Archive for the ‘9.0.1.2.5’ Category

Fish

January 28, 2009

Surat Untuk Rie 4

June 7, 2008

Takdir. Kau sering mensenandungkan kata-kata itu bukan, Rie? Apa menurutmu makna takdir itu? Apa pula artinya bagi dirimu? Apakah dirimu mengimani takdir itu, Rie? Dan pernahkah kamu ingkari takdir itu? Semakin usang diri kita menata serpihan-serpihan bahtera hidup. Hanya untuk apa? Apakah hanya sekedar untuk tunduk pada takdir? Sesuatu yang bahkan setiap orang memiliki takrif berbeda-beda tentangnya.

Hidup itu misterius kan, Rie? Manusia akan menangisi, menertawakan, menyenangi, membenci bahtera hidup mereka. Apa yang akan mereka lakukan terhadap itu? Apakah menyerah begitu saja, yang kalau diibaratkan hidup ini hanya seperti mengantri pada sebuah loket di stasiun dengan tujuan entah kemana. Apa mereka akan terus mengais-ais makna melalui hikayat-hikayat kehidupan yang sudah usang. Atau bahkan memilih untuk mengakhiri hidup lebih awal karena kecewa dengan ketidak sempurnaan bahtera hidupnya?

Apakah dirimu merasa diriku terlalu banyak tanya, Rie? Atau dirimu merasa lebih nyaman kuberi pertanyaan semacam ini, daripada kuajukan satu pertanyaan yang mungkin akan membuatmu semakin menjauh dariku? Ironis, karena aku akan selalu bertanya dan bertanya kepada dirimu. Jangan bosan dulu, Rie, sebelum kuhidangkan pertanyaan puncak itu. Terserah nantinya akan kau muntahkan, kau ludahi, kau caci. Tapi simpan dulu semua itu untuk nanti.

Untuk sementara biar kujaga dulu api yang sudah sekarat ini agar tak padam diterpa angin-angin jahanam. Dan kubenahi pondasi perapiannya yang sudah hampir rubuh. Jangan pernah bertanya kenapa aku tidak bosan-bosannya melakukan semua ini. Ini sudah bagian dari takdirku, Rie. Ya, aku percaya bahwa takdir manusia adalah untuk berproses. Dan akan kuruntuhkan semua aral yang melintangi perjalananku. Itu juga berarti ketidak beranianku untuk menyajikan pertanyaan puncak itu di hadapanmu. Sudikah dirimu berbagi hati denganku?

Surat Untuk Rie 5

June 7, 2008

Mungkin agak berbeda apa yang akan kututurkan padamu kali ini, Rie. Bukan, sama sekali bukan tentang perasaanku padamu. Kukira kau sudah dapat mengerti, sampai saat ini masih tak bisa kuubah perasaan itu. Kali ini akan kuceritakan bibit dari sebuah kebahagiaan yang sedang kupupuk saat ini, Rie. Tenang saja, tak akan kuselipkan barang sedikitpun ratapan picisan dalam suratku kali ini. Semua hanya tentang kebahagiaan.

· Benih
Semua berawal dari seonggok janin, kata para dokter itu. Ya, dari segumpal daging yang masih merah dan sedang berproses di dalam rahim seorang perempuan. Konon, janin itu masih belum bernyawa. Si empunya rahim yang terus membagi nyawanya hingga janin mencapai usia empat bulan. Barulah kehidupan menganugerahinya dengan nyawa.
Runtuh sudah semua keyakinanku tentang sebuah ketidakyakinanku selama ini, Rie. Marah, tentu saja sebuah hal yang pertama kulakukan saat mendengar kabar ini. Sudah sempat ku ungkal pisau dapur yang hampir berkarat itu. Ya, akan kubuat si penebar sperma itu mampus. Akan kuusir dia dari kehidupan ini. Kubuat mampus dia, Rie. Itu sumpahku.
Tapi rupanya semua menjadi berbeda, saat aku mendengar tangisan pertamanya. Nafas pertama yang dia hembuskan, mendesis mengaliri urat-urat nadi. Meredakan semua dendam ataupun amarah. Sekujur tubuh ini rasanya beku, tak mampu berkata-kata. Rasanya baru sekali ini diriku mengalami perasaan yang tak mampu kugambarkan ini. Seluruh arak ternikmat di dunia ini pun, tak akan mampu memberikan sensasi seindah yang sedang kualami ini.
Hanya dari isak tangis yang terus di teriakkan si jabang bayi, Rie, benih kebahagiaan dalam diriku tumbuh. Perlahan-lahan mulai mengakar dan mengikat hatiku. Untuk terus berlari dari pertanyaan-pertanyaan yang mengejarku, pun kuhentikan. Karena jawaban yang kucari selama ini, sudah hampir semua kutemukan.

I always depart but I never arrive,
never a moment passes by
when I feel I’m not treading water In a sea of drifting souls.
No way out, there’s no escape,
running blind and running scared
and the cctv cameras track my movements In the maze,
(Circle Line, performed by:FISH, Composed by:FISH)

· Afeksi
Semua orang di dunia ini pada dasarnya akan ketakutan jika merenungkan kematian. Itu aku yakin. Gelap malam yang rasanya terus akan seperti itu sampai akhir zaman, menemani terawangku dalam dunia imaji. Tentang kematian, tentang kehidupan, tentang siapa itu tuhan. Hah, tak kusangka dewa-dewi malam rupanya berbaik hati memberi sedikit pelita.
Kecil memang pelita itu. Tak cukup untuk menerangi keabadian malam, kurasa. Tapi bagiku mampu menghapus sedikit keraguan dalam hidup yang tak berarah ini. Semoga saja juru mudi jiwa, dapat sedikit tersadar melihat titik gemerlap di ufuk gelap. Berpendar, menguraikan segaris cahaya dan menusuk ke dalam hati.
Tak kusangka di akhir luapan amarah, nafsu liar dan bahkan keinginan membunuh, aku bersujud pada penasbihan penghuni baru dunia ini. Kucucurkan titik-titik air mata kebahagiaan, senyum suka-cita, pun hati yang menjadi tentram. Tak ragu, kurasa aku telah jatuh hati.
Hatiku, Rie, sebagian kecil sudah kupersiapkan untuk kubagi dengan dirinya. Dia bukan darah-dagingku, tapi aku berharap dari dirinya aku mampu membagi tigaperempat bagian hatiku untuk anak-anakku kelak. Tapi saat ini afeksi terbesar hatiku akan kucurahkan untuk si jabang bayi. Ya, dia adalah Prasada Ananta Ma`alouf, dia putraku.


Then you showed me the way, and I will follow,
To the end of my days, and you know I will follow
The thirteenth star.
(13TH STAR, Performed by: Fish, Lyrics Composed by: Fish)

Elegi pinggir kali

April 24, 2008

Kali itu arusnya tenang, air mengalir dari hulunya di merapi dan berhilir di laut selatan. Batu-batu kali seukuran kebo bertumpukan disana-sini mengiring sepanjang sungai, seakan-akan beranak pinak. Lumut-lumut hijau menempel di kulit batu, indah tapi juga menjijikkan. Ikan-ikan dengan warna yang berkilauan melenggak-lenggok, meloncat-loncat dengan lihainya. Semua terlihat jelas jika kita melihatnya dari atas, seperti melihat ke dalam akuarium yang baru dikuras. Dari sana terdengar suara kecipak-kecipak air, diterjang tubuh-tubuh yang mungil. Sesekali tawa anak-anak kecil menggema memenuhi suasana hening.
Di pinggiran kali itu rimbunan bambu diterpa angin pagi yang semilir, daun-daunnya saling bergesekan menimbulkan suara mendesis. Seorang lelaki berusia tiga puluhan terduduk di tepian kali sambil membasuh sisa-sisa busa sabun di tubuh satu dari tiga anaknya. Tubuh lelaki kurus legam, menghitam di bakar sinar matahari. Titik-titik air yang bergulir di dadanya mengkilat diterpa cerah cahaya pagi. Dia berteriak mengingatkan salah satu anaknya agar tidak berenang terlalu tengah di sungai itu. Selesai dengan si ragil, di panggilnya si anak mbarep yang sedang asyik berenang dan bercanda dengan si nomor dua. Lalu di suruhnya duduk berjongkok.
Dia ambil se-sachet sampo murahan seharga lima ratus rupiah, yang dibeli dengan berhutang, di toko kelontong milik tetangga samping rumah. Ini tanggal tua pikirnya, jadi sah-sah saja untuk menambah panjang baris-baris catatan kecil yang berisi seluruh daftar hutang-nya. Tetangganya cukup baik untuk tidak mengeluarkan gerutuan di depan lelaki itu saat dia datang terbungkuk-bungkuk dan cengar-cengir, hendak menimbun hutang lagi di tokonya. Si tetangga mengerti bahwa dengan keadaan fisik dan ekonomi si lelaki, sangat tidak sopan jika menghardiknya perihal kebiasaannya (yang menurut si tetangga amat sangat tidak menyenangkan) berhutang. Selama ini si tetangga juga bermurah hati hanya menggunjingkan kebiasaan si lelaki itu dengan tetangga-tetangganya yang lain. Toh, akhirnya sampai juga gunjingan tak sedap itu di telinga si lelaki. Dia hanya nyengir. Dilanjutkannya mengusap-usap kepala si mbarep hingga penuh busa sampo, lalu dibasuhnya sampai bersih.
Disudahinya ritual mandi pagi itu. Ritual itu satu-satunya mandi yang mereka jalani selama satu hari. Karena saat sore menjelang, biasanya hujan turun dengan derasnya. Air sungai akan meluap diiringi arus yang tiba-tiba mengganas menggulung benda-benda tak berdaya yang menghalanginya. Disuruh putra-putranya membasuh diri satu-persatu, dengan handuk satu-satunya yang mereka miliki. Lalu dimasukkannya sabun yang sudah setipis lidah, dan sebatang kayu siwak, oleh-oleh pak haji dari Tanah Suci, ke dalam gayung berwarna biru tua.
Handuk itu penuh lubang yang menganga, hingga cukup bagi tangan kita untuk masuk dengan leluasa. Lubang itu juga yang menyebabkan handuk itu cepat basah digunakan putra-putra si lelaki. Hingga saat dia membasuh badan dengan handuk itu, seperti tidak ada artinya. Sekedar formalitas saja, agar melegakan anak-anaknya yang mulai khawatir melihat tubuh bapaknya dipenuhi bercak-bercak putih, panu, bermotifkan gugusan pulau yang menyebar dari ujung kiri ke ujung kanan tubuhnya. Dilipatnya handuk itu dan dia segera berambus dari sungai.
Tubuhnya terserok-serok menyusuri jalan setapak, dia berjalan hanya dibantu kaki dan tangan sebelah kanannya. Yang sebelah lagi, sudah lama hilang diterjang si kuda besi yang sedianya akan mengantarnya ke tanah rantau. Anak-anaknya hanya membantunya saat akan menaiki tangga, tidak berani mereka menolong lebih dari itu. Takut didamprat ayahnya, karena si ayah menganggap hal itu sebagai sebuah tanda ketidakmampuan.
Ya, lelaki itu percaya bahwa manusia adalah mahkluk yang takdirnya untuk berproses dan saling melengkapi. Berproses untuk dirinya sendiri sebagai mahkluk individual yang egoistik dan demi kebaikan dirinya. Saling melengkapi dengan manusia lainnya sebagai mahkluk sosial, dimana semua takkan menjadi mudah jika dia hanya hidup seorang diri. Contohnya adalah berhutang pada si tetangga yang menurutnya baik hati itu tadi.
Di pagi yang perlahan sudah merayap menjadi siang itu. Dia terserok-serok menghantar tubuhnya kembali ke rumah. Ditantangnya terik matahari yang menambah legam kulitnya sekaligus menyuburkan panu-panunya. Seperti kata sang biduan Vince Neill dan band-nya Motley Crue, I`m On My Way… I`m On My Way… Home Sweet Home….. Sejauh apapun manusia itu berjalan atau berproses, pada akhirnya rumah adalah pemberhentian terakhir mereka (atau minimal yang diidam-idamkan). Dan berharap semoga manusia lainnya sudi meneruskan proses itu.

*Tulisan ini bisa juga dilihat di arakabangan.wordpress.com

Surat Untuk Rie 3

April 24, 2008

Prolog
Garden party held today,
Invites call the debts to play.
Social climbers polish ladders,
Wayward sons once again have fathers.
Edgy eggs and queing cumbers,
Rudely wakened from their slumber,
Time has come again for slaughter,
On the lawns by still ‘cam’ waters….
(“Garden Party”, performed & Composed by MARILLION)

Pesta sudah dimulai, Rie. Manusia-manusia di kampus mulai kebingungan mencari tempatnya, mencoba meraba-raba statusnya, dan mengira-ngira setinggi apa prestisenya. Orang-orang yang dulunya liar, pun kini sudah memiliki panutan. Kalau kamu pernah melihat film berjudul Killing Fields, mungkin nanti akan seperti itu keadaannya. Bedanya, yang akan kita lihat hanya pembantaian antar teman ataupun kawan.
Menyedihkan, saat mereka tinggal selangkah dari menemukan jati diri. Akhirnya tumbang setelah terawai oleh hipokrisi. Yang lebih memasygulkan lagi, para hipokrit itu bepumpun menjadi satu wadah. Kau tahu Rie, apa lagu yang akan mereka nyanyikan? Mereka yang menganggap dirinya bahadur itu?
I am your battle priest, show me allegiance. I am your battle priest, pledge to me defiance. Suffer my pretty warrior, suffer my fallen child. The time has come to conquer and, i`ll provide your end…. We march!!!* (“Market Square Heroes”, preformed & composed by MARILLION)

I.    Ribang
Sudah lama, sejak terakhir aku bertemu kamu. Aku yakin, sedikit banyak alterasi terjadi pada dirimu. Kita manusia adalah penganut renaisans sejati bukan? Tidak ada yang bisa menyangkal itu kurasa. Apakah manusia akan mengingkari proses? Akan sangat munafik jika tidak bisa menerimanya.
Apa kabarmu kali ini? Apakah dirimu masih setia menata serpihan-serpihan teka-teki duniamu? Apa kau sadar, Rie, serpihan yang kau coba untuk rapikan itu akan selalu membidas. Ke atas dan ke bawah. Tak akan pernah berhenti berfluktuasi mengiringi jalannya sang waktu.
Kau mafhum akan kehadiran sang waktu bukan? Takutlah padanya, karena dia tidak akan menunggu manusia yang masih gemar hidup di masa lalu. Masa di mana tidak ada waktu. Masa yang sunyi, tak bernyawa, hanya dipenuhi bahana kesedihan pun tawa-tawa gembira. Masa lalu, Rie, akan selalu berakhir menjadi histeria, seindah apapun wujudnya, sesyahdu apapun melodinya.
Lalu apa guna manusia merindu? Apakah dengan merindu manusia akan menjadi munafik? Tidak Rie, itu hanya wujud afeksi manusia pada seseorang yang dikasihinya, dicintainya. Manusia yang sedang dirundung keinginan untuk membagi cintanya. Dan kurasa itu cukup untuk menjelaskan pada kompanyon-kompanyonku mengapa pelupuk mataku menghitam. Terlalu sering terjaga sehingga jarang terlelap.
When we touch, I just lost my self control. A sad sensation I can`t hide. To love Is easy, it ain`t easy to walk away. I keep the faith & there`s a reason why. No need to worry, no need to turn away, cause it don`t matter.. anyway….. I miss you in a heartbeat, I miss you right away, because it ain`t love if it don`t feel that way…. (“I miss you in a heartbeat”, performed & composed by Def Leppard)

II.    Loyalitas & Komitmen
Dari dinding-dinding kamarku kadang terdengar suara-suara penuh tanya. Suara lolongan anjing pun terasa seperti requiem, menyambut kedatangan peri-peri malam. Semua menemani keterjagaanku, memandangi cakrawala hitam penuh gemintang dengan kirananya yang berbinar mungil.
Tapi saat aku bertanya pada mereka, untuk apa aku terlahirkan ke dunia ini? Mereka terdiam, tanpa suara. Tidak pun desisan nyamuk yang rutin mengganggu tidur, yang kurasa sudah jarang terjadi akhir-akhir ini. Bahkan aku tidak merasakan jemariku melepuh tersulut bara sigaret yang semakin memendek.
Dalam kesunyian aku merasa takut. Dalam keheningan aku merindu. Buaian-buaian manja. Sandungan-sandungan penuh kasih sayang. Dari mereka-mereka yang berada di lingkar terdalam hidupku. Mereka-mereka yang pantas kuhargai dan kusanjung. Yang bahkan aku rela menyerahkan nyawaku, demi melihat senyum kebahagiaan tersungging di wajah mereka masing-masing. Mereka-mereka yang dimana kuletakkan loyalitas dan komitmenku.
Dari Ayahku aku mendapatkan keteguhan hati dan sifat keras kepalaku. Hal itu yang membuatku mampu menentukan sikap. Pada Ibuku aku bisa bermanja-manja menikmati hangat kasih sayangnya yang tak terbatas. Darinya aku diwarisi rasa cinta. Demi adik-adikku aku sanggup belajar untuk mencintai dan menjaga keseimbangan keluargaku. Karena keluarga Rie, asal-muasal kasih sayang itu. Dan semua didapat tanpa pamrih.
Kompanyon-kompanyonku Rie, tanpa mereka mungkin aku tidak akan pernah belajar menerima kenyataan. Kata-kata mereka, caci-maki mereka, itulah penjelmaan kasih sayang mereka padaku. Hanya mereka yang berhak menampar mukaku. Tamparan yang akan menjagaku sebelum tenggelam terlalu dalam menuju keterpurukan.  Kompanyon-kompanyonkulah penjaga sejati bagi diriku. Begitu juga diriku bagi mereka.
Dan yang terakhir, juga paling berharga dalam hidupku. Seseorang yang bersedia dengan ikhlas menyambut harapanku. Harapan untuk berbagi cinta denganku. Padanya aku akan memberikan separuh hatiku. Deminya aku akan mengakhiri semua pertanyaan-pertanyaanku. Karena aku yakin darinya aku menemukan jawaban-jawabanku. Sekadar dengan melihat ruku`nya, sujudnya aku merasa nyata. Kalaupun itu yang disebut cahaya, mungkin aku bisa mempercayainya. Dialah tujuan hidupku.
Kurasa sudah tidak perlu kujelaskan lebih lanjut lagi, pada siapa aku berharap akan kuberikan loyalitas dan komitmenku yang ketiga. Dengan bertingkah laku seperti ini padamu, kupikir sudah amat sangat jelas semua faal itu kutujukan padamu. Ya, hanya untuk kamu Rie.

III.    Epilog
Pereka cipta bahkan tidak bisa menjelaskan semua afeksi yang kutujukan padamu. Komposisi-komposisi berliku yang membawaku pada kesadaran saat ini. Rona-rona nurani yang semakin cemerlang. Semua terjadi bagai lantunan staccato irama-irama kehidupan. Menusuk tepat di sentral detak-detak nadi yang menghidupi manusia.
Mungkin akan lebih bijak jika kau tidak mencoba untuk mengerti alasanku bertindak seperti ini. Aku ini bebal pada kenyataan yang kini sudah terhampar jelas di hadapanku. Perlukah kita membangun ikrar dalam keadaan ini? Semua ada di tanganmu Rie. Karena kaulah yang menyulut api ini.

I’m gonna play your game
I wanna play with fire
I want to breathe your air
Baby, gonna take you there
If you lay your cards on the table
I’ll lay my love on the line
Till you’re mine

I just happen to be a man
And you happen to be a woman
And we happen to be together
Try to stop this thing comin’

Stand up, kick love into motion
Take a little love and shake it all around, stand up
Stand up, kick love into motion
Take me in your arms and throw me to the ground
Down to the ground, baby come on
Stand up, stand up for love

You couldn’t get it much better
You never had it so good
Stand up together
And when you’re ready to
You’re gonna get what you should

Little by little
Like a fine wine
My love is like a motor
Runnin’ all the time
Step by step
Easy and slow
On the stairway to heaven
What a way to go

( “Stand Up (Kick Love Into Motion)” performed & Composed by Def Leppard )

Surat Untuk Rie

April 24, 2008

9 – 12 – 2007

Rie, Aku tadi siang melancong ke pantai pelelangan ikan, bersama kawan – kawan. Ramai orang disana, berlalu – lalang, bersenda – gurau dan bercengkerama. Pasar ikan penuh sesak orang tawar- menawar mencari harga yang tepat. Sementara yang ditawar sudah terbujur kaku dengan mata melotot, dingin. Hanya bau amisnya yang tertinggal. Entah berapa kilo ikan yang kuhabiskan sore itu bersama para kompanyonku. Eh, lucu juga kalau kupikir, pak nelayan bersusah payah semalam suntuk begadang mencari ikan di laut lepas. Sementara angin selatan bertiup dengan keji-nya menembusi tubuh – tubuh rapuh dan legam itu. Kita hanya tinggal menikmati hasil tangkapan jala mereka sambil duduk dan bersenda – gurau. Kalau saja aku bisa ikut merasakan ikhtiar mereka di laut, mungkin nikmatnya akan menjadi berlipat – lipat tak terbayangkan. Seperti saat aku mengumpulkan keberanian untuk mengajakmu keluar hari sabtu kemarin. Hei, aku bisa bangun pagi hari itu…..

Setelah perutku ini kenyang penuh ikan aku mengimbit ke pinggir pantai. Aku rebahkan diriku di ujung dalam sampan nelayan yang asak dengan bau amis ikan dan keringat. Tahu tidak Rie, matahari sedang tersipu malu dibalik awan tebal yang menggulung di langit. Siang itu hanya tersisa angin laut yang dingin, walau tidak sedingin di waktu malam. Mataku terpejam, sementara imajiku mendendangkan lagu “Babe” dari STYX yang kau putar sore itu di kamarku. Seolah – olah lirik lagu itu mengangankan ada dirimu disini. Egoiskah kalau seandainya aku berharap dirimu seperti itu juga?… Kau masih ingat si Angga Rie?. Dia sedang berlarian bertelanjang kaki kesana kemari saat itu. Dia melompati sampan – sampan nelayan yang berjajar tidak begitu rapi dengan lincahnya. Kakinya meninggalkan jejak – jejak mungil di pasir pantai yang penuh bertebaran sampah dengan berbagai macam warna – warninya. Kuamati terus dirinya, senyumnya tidak pernah berhenti mengembang seperti langkah kecil kakinya yang seperti melaju tanpa akhir. Dia bebas Rie.

Aku keluar dari sampan itu, lalu berdiri diatas pasir yang lembut dan rapuh ditimpa tubuhku. Aku ratakan pasir yang bergelombang tak teratur di bawah kakiku. Setelah kurasa cukup, aku mengambil setangkai ranting kering dan kuruncingkan ujungnya. Lalu aku mengukir namamu di bagian atas, sedang dibawahnya kuukir namaku sendiri. Di tengah tulisan tadi kugambar hati. Sesimpul senyum mengembang di bibirku, aku merasa bagaikan seorang anak kecil yang baru mengalami afeksi untuk pertama kalinya. Aku sendiri bingung, apa aku ini masih kanak – kanak di dalam hatiku? Tapi bukankah kita semua anak dan budak dari kehidupan? Kita ini budak Rie, tapi budak yang merdeka. Budak yang bebas untuk menentukan hidup seperti apa yang akan kita masing – masing hambakan. Jangan sampai kita menjadi munafik yang hanya bisa menjiplak, ibarat seonggok tubuh tak berjiwa.

Langit sudah mulai agak gelap, lembayung perlahan – lahan mulai padam di ufuk barat. Sang mega meneteskan air sedikit – sedikit. Kami berlalu dari pesisir menuju lereng merapi. Holden merah tua itu melaju tersendat – sendat didera hujan. Airnya menetes setitik – setitik masuk ke dalam mobil. Aku mulai lukiskan lagi apa yang aku ukir tadi di pasir pantai, tapi kali ini di batinku. Karena aku yakin, entah air hujan atau ombak pasang pasti telah mengikis habis ukiran yang kubuat tadi. Dan aku tidak ingin itu menjadi pudar begitu saja. Sambil kucoba pelan – pelan membunuh hasrat untuk meminta imbalan, kalaupun bisa. Di luar hujan masih saja deras, orang – orang menepi, berlindung di bawah atap di pinggir jalan. Dari radio sayup – sayup mengalun lagu dari YES, kusulut sebatang sigaret lalu kuhisap dan kuhembus pelan, datar, biasa saja…….. (9.0.1.2.5)

If ever I needed someone,
You were there when I needed you.
You save me from falling,
Save me from falling.
I`m so in love with you…..
(Final Eyes, written by: Trevor Rabin, Tony Kaye, Jon Anderson & Chris Squire. Performed by:YES)

*Inspired by Pramoedya Ananta Toer Novel.

PS: #Tulisan ini cocok dinikmati sambil mendengarkan beberapa rekomendasi lagu dibawah ini :
1.    YES – Final Eyes
2.    Marillion – No One Can
3.    Van Halen – Love Walks In
4.    STYX – Babe
5.    Slaughter – You Are The One
6.    Skid Row – I Remember You
7.    Warrant – I Saw Red
8.    Bad English – When I See You Smile
9.    Soendari Soekotjo – Nandang Wuyung
10.    Dashboard Convensional – Vindicated