Archive for the ‘Tan Han Un’ Category
Fish
January 28, 2009Seperti Membaca Indonesia by Tan Han Un
May 20, 2008Judul : Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu
Penulis : P. Swantoro
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan II : Agustus 2002
Tebal : 436 halaman
Menyimak isi buku ini, seolah membaca banyak buku penting yang tak akan bisa ditemukan di toko-toko buku. Sebab, buku-buku yang diceritakan termasuk dalam kategori buku-buku tua nan langka.
Buku ini berisi bermacam-macam cerita yang tak berhubungan satu dengan yang lain. Ada cerita tentang lambang-lambang kotapraja Hindia-Belanda, kisah bagaimana Poerwadarminta membuat Kamus Umum Bahasa Indonesia, penggambaran keris dalam budaya sang “Mpu”, dan koreksi istilah “Tanam Paksa” menjadi “Sistem Budidaya Tanaman” atas terjemahan yang tepat untuk “Cultuurstelsel”.
Pokoknya semua kisah sambung menyambung menjadi satu kesatuan kisah yang menarik untuk diikuti. Dengan hanya membaca satu buku layaknya kita membaca lebih dari 200 buku. Buku-buku tampil menjadi pribadi yang hidup, bagaimana buku lahir, berkembang, bergerak dan menggerakkan sang pencerita dalam kegiatan-kegiatannya sehari-hari. Di balik semua itu, masih tersembunyi sekitar 3000 buku lainmilik Swantoroyang tak cukup diceritakan dalam satu buku ini.
Swantoro seolah mampu mengganti buku-buku pelajaran sejarah yang susah dimengerti anak sekolah. Kalau saja buku-buku pelajaran itu musnah, maka buku bagus ini bisa jadi penggganti. Menggantikan sebagai buku, sekaligus pemandu untuk membaca Indonesia.
Ketika Aku Menjadi Bukan Teman Lagi by Tan Han Un
April 25, 2008otak bodoh mengganyang pikiranmu dalam situasi kritis di bawah alam sadar
bahaya mengancam jiwamu kelak
aku takkan menegurmu untuk kedua kalinya
karena aku ternyata bukan apapun denganmu
dan ternyata kau bukan apa-apa tanpa seorang aku
pikirkan itu
Pak Budi sedang Flu by Tan Han Un
April 23, 2008Pak Budi sedang flu. Tadi sore ia SMS padaku kalau batuk menyiksa tenggorokan.
Malam selalu akrab sebagai teman. Aku sengaja bikin janji dengannya kalau aku mau telpon sepulang ia kerja.
“Halo. Wis mulih rung?”
“Eeem… Aku isih dolan nggon kancaku. Wetan kampusmu.”
“Oo…”
“Yo mengko yo. Rodo mbengi.”
“Yoh.”
Tut tut tut tut…
Daerah sekujur badanku terasa langsung berhenti mengalir. Pak Budi katanya sedang sakit, malah bandel saja. Tapi memang seperti itulah ia, pak Budi.
Aku rindu menatap kulit gelap itu. Selepas hujan malam minggu itu, pak Budi seolah menjadi wujud yang patut aku buru. Pak Budi menjadi the most wanted.
Rombongan imajinasi bergerilya dalam mimpiku. Aku ingin mencintainya seperti flu yang dirasakannya. Aku tunggu pertemuan kita dalam sabtu ke dua puluh enam.
Pak Budi Today Off by Tan Han Un
April 21, 2008
Senja cerah itu membakar sisi kiri kepala pak Budi. Silau membuatku malas menatap wajahnya. Sisa-sisa keringat kecil di sudut keningku menjadi saksi atas jalan-jalan seharian tadi. Pak Budi today off.
“Sesuai tujuan?”
“Manut wae aku.”
“Koq manut wae. Gah!”
“Aku neng ngendi wae gelem, angger karo kowe.”
“A…mboh.”
Pak Budi hari ini tampil beda dengan kaos coklatnya. Aku suka. Biasanya baju yang kemarin-kemarin saja. Aku harap kencanku besok dia pakai kaos yang lain lagi. Bosan sih liat yang itu-itu saja. Padahal aku selalu berusaha tampil cantik di depannya.
Belanja di swalayan grosir adalah tujuan kami. Beli jeruk oranye manis satu kilo, wafer murah dua bungkus, dua buku tulis, pensil dan pulpen. Aku heran melihat pak Budi. Tiap kita belanja, yang dia tuju adalah deretan perkakas rumah. Kumaklumi, sebentar lagi ia mau bangun rumah.
“Omah nggo kowe nduk,” katanya.
Kalau membayangkan fantasi masa depanku bersamanya, aku pikir itu adalah hal konyol. Tak habis pikir, aku. Bisa-bisanya aku ketemu pak Budi, sampai nasibku kayak begini. Tiba-tiba saja aku harus … Ah! Sebenarnya aku tak mau! Tapi apa mau dikata. Tinggal tunggu tanggal mainnya.
”Aku suka liat bibirmu”
“Kenapa?”
“Ora.”
“Ah yo sokor.”
Dan tiba-tiba senja cerah itu membakar sisi kiri kepala pak Budi. Silau membuatku malas menatap wajahnya. Sisa-sisa keringat kecil di sudut keningku menjadi saksi atas jalan-jalan seharian tadi. Pak Budi today off.
Segelas Susu dari Ibu by Tan Han Un
April 21, 2008Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi kutolong ibu
Membersihkan tempat tidurku
Adzan subuh menggema merdu. Ibu membangunkanku dari tidur nyenyak delapan jam. Setelah shalat subuh kujalankan, aku tidur lagi. Jam enam pagi ibu membangunkanku bersiap ke sekolah. Di kamar, tergantung seragam dan dasi yang telah diseterika rapi. Sepatu hitam yang sudah disemir bagus dan kaos kaki putih sudah siap di sudut kamar. Setelah mandi, ibu membantu memakaikan aku seragam. Rambutku disisir rapi. Kadang aku heran, bisa-bisanya ibu memberikan pelayanan yahud.
Sejak kecilku diasuh oleh ayah ibu
Tak pernah dia mengeluh malam ku dijaga
Pesan dari ibu guru kuingat selalu
Doakanlah orangtua biar masuk surga
Waktu itu adalah siang terik. Aku masih setia bermain dengan Heri. Tetangga kampung belakang sekaligus teman sekelas. Aku tatap Heri yang sedang meneguk segelas susu. Aku bisa merasakan betapa nikmatnya susu itu, melihat cara Heri minum yang berselera.
“Enak, Her?” aku bertanya. Heri tak menjawab. Cuma matanya merem melek keenakan. Setelah tegukan terakhir, ia menjilati bibirnya.
“Hmm… Syedaaap…” kata Heri. Aku menelan ludah. Ingin sekali rasanya aku merasakan susu yang dinikmati Heri.
“Yuk, ah. Aku harus pulang. Mo’ mandi.” Heri berlari meninggalkanku. Anak itu masuk ke rumahnya. Aku menatap Heri hilang di rumah besar bercat putih itu. Lalu aku pulang. Ibu sudah menunggu di rumah.
Aku memperhatikan ibu yang sedang menguleni adonan untuk pisang goreng. Kelihatan capek. Tadi pagi ibu mencuci banyak sekali. Dan siangnya harus menyeterika. Habis sholat Ashar, ibu langsung membuat adonan itu.
“Kenapa, le? Kok tidak biasanya memperhatikan ibu seperti itu?” Tiba-tiba ibu bertanya. Aku tersipu-sipu.
“Bu, kalau aku minta sesuatu boleh nggak?” Akhirnya aku menjawab. Ibu menghentikan gerakan tangannya mencelupkan pisang ke adonan tepung. Ibu heran, tidak biasanya aku minta sesuatu. Walaupun baru berumur sembilan tahun, aku mengerti betapa susahnya kehidupan kami.
“Kamu mau minta apa?” Ibu bertanya setelah diam sejenak.
“Aku pingin minum susu seperti Heri.” Ibu menghela napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. Anak terakhir dari empat bersaudara minta dibelikan segelas susu seperti temannya. Sebuah permintaan yang wajar. Dan memang sudah seharusnya anak sebesar aku selalu minum susu tiap hari. Tapi apa dayanya?
“Bu, bisa kan aku mendapat segelas susu? Nanti aku akan lebih giat membantu ibu. Bisa ya, bu?” Aku berkata penuh harap. Ibu tidak tega untuk mengecewakanku. Anaknya tidak pernah minta macam-macam selama ini. Aku selalu menerima apa adanya. Sekarang begitu besar keinginanku sampai meminta kepada ibu. Akhirnya ibu cuma bisa mengangguk dalam diam. Mata wanita itu kini semakin berkabut melihat sinar kebahagiaan di mata anaknya.
“Terima kasih, bu. Sekarang aku mau siap-siap menjajakan gorengan ini. Nanti aku terus ngaji ke masjid, ya bu.”
Lusanya, aku bergegas mencari Heri untuk bermain dan memamerkan susu pemberian ibu.
“Lihat, Her. Sekarang aku juga bisa minum susu seperti kamu.” Dengan bangga aku perlihatkan segelas susu yang diberikan ibu barusan, kepada Heri. Lalu dengan gaya persis Heri, aku teguk susu itu dengan nikmat, Heri menatap dengan iri. Sepertinya susu yang kuminum lebih nikmat daripada susu yang biasa Heri minum.
“Enak?” Heri bertanya meyakinkanku. Aku mengangguk. Aku mengelap sisa-sisa susu di bibirku sebelum menjawab.
“H m m m m m . . . syeeeedaaaaaaap….”
Mulai saat itu aku menjadi anak paling bahagia di dunia. Aku lebih akrab dengan ibu, kadang juga dengan bapak. Tapi bapak sudah sepuh, aku jadi tidak berani minta macam-macam. Cuma sama ibu saja.
Heri sekarang masih saja sibuk mencariku walaupun kami sudah beda sekolah. Kami sudah SMA. Aku juga masih saja sibuk membantu ibu. Biaya sekolah tidak memberatkan ibu. Aku mendapat beasiswa, katanya aku pandai. Setahuku sih aku ya begini-begini saja. Tidak ada yang istimewa dariku. Ya lumayanlah, walaupun begitu aku harus selalu membantu keluarga. Kakak sulung laki-lakiku sudah bekerja, dua kakak perempuanku yang kembar juga sudah kerja, aku sebentar lagi menempuh ujian nasional dan harus lulus.
Kini kita telah dewasa
Hati ibu mesti dijaga
Jangan jadi anak durhaka
Kasihnya ibu membawa ke surga
Hari berganti bulan dan tahun berganti. Aku beranjak dewasa, ibu menuju masa-masa perak rambutnya. Sekarang aku sudah kerja. Tapi bukan berarti ibu tak punya arti. Saat pulang kantor, ia akan setia mendengar kisah suka dan dukaku. Emosinya akan terbawa bila mendengar kisahku. Kalau malam tiba, tepat sekitar sepertiga malam percikan air muka sujud dalam tahajud akan membasahi raganya. Aku yakin inilah obat kesuksesan kami selama ini.
Aku, Brigadir Budi Santosa. Dilahirkan dua puluh delapan tahun lalu, hidup dalam empat bersaudara. Tahun depan aku melaksanakan setengah dien dalam akhir 2009. Aku sering menyerahkan sejumlah gajiku untuk ibu. Sayup kudengar kisah kenangan kecil bersama Heri dari bibir tipisnya. Ibu tahu benar bahwa susu yang diberikan pada anaknya bukanlah susu biasa. Ibu cuma bisa berharap, anaknya tetap bahagia walau hanya dengan susu tajin.
Benang Merah antara Aku dan Pak Budi* by Tan Han Un
April 5, 2008
Subuh ini sudah pagi. Telpon genggam terpaksa kumatikan karena pak Budi sudah ngantuk. Pagi ini aku harus ujian sekitar jam delapan. Sedangkan pak Budi harus membanting tulang. Tiga bulan, kami tukar pikiran. Aku menemukan kedewasaan masa depan dalam genggaman seorang pak Budi.
“Wis ngantuk durung nduk,”
Genduk panggilan sayangnya padaku. Pak Budi belum pernah sekali pun memanggilku dengan say atau yang apalagi honey dan sweety. Pak Budi adalah seorang yang seperti itu saja. Selama ini tak pernah berniat sekali saja aku merubahnya. Cukup pak Budi seperti itu saja. Aku sudah suka. Aku tidak bisa merubah sesuatu sekalipun dia orang tersayangku.
Benang merah antara aku dan dia adalah cerita yang tak disangka. Aku tak berhak mengatakan ia jodohku. Aku cuma berkewajiban untuk menjaganya. Karena aku tak boleh meminta, aku cuma boleh memberi secara sederhana.
Terhitung awal 2008, ia menghiburku. Menenangkan pikiran yang kusam. Mencabut segala uban kekesalan. Berharap, ia bisa menumbuhkan rambut yang kuat. Pak Budiku tercipta dari mukjizat yang nikmat dan tertunda. Ia dicurahkan segala padaku. Pak Budi bilang, ia tak suka dipuji. Pujian itu berat. Pujian itu beban. Itu menurutnya.
“Aku tak punya harta. Aku ya begini-begini aja. Kamu mau apanya? Kowe arep njaluk opo. Aku, gaweanku mung koyo ngene.”
“Aku kan butuh wonge,” tandasku.
“Hidup jangan makan cinta. Hidup itu adanya susah-susah dulu, baru seneng belakangan.”
Pak Budi tampak manis dengan kulit gelapnya itu. Terlihat jelas sisa-sisa keletihan semalam usai ia kerja. Ia sempatkan sarapan pagi bersamaku di warung soto langganan. Masih rapi dan gagah dengan seragamnya itu. Sesekali ia terlihat sibuk membenahi jaket. Pak Budi takut identitas di tasnya kelihatan. Jadi ya terpaksa sibuk-sibuk benerin ini itu. Aku makan tempe balut tepung yang tinggal satu. Lauk satu-satunya di warung itu.
Selesainya kami makan, pak Budi ambil dompet. Ia sibuk mencari uang kecil. Dari saku jaket hitamnya, ia keluarkan amplop putih terlipat rapi. Kulihat ada beberapa uang di sana. Ya, jatah kerja tadi malam. Kami pun keluar, ambil motor masing-masing. Meluncur.
Apa disangka, aku ke rumah bapaknya. Rasa tak karuan bergerilya jadi satu. Keringat dingin pelan-pelan penuhi badanku, satu-satu. Siap tak siap, aku harus siap.
“Yoh!”
“Tenan kwi…”
“Ho’oh! Tapi mengko aku njaluk salake lho.”
“Hayoh.”
Sederhana dan sesuai dengan yang ia ceritakan.
“Omahku ki arep ambruk. Cagakan. Opo yo kowe gelem?”
“Ckakak…ckakak…,” geli aku mendengar penjelasannya.
“Wis cagakan, arep ambruk, cagake we kayu jati meneh,” pak Budi bikin aku gemes.
Pak Budi mengajak jalan-jalan ke kebun salaknya. Seharusnya romantis, tapi pak Budi tak bisa romantis. Karena pak Budi yang kukenal adalah pak Budi yang tegas. Jalan kaki pakai sandal melly, petik salak sana-sini, dipegangnya tanganku waktu lewat sungai kecil, nglewatin luwing. Mimpi apa kemarin, aku bisa sampai ke rumah itu.
*Fur mui inspeerutiun, huph ya 4eve, huph uwe dreem cum tru, gu gu gu gu…!!!
Mamaku Menangis ketika Idul Adha
April 1, 2008“Mama tu sebenarnya nyesel punya bojo”.
Mama cantik. Mama adalah mama yang rajin masak buat keluarga. Mama cantik diumurnya 51, walaupun cuma papa yang tau pasti, kapan mama ulang tahun. Mama terlihat cantik, dan mama akan tetap selalu terlihat cantik.
“Ade mo nonton quickie?”
“Terserah maz. Kita dah beli2 makanan.”
“Ywdah.” Lalu sore pun menjemput bau hujan…
Mata sembab mengawali bangun tidurku. Tapi tidak untuk mama. Mama kenapa nggak nangis? Tidurku semalam nyenyak. Ya, aku habis **** buat keluarga. Aku memang harus kaya gitu. Karena untuk keluarga. Aku benci dengan ****. Kenapa **** bikin sakit mama? Kenapa? Mama nggak jahat. Mama baik. Mama terlalu baik. Kenapa! Semalam kita sahur bareng. Tapi? Ah!
Apa mama menangis ketika aku bilang **** di depan papa dan kakak2? Enggak. Apa mama menangis ketika aku menangis? Enggak. Apa mama menangis ketika aku bertanya **** ? Enggak juga. Mama menangis ketika shalat Idul Adha.
Ya Allah, ma… Menangislah di pelukanku… Memang berat. Aku harap ini pun yang terakhir buat kita, mama. Mama pun menangis dalam Idul Adha. Itu mamaku.
Umurku waktu itu masih cantik by Tan Han Un
April 1, 2008
Umurku waktu itu masih cantik. Dengan kuncir dua, aku siap lari sana-sini. Heran ini itu. Aku waktu itu masih dipanggil Susan. Lantas sekarang aku harus sudah menikah. Bayanganku dengan segala cita-cita pun berantakan. Aku masih kecil dan masih pingin hepi. Lalu kemana cita-citaku nanti?
Aku masih pingin pakai baju cantik. Warna disana-sini. Aku masih pingin sendirian di kamar. Aku masih pingin pakai high heels tanpa halangan hamil. Aku masih pingin cari teori banyak lagi. Masak pun belum bekal banyak teori. Akan kukemanakan setahun entar?
Cintaku adalah pendewasaanku. Sekarang di 21 tahun, harus habiskan lajangku dalam setahun. Gila! Kemana cita-cita bagusku? Tiba-tiba harus menggendong anak. KKN, kanan kiri nuntun. Ditinggal bapak yang selalu sibuk dengan kerja pada negara. Aku akan bahagia dengan cita-cita yang bagaimana? Ha?
Sekarang, kedewasaan adalah keharusan. Bayangkan, setahun aku harus dewasa. Aku terpaksa berpura-pura sajalah. Biar dikira dewasa. Aku yang menyukai warna jingga harus menikah dan membahagiakan suaminya.
Aku adalah Sumekar Tanjung. Lahir 14 Juli 1987 di rumah sakit entah. Dan menjadi paling bahagia dalam keluarga. Sebagai perempuan biasa, aku selalu terpojokkan patriarkhal. Tak bisa lari kesana kemari cuma gara-gara satu hal. Aku yang selalu butuh sepi dalam kenyamanan. Tak pernah hendak berpikir akan kubawa kemana ilmuku entar.
Mama tak pernah mengajarkanku teori komunikasi. Mama juga mengaku, aku harus pintar dan pandai. Mama selalu cantik dalam umurnya kesekian. Mama yang pernah bilang,”Mama nyesel nikah.”
Aku tak kaget untuk dengar kata-katanya lagi. Sudah jadi sarapan harian. Mama hanya bahagia bila bisa bahagiakan keluarga. Aku meneruskannya?
Alu lahir dalam bentuk kemapanan mama. Mencoba mencari bentukNya dalam segala rupa dan warna. Cinta tak cukup aku kejar sekejap. Tapi cinta adalah tiba-tiba yang terpaksa, tanpa rasa. Dia jahat, pemaksa tiba-tiba.
Aku yang tubuhku akan kuberikan pada suamiku. Sepertinya aku dibodohi. Aku harus bekerja dalam umur kesekian, tanpa kedewasaan.
Perang batin kini kerap menyiksa. Aku masih pingin berbagi puisi bersama sebaya. Tapi aku harus hentikan stop pada satu rima di tahun depan. Aku seperti malaikat yang memejamkan mata patriarkhal. Aku sempan menjadi segala dalam kehancuran akal.
Semalam, aku tak bisa tidur siang. Rasa haruku cukup menantang. Dimana-mana selalu kehentakkan kaki mencari pasal-pasal. Sebentar lagi aku harus hamil dan menantang panci-panci bau arang.
Aku lahir sebagai Sumekar Tanjung. Pada 14 Juli 1987. aku menjadi penting dan bahagia dalam keluarga. Merasa hangat dalam tawa patriarkhal. Aku adalah sebagai Sumekar Tanjung. Lahir dengan keberuntungan pada empat belas. Tak jelas apa yang bisa membahagiakanku entar. Aku harus menata masa depan dalam harapan. Aku menjadi suatu senantiasa.
Sudah jam sembilan pagi lewat sepuluh malam. Mataku kini hancur dalam terpaan hitam. Aku harus menjadi ibu secara tiba-tiba dan terpaksa.
Aku lahir sebagai Sumekar Tanjung. Aku menjadi penting dalam keluarga. Dan aku terpaksa meluruskan cita-cita dalam harap yang terpaksa.
Warung Burjo, pada 31 Maret 2008.
Alhamdulillah, Abis Sahur Aku Bisa Ngetik Lagi
March 25, 2008Sekitar jam ini.
Alhamdulillah, abis sahur aku bisa ngetik lagi di jam ini. Masih dikasih kesempatan bagus buat puasa lagi. Berita bagus ini aku dapet dari do’a tiap hari. Kalo tiap sahur kayak gini ya lumayan juga buat cicil-cicil. Tapi buat yang ini nggak pake bunga kok. Cuma pake jujur. Hasilnya nanti bakal mujur. He… Lebaran juga belum tentu aku balik kampung. Aku nggak punya kampung. Aku cuman punya bingung. Dan lagi-lagi : he…
Imsak hai! Tarawih halo! Jemput bintang sekarang, mumpung masih minum angin malam. Jangan ntar-ntar. Takutnya nanti mereka gelagapan. Sebelumnya matikan dulu jam weker sahurmu. Jangan baru bunyi, malah kamu baru ke sini. Bau ramadhan nggigit angkasaku, dan juga-mu. Sebenernya : tak maksud aku bilang gitu. Karena sebenernya lagi : aku cuma gak tau. Apa mulutku musti gagu buat bilang kayak gitu?
Ah! Nggak jelas.
Kemarin pagi, aku ketemu dengan sebatang pulau.
Nampaknya dia sudah gendut dari yang
kulihat dulu.
Dari selaput kirinya meleleh seujung daratan.
Terjal tapi aman.
Sesampai pertemuanku itu,
kebetulan penobatan kepala suku berjalan
sentausa.
Dari udaranya, mereka punya logika
yang bagus buat mecahin perkara,
menghitung matematika bukan pakai hasta,
tapi pakai lupa.
Lama-lama moralku percaya dengan
loncatan kaki hatiku sendiri
aku pelan-pelan meninggalkan pulau logika itu.
Jujur asal jujur,
pingin aku tiruin lantas aku pamerin.
Sepertinya udah siap diedarkan,
dan tinggal dibikin judulnya.
Mungkin otak.
