-bosannya menelpon kantor hingga berjam-jam

 

Pagi itu, kami akan berangkat ke Banjarmasin selama tiga hari untuk urusan kantornya dan tugasku adalah menemaninya karena kebetulan aku sedang libur kuliah.

Akupun belum pernah menginjakkan kakiku ke Banjarmasin sebelumnya.

***

Kakakku tak henti-hentinya sms mengabarkan kalau dari pihak bandara untuk sementara waktu tidak memungkinkan untuk melakukan penerbangan saat itu karena dia melihat berita dari televisi.

***

Setelah kurang lebih delapan jam lamanya kita menunggu tanpa kepastian, akhirnya dari pihak bandara mengumumkan bahwa bandara ditutup untuk sementara waktu karena terjadi banjir dan semua  jadwal penerbangan hari itu dibatalkan karena cuaca yang tidak memungkinkan .

 

Kulihat, beberapa pertengkaran terjadi antara calon penumpang dengan pihak bandara.

Diplataran jalan di depan bandara Sukarno-Hattapun air mulai menggenangi di jalan-jalan.

Banyak sekali calon penumpang datang dengan memakai perahu karet yang disediakan dari pihak bandara.

Hari itu, bandara terlihat kacau sekali, tak seperti hari-hari biasanya.

 

Setelah menunggu sangat lama akhirnya, dari pihak bandara bilang, untuk no pesawat kita akan berangkat sekitar pukul empat pagi, tapi jika tergesa-gesa bisa saja naik penerbangan pukul satu dini hari dengan membayar uang tambahan, tentunya.

Finally, dengan beberapa pertimbangan, kita memutuskan untuk berangkat sesuai dengan jadwal penerbangan.

***

Memasuki jalan tol, kulihat mobil mulai berjubel bak pasukan perang yang akan tempur.

Kepadatan kota Megapolitan itupun mulai terlihat.

Karena bertepatan dengan jam makan siang yang makin terik, rasanya tak heran jika semua karyawan ingin keluar sejenak menghilangkan penat dan menyantap makan siang sesuai selera.  Dan, walhasil, kemacetanpun tak dapat dihindari lagi.

Setelah berjam-jam terjebak macet, akhirnya kita sampe rumah sekitar pukul lima sore.

Seperti tak percaya, akhirnya, ku dengar lagi celotehan  kedua

keponakanku lengkap dengan kejailannya.

Semua kepenatan dan rasa capek serasa runtuh setelah melihat tingkah polah kedua keponakanku berlarian ke sana-kemari sambil memburu tiga kucing kesayangannya.

”Om Arul, mana oleh-oleh buat i’am?” tanya I’am.

”Om Arul belum jadi ke Banjarmasin, nanti sesampainya di Banjarmasin langsung Om cariin oleh-oleh buat I’am deh. Emang Ilham mau oleh-oleh apa dari Banjarmasin?” tanya Mas Arul.

”I’am beliin mobil-mobilan yang gueedeee banget ya Om. Yang ada remotnya. Kok Michele, Lala ma Si Putih (nama kucingnya I’am) gak dibeliin oleh-oleh?” tanya I’am.

”Iya, nanti kucingnya juga dibeliin sama dek Nana juga dibeliin oleh-oleh.” Jawab Mas Arul.

”Mama, Ayah, Iyang, Atung, Tante Desti, Uti ma Akung Jogja gak dibeliin?” tanya I’am.

”Tante Destikan ikut ke Banjarmasin, masa dibeliin oleh-oleh? Iyah, nanti Om beliin semua oleh-oleh.” Jawab Mas Arul.

 

Setelah ngobrol banyak ma kakakku Mas Arul langsung pulang karena besok pagi harus berangkat pagi-pagi banget.

***

Jam tiga pagi, kita sudah berangkat dari rumah karena jarak dari rumah ke bandara memakan waktu sekitar satu jam.

Jalananpun masih lengang karena masih terlalu pagi. Selama perjalanan ke bandara, akupun masih bisa melanjutkan tidurku lagi.

 

Sesampainya di bandara, kita masih saja menunggu.

Ternyata pesawat masih delay.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB.

Pihak bandara tak juga memberi kepastian kapan kita akan berangkat.

Akhirnya, kita makan dulu di restoran yang ada di dalam bandara.

 

Hawa mengantuk dan  muka kusut masih menghiasi wajahku saat itu.

Tak ku hiraukan sama sekali walo berulang kali di komplen  Masku sekalipun.

Aku mulai bosen, penat, menunggu…

 

Wajah-wajah kelelahan mulai nampak pada calon penumpang.

Yang ada dalam pikiranku saat itu hanyalah sebuah tempat tidur lengkap dengan bantal dan selimutnya.

”Ouwh… sangat menyenangkan pasti jika aku bisa merebahkan badanku walo cuman sebentar.”, pikirku.

 

Tak lama kemudian…

Pesawat kami terbang pukul sembilan pagi.

***

Menapaki Sejarah Lewat Bangunan

June 2, 2008

Judul Buku       : Menyusuri Lorong-Lorong Dunia

                          Kumpulan Catatan Perjalanan

 

Pengarang        : Sigit Susanto

Penerbit            : Insist Press

Tebal                : 373 Halaman

 

Menapaki Sejarah Lewat Bangunan

 

Buku ini berkisahkan mengenai kumpulan cerita kisah-kisan perjalanan penulis (Sigit) mengelilingi dunia bersama istrinya, Claudia di belahan benua Eropa. Penulis lahir di Kendal dan bekerja cukup lama di Bali sebagai pemandu wisata. Kemudian tinggal di Swiss karena beristri Claudia. Berawal dari itulah, penulis sering berkeliling atau berwisata mengelilingi dunia.

           

Dalam buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Kumpulan Catatan Perjalanan ini, pembaca seperti diajak berwisata imajinasi disetiap tempat yang sudah dikunjunginya. Bagi saya dan pembaca lain yang belum pernah ke luar negeri terutama ke Eropa bisa berimajinasi dan mengetahui suasana tempat-tempat wisata yang pernah dikunjungi oleh penulis.

 

Setiap tulisan, penulis selalu menceritakan secara detail bagaimana sejarah dari tempat-tempat yang akan dikunjunginya. Secara tidak langsung, pembaca seperti membaca novel yang di dalamnya syarat dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang berhubungan dengan sejarah. Seandainya pelajaran sejarah di sekolah-sekolah dituliskan seperti itu, pasti siswa-siswa lebih tertarik untuk membacanya. Penulis lebih banyak mengunjungi tempat-tempat yang berbau peninggalan sejarah yang berkaitan dengan bidang seni, sastra, politik dan kebudayaan. Contohnya : pada saat penulis mengunjungi rumah Multatuli di Amsterdam yakni seorang  sastrawan besar. Kemudian penulis juga menyebut kota Venesia sebagai negeri surga bagi sastrawan. Penulis juga menceritakan pengalamannya sewaktu mengunjungi Fridakahlo di Meksiko yakni seorang pelukis.

 

Selain bercerita mengenai sejarah tempat-tempat yang akan dikunjunginya, penulis juga bercerita mengenai keseharian orang-orang luar negeri. Seperti sewaktu penulis mengunjungi di kota Meksiko, ternyata di Plaza Santo Domingo terdapat jasa penulisan karena banyak jumlah penduduk yang buta huruf. Kemudian disepanjang jalan itu penulis juga menemui badut yang beraksi ketika lampu merah dan ada juga terminal pemusik dengan pakaian ala cowboy dan Rock’n Roll. Penulis juga menceritakan bagaimana pengalaman dia sewaktu bertemu dengan orang-orang Indonesia. Seperti pada waktu dia di Paris, tepatnya di museum Musee National du Moyen-Age, penulis bertemu dengan Najib Azca, dosen departemen sosiologi UGM (Universitas Gajah Mada) yang sedang menghadiri undangan seminar tentang aksi kekerasan di negara-negara Asia Tenggara.

 

Kekurangan dari buku ini adalah penulis tidak secara detail menjelaskan bagaimana suasana sesungguhnya di setiap tempat yang ia kunjungi. Saya sering kesusahan bagaimana menggambarkan suasana di sana. Sebelum membaca buku ini, dalam pikiran saya bukunya seperti buku yang berjudul Ayat-Ayat Cinta yang di dalamnya di ceritakan secara detail bagaimana suasana di Mesir, kebiasaan-kebiasaan orang Arab bagaimana dan penulis mengambarkan bagaimana nikmatnya minum sari jus yakni minuman favorit orang Arab. Namun, ternyata di dalam buku ini konsepnya tidak seperti itu karena yang lebih ia tekankan adalah cerita bagaimana awal atau sejarah berdirinya tempat-tempat yang penulis kunjungi.  Kemudian, pada setiap awal cerita juga tak banyak menggunakan kata-kata yang lebih menarik perhatian untuk membacanya dan terkesan terlihat monoton. Dalam buku ini, setiap tempat-tempat yang ia kunjungi tidak selalu tertera kapan ia berkunjung jadi pembaca tidak bisa mengetahui atau membandingkan bagi pembaca yang sudah pernah ke sana agar bisa membandingkannya.